
Beberapa saat sebelum penjemputan.
Telepon genggamku berdering, sebuah panggilan dari seorang kawan dan guru di masa lalu. Khidr si pria tua memintaku menjadi pendamping bagi murid barunya bernama Elvarette Shiro. Seorang gadis tengkes bak boneka porselen dengan rambut merah panjang berhias penjepit berbentuk bunga lili merah yang mekar. Wajahnya sedikit lonjong, bibirnya kecil nan tipis seperti gadis berumur 14 tahun. Sedangkan matanya tidak terlalu sipit maupun terlalu lebat, bola matanya jernih berwarna hijau kiwi.
Khidr menghubungiku tiga kali, pertama dia memberitahukan perihal Elvarette yang tengah mencari ketenangan diri. Mencari pelindung yang benar-benar melindungi dari bahaya maupun kebimbangan. Panggilan kedua adalah deskripsi soal murid kecilnya yang punya keunikan pribadi dan karakter ingin tahu. Panggilan terakhir adalah panggilan formalitas tentang kedatangannya memakai kereta hitam yang sama seperti aku dahulu.
Ini kali kedua, menjadi pendamping bagi mereka yang tengah mencari cahaya. Yang pertama adalah temanku sendiri, dan yang kedua adalah seorang bocah yang terjebak dalam masa lalunya yang kelam dari lembah prostitusi. Aku berpikir kurang ajar sekali mereka yang menjebloskannya ke dalam kegelapan macam itu, namun kita tidak tahu rencana Tuhan yang sebenarnya. Mungkin saja dia akan menjadi penuntun jalan sebagaimana aku saat ini.
Kereta yang kutunggu masih belum tiba, tetapi hawa kehadirannya mulai terasa dari jarak tiga kilometer dari stasiun tempatku menunggu. Mungkin saja dibalik kabut pekat ini akan tiba kereta hitam. Jadi bersabar adalah kudapan yang harus kulahap dulu sebelum menyantap menu utama. Kabut itu tabir, namun tabir tak bisa menyembunyikan kejutan lebih lama.
Lampu di stasiun berkedip tanda mulai tak stabil, sepertinya ada ada pesan yang akan tiba sebentar lagi. Tak lama kemudian telepon genggamku bordering kembali, ku buka dan tertulis nama pak tua memanggil.
“Halo, Arafis di sini?”
“Halo Arafis, apa kabar dirimu? Apa teman yang kau tunggu sudah tiba?”
“Kau ingin membuatku jadi patung hidup apa pak tua? Aku sudah menunggu lama dari tadi.”
“Maaf kawan lama, harap maklum bila menunggu kereta kelas ekonomi. Oh iya sepertinya aku ada sedikit pesan untukmu. Kira-kira kau masih ingat dengan temanku yang bernama Hallaj?”
“Iya, aku masih ingat dengan orang yang selalu membuatkanku sup jamur merang.”
__ADS_1
“Bagus, kira-kira kau bisa membantuku untuk mengajaknya ke temanku itu?”
“Aku sih tidak masalah, tapi apa dia ada di rumahnya?”
“Dia ada di rumahnya Arafis, dia selalu menunggu orang-orang yang tengah tersesat seperti dirimu dan Elvy.”
“Tapi kalau boleh tahu, apa dia sudah siap dengan tempat ini? Apa dia benar-benar sudah…”
“Belum, dia hanya tertidur untuk waktu yang lama. Hingga tugasnya telah selesai Arafis.”
“Tapi selisih antara aku dengan dia begitu jauh, apa dia tidak canggung denganku yang berasal dari era yang berbeda?”
“Baiklah kalau begitu, jadi aku tidak perlu khawatir lagi.”
“Satu lagi, tolong ajarkan dia untuk beradaptasi dengan tempatmu itu. Dia masih belum tahu apa-apa tentang pertengahan alam.”
“Tenang saja, akan kuajarkan dia seperti adikku sendiri Khidr.”
“Sepertinya kalian akan cocok sebentar lagi, mungkin sebentar lagi kereta yang kau tunggu akan tiba kawan.”
“Kau benar, aku sudah mulai merasakan keberadaannya kian dekat.”
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu, selamat menjalankan tugas kawan.”
“Ok!”
Telepon telah terputus, aku mulai merasakan keberadaannya kian dekat. Tak lama kemudian mulai nampak lokomotif keluar dari kepungan kabut. Laju kereta mulai berhenti. Kabut putih mulai pergi dari jendela kereta api. Pintu kereta terbuka, dan diriku yang mengenakan jaket hitam menyambut kawan perjalanan ku, seorang gadis kecil berdiri tepat di depanku.
“Selamat datang kawanku, Elvy!”
“Ohba, Kau menungguku di sini?”
“Tentu, Si Tua menyuruhku menjadi pemandumu. Ayo, ada seseorang yang harus kita temui.”
“Siapa?”
“Orang yang ada dalam bukumu itu.”
Dia memanggilku dengan nama belakangku, bagiku tak masalah. Entah aku jadi teringat dengan kawanku yang sama persis seperti dirinya di alam dunia dulu. Yang pasti aku harus menjaganya sepenuh hati dan sebaik mungkin agar kelak ada penggantiku menjaga mereka yang tersesat di jalan yang sesat.
__ADS_1