Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 30: Komunikasi


__ADS_3

Pov: Elvarette Shiro



Kafe tempat kududuk saat ini cukup nyaman, walau sedikit bising karena lalu lalang kereta. Gambar siluet seekor bebek dan paus biru mini menjadikannya tempat yang paling mencolok dari semua tempat. Dinding kafe yang cenderung berwarna putih gading semakin menonjolkan siluet yang berwarna kuning itu. Ohba yang telah membantu membawakan koperku langsung menaruhnya ke dalam kafe dan duduk di dekatku.



"Lain kali bawalah koper yang lebih kecil saja saat berpergian. Sudah tahu kalau kau ini pendek masih saja nekad bawa koper yang besar!"



"Kau kenapa sih bilang aku pendek? Padahal aku tidak terlalu pendek sekali, hanya kurang tinggi saja!"



"Itu sama saja!!!"



"Lalu kita di sini mau menunggu apa?"



"Menunggu rekanku, katanya dia akan segera datang."



"Ngomong-ngomong, aku suka dengan tempat ini yang nampak cantik dibeberapa sudutnya."



"Kau akan semakin takjub dengan tempat ini setelah kau tahu keistimewaannya."



"Keistimewaan? Keistimewaan apa Ohba?"



Kata Ohba, kweki & wakwak cafe adalah tempat yang unik. Kemana pun kami pergi pasti akan menemui tempat ini di dekat stasiun. Entah kita di Berlin, Kairo, Surabaya, London, maupun berbagai tempat di penjuru dunia, tempat ini akan selalu ada. Konon tempat ini akan mengikuti kemana pun kami bertugas.



Di sini merupakan tempat yang tak terpengaruh atas batasan ruang dan waktu. Kata Ohba, tempat ini ada agar para penjaga bisa berbaur dengan lingkungan sekitar tanpa ada yang menyadari. Tampilan yang bisa menyelesaikan kondisi ini sangat cocok untuk tempat transit menunggu datangnya kereta api hitam. Dahulu Ohba sering menggunakan tempat ini sebagai rumah kedua saat menjalankan tugasnya. Dia bercerita pengalamannya saat masih menjadi penjaga ketiga.



Aku yang mencermati pengalaman yang dialaminya, rasanya apa yang dilakukannya dilakukan atas keinginannya sendiri, tidak ada keluhan maupun penyesalan. Bagi Ohba, pengalaman menjemput orang-orang yang akan pergi ke alam selanjutnya itu penuh hikmah dan pembelajaran hidup. Rata-rata orang takut akan kematian karena tak rela melepaskan apa yang didapatinya di dunia.



Masih kata Ohba, dunia adalah tempat ujian bagi keturunan Adam. Bagi orang yang terpancing oleh godaan dunia, apa yang dikejar selama hidup di dunia adalah tujuan. Mereka menganggap harta, jabatan, dan fanatisme adalah apa yang membuat mereka harus hidup selamanya. Padahal tidak, semua yang didapatinya itu hanyalah tititpan semata.



Dan rata-rata, mereka yang demikian akan sulit untuk diajak kembali maupun dijemput paksa sekalipun. Oleh sebab itu, ada protokol khusus mengenai orang-orang seperti itu. Ohba menjelaskan padaku apabila seseorang yang kita jemput menolak, maka aku harus menuliskan nama orang tersebut dan akan ada petugas khusus yang selalu siap bertugas menjemput paksa. Biasanya mereka ada di gerbong kereta paling belakang dan ada ruang khusus seperti tempat kurungan.



Itu yang biasa dihadapinya bila bertemu dengan orang yang tak mau mati. Akan bagi mereka yang telah siap menjalani hidup dan ingin bertemu dengan sang Cahaya. Mereka telah siap menanti kami dengan ikhlas. Dan orang-orang seperti ini yang sering menjadi kawan diskusi maupun berbagi pengalaman semasa hidupnya. Mereka mendapat pelayanan sebagaimana kami di kereta. Mereka akan dilayani sesuai dengan pelayanan mereka pada sesama selama di dunia.



Saat kami berbincang cukup serius, muncul pramusaji perempuan berpakaian biru toska dan celana panjang berwarna krem muda. Wajahnya memancarkan terang layaknya rembulan dengan bibir yang selalu tersenyum. Dia sangat cantik dan begitu ramah pada kami berdua, mata dan hidupnya lebih mirip seperti orang Asia barat atau utara. Rambut merahnya juga hampir mirip sepertiku, sama-sama merah cerah namun dia cenderung bergelombang.



"Hei, lama tak jumpa Arafis, bagaimana kabarmu? Apa kau ada tugas sekarang?" Kata si pramusaji itu.



"Seperti yang kau lihat, aku selalu bertugas dan sekarang tugasku menemani gadis pendek ini sebagai penjaga ketiga."



"PENDEK?"



"Kau selalu jahil pada juniormu, oh iya siapa namamu gadis cantik?"



"Namaku? Namaku Elvarette Shiro, tapi kau bisa memanggilku Elvy saja. Dan kakak?"



"Kau bisa memanggilku Kana, berarti kau sekarang menggantikan Saki sebagai penjaga ketiga?"



"I... Itu benar kak."



"Syukurlah, kini kita akan sering bertemu di kafe ini. Oh iya, saat ini ponselmu tengah dalam perjalanan ke sini, mungkin sambil menunggu kalian bisa pesan makanan atau minuman dulu?"



"Aku pesan aku pesan teh hijau saja dan roti sambosa."



"Kalau kau Elvy?"



"Aku pesan susu coklat saja, apa itu ada kak?"



"Tentu saja ada, di sini selalu ada kecuali bila tidak ada?"



"Hah?"



"Jangan kaget begitu, bila kau di sini akan sering berjumpa dengan makhluk aneh sepanjang hari."



"Kak Kana, apa Ohba selalu begitu?"



"Sering sekali."



"Tuh kan, kau ini selalu jahil pada semua orang."


__ADS_1


"Tidak apa, justru kami kangen dengan celotehannya itu."



"Jadi, dimana Alice?"



"Dia dalam perjalanan, sekalian ambil bumbu dan barang yang kau pesan."



"Alice? Siapa dia?"



"Dialah orang yang akan membantumu di sini, dan kini dia adalah rekanmu."



***



Jam menunjukkan pukul 09:45 waktu setempat. Masih terlalu pagi bagi orang sekitar. Namun bagiku ini sudah siang. Perjalanan panjang kami membuat perut kembali lapar. Setidaknya di sini ada menu makanan. Akan tetapi, sampai sekarang aku masih bingung mau memesan apa. Terlalu banyak menu yang asing bagiku. Namus aku tertarik dengan maskot kafe ini, seekor bebek dan paus biru mini.



Dua maskot itu seakan jadi daya tarik tersendiri di tempat ini, terutama di bar tempat kasir tersebut. Boneka bebek dan paus biru itu seakan menyapa siapa saja yang datang kemari. Daripada aku bingung dengan menu yang ada, mungkin dengan sedikit berjalan-jalan di sekitar kafe bisa membantuku menemukan apa yang ingin kupesan.



"Kak kana, bolehkah aku lihat-lihat tempat ini? Mungkin ini bisa membantuku menemukan menu yang akan kupesan?"



"Silahkan Elvy, kau boleh lihat-lihat sembari menunggu kak Alice dan Emily membawa belanjaan."



"Terima kasih kak!"



"Oh iya Arafis, apa kau punya kisah menarik untuk kami?"



"Aku selalu menyimpan kisah menarik untuk kalian semua, tapi sebelumnya aku buatkan teh hijau dahulu."



"Tumben kau tidak memesan kopi?"



"Karena orang yang membuat kopinya tengah mengambil pesananku, kalau kau yang membuat kopi takutnya tidak enak dan membuat marah pengunjung baru. Ingat, ada kejadian di dimensi lain soal kopi, karena yang membuat kopi tidak enak nyaris menghancurkan dunia oleh pelanggannya yang seorang ilmuan jenius."



"Kau kira aku ini alien yang membuat kopi! Kau ada-ada saja."



"Ya mungkin saja, kalau begitu buatkan teh hijaunya!"



"Kau ini, masih saja tidak berubah."




"Terserah kau saja, aku akan buatkan teh untukmu. Oh iya untuk sambosanya masih diambilkan kak Alice."



"Ya sudah kalau begitu."



Saat Ohba dan kak Kana membincangkan sesuatu yang absurd, aku tertarik dengan dua maskot kafe ini. Aku mendekatinya dan meraba boneka tersebut terutama yang bebek. Saat kupegang boneka tersebut, terdengar suara pria asing yang nadanya berat. Entah dari mana asalnya.



"Hei Nona, kau sudah menemukan menu yang kau cari?"



"Siapa itu?"



"Aku di sini!"



"Dimana?"



"Di bawahmu Nona!"



Sontak aku kaget, paus biru mini itulah yang berbicara padaku. Baru kali ini aku melihat boneka yang bisa berbicara layaknya orang. Lalu kudekatkan wajahku ke boneka paus biru tersebut untuk mengamati lebih jelas. Lalu muncul suara lain, kali ini suaranya cempreng sedikit serak. Suara itu menyuruhku menurunkan boneka bebek kembali ke meja kasir.



"Hei, kau bisa menurunkanku? Aku sedang jaga kasir tahu!"



"Hah, kau juga bisa bicara?"



"Ya tentu saja."



"Sebenarnya kalian ini apa?"



"Kau pasti orang baru ya? Perkenalkan namaku wakwak si paus biru. Dan dia..."



"Aku kweki, bebek paling eksotis nan menawan di tempat ini, ngomong-ngomong siapa kau ini? Pembeli? Sales kopi? Sales mesin kasir? Tamu? Tukang ledeng? Tukang dekorasi? Penumpang kereta? Petugas kereta? Cleaning service? Tukang parkir? Loper Koran? Tukang listrik? Atau..."



"Hei kweki, jangan kau borong semua! Bagaimana dia mau menjelaskan siapa dirinya kalau semua kau sebutkan?"

__ADS_1



"Eh... Aku... Aku hanya seorang gadis." Jawabku sedikit bingung.



Ketika hendak kujelaskan siapa diriku, kak Kana datang dan menjelaskan siapa diriku sambil mengambil toples, teko dan cangkir teh. Dia menjelaskan diriku sebagai penjaga ketiga yang baru dengan ramah dan begitu lembut nadanya.



"Dia penjaga ketiga yang baru kweki, wakwak. Dia akan jadi rekan kita di sini."



"Hah? Bocah ini penjaga ketiga? Yang benar saja?" Ujar kweki.



"Sebenarnya, usiaku 21 tahun."



"Tapi karena kamu pendek?" Cetus kweki.



"Pendek? Itu karena diriku kurang gizi makanya aku jadi pendek seperti ini, he..he..he.."



"Lalu kemana penjaga sebelumnya? Apa dia pindah?"



"Ya ampun, kau ini bertanya atau tengah mengitrogasi sih?" Sanggah wakwak.



"Aku kan hanya bertanya saja wakwak."



"Tapi pertanyaan yang kau sebutkan seperti mau mengintrogasi saja! Elvy, maafkan kawanku ini ya! Kadang dia sedikit berlebihan saat bertemu orang baru, tapi aslinya dia baik kok. Buktinya dia jadi penjaga kasir."



"Itu karena Emily ikut dengan Alice, wakwak!"



"Kalian berdua ini lucu sekali!"



"Terima kasih Nona Elvy, senang bisa berkenalan denganmu."



"Kwak... Selamat datang juga di sini. Jangan kaget dengan kehebohan yang akan sering terjadi di sini."



Tak lama kemudian, ada seseorang yang masuk ke kafe, seorang gadis kecil berpakaian serupa dengan kak Kana namun berupa gaun. Dia masuk membawa kantong kertas cokelat yang cukup besar. Rambutnya hitam mengkilap cenderung keunguan bergelombang. Kulitnya cokelat muda mulus khas orang amerika latin. Matanya biru cerah layaknya batu safir. Wajahnya penuh keceriaan dan senyumnya menenangkan hati.



"Selamat pagi semua! Kak Kana, apa tamu yang ditunggu kak Alice sudah tiba?"



"Sudah, mereka ada di meja nomer tiga. Oh iya dimana kak Alice?"



"Dia masih di dalam mobil kak."



"Dan kau? Kau pasti salah satu tamu yang dimaksud itu! Perkenalkan, namaku Emily Sanchez. Kau bisa memanggilku Emily saja, dan kalau boleh tahu namamu siapa?"



"Namaku Elvarette Shiro, panggil saja Elvy. Apa kau teman dari bebek ini?"



"Kweki? Tentu. Dia temanku dan semua yang ada di kafe ini. Dia sedikit cerewet tapi baik hati kok."



"Hei, kenapa aku tidak disebutkan juga?" Protes wakwak.



"Oh iya, maaf aku lupa wakwak. Dan ini wakwak, rekan kerja kami yang paling rajin di sini."



Selang beberapa lama, muncul perempuan tinggi membawa kantong yang sama seperti yang dibawa Emily dan totebag kelabu di tangan satunya. Aku hendak menolong membawakan bawaannya namun sudah didahului oleh Emily. Kukira hanya aku saja yang berasal dari asia timur, rupanya dia juga sama saat bertemu.



Warna mata jingganya yang cenderung sipit namun sorot matanya tajam. Kulit putih dan tinggi bak seorang peragawati namun berpakaian seorang koki tanpa topi. Rambut putih sebahu semakin menegaskan jika dia sosok mandiri bila aku nilai. Entah tapi itu yang terlintas di benakku.



"Pagi semua! Apa kawan lamaku telah tiba?"



"Kawan lama kita ada di kursi nomer tiga kak Alice! Dan dia juga membawa kawan barunya juga." Jawab kak Kana.



"Jadi, apa kau yang bernama Elvarette Shiro?"



"Eh... Iya."



"Oh berarti aku sudah benar mengambil barang pesanan di toko tadi!"



"Memang ambil apa kak" Tanya kak Kana.



"Karena dia orang baru di sini, jadi dia perlu SIM card untuk ponselnya. Oh aku sampai lupa. Namaku Alice Yuki, aku temannya orang yang duduk di sana. Ngomong-ngomong, apa kau bawa bola bintang?"



"Bola bintang? Oh iya, aku membawanya kak."

__ADS_1



"Bagus, karena aku butuh itu untuk membuatkanmu SIM card."


__ADS_2