Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 29: Klandestin


__ADS_3

Pov: Elvarette Shiro



Waktu adalah perasaan


Akan tetapi


Perasaan tidak punya batas



Kereta api hitam melanjutkan perjalanan. Perjalanan kami akan sampai di tujuan baru, tempat awal memulai pekerjaan baru. Ohba akan menjadi mentor bagiku dalam menjalankan tugasku pertama kali. Kami kembali ke alam manusia, alam yang telah memberiku pengalaman ruhani. Kali ini aku dan Ohba turun di stasiun bumi, tepatnya di negeri yang dikenal sebagai para insinyur mesin.



"Elvy, kini kau telah menjadi penjaga ketiga yang bertugas memanggil kembali jiwa manusia ke alam asal." Ujar Ohba



"Kalau boleh tahu, bagaimana caranya aku mengajak mereka?"



"Sebenarnya, itu sudah ada dalam bukumu. Namun nampaknya kau merasa bingung dengan bahasanya, benar tidak?"



"Tidak perlu bingung, kau ubah bahasanya sesuai dengan apa yang kau paham. Kadang bahasa langit berbeda dengan bahasa bumi. Namun akan kuberi sedikit kisi-kisi tentang tugasmu. Kau akan mencabut nyawa orang yang sudah waktunya kembali, namun kau harus tahu latar belakang orang yang akan kau cabut itu. Kau bisa berpegangan dengan buku catatan milik Tuan Hallaj atau langsung observasi target yang akan kau cabut."



"Dari sini aku mulai paham Ohba."



"Bila ingin mengubah bahasa, caranya sama seperti membukanya, ucapkan alep dan ganti bahasanya. Oh iya satu lagi, nama dan data dari orang yang kau jemput akan selalu tertulis di dalam bukumu secara otomatis. Jadi bersiap siaga dengan buku bawaanmu."



"Terima banyak sudah memberi petunjuk Ohba, lalu kita akan turun dimana?"



"Kita turun Berlin. Oh iya ada satu hal yang kelupaan."



"Apa itu?"



"Aku belum memberimu ponsel, sebentar aku akan memesankannya khusus untukmu."



"Ponsel?"



"Iya, ponsel."



"Tapi aku tidak membawa uang lebih Ohba? Bagaimana aku bisa membeli ponsel?"



"Kau bicara apa pendek? Yang mengatakan kau harus menggantinya juga siapa? Ini aku menghubungi pak tua Khidr untuk membelikanmu ponsen sesampainya di Berlin. Lagipula, saat kau selesaikan tugas pertamamu akan mendapat bayaran berupa koin emas sebanyak satu keping yang akan muncul sendirinya di balik bukumu, anggap saja itu seperti transfer tapi berupa koin emas."



"PENDEK!!!"



"Tidak perlu berteriak seperti bocah, walau penampilanmu memang seperti bocah."



"Kau selalu saja menggodaku, aku ini sudah menjadi wanita tahu!"



"Iya-iya, kau wanita yang bertubuh bocah. Tapi sebelumnya aku akan mengirim pesan dulu, jadi jangan ganggu dulu Elvy!"



"Jadi, paman Khidr yang membayarnya? Lalu uang yang aku bawa ini bagaimana?"



"Itu uang yang bisa kau gunakan di alam manusia. Sedangkan uang koinmu bisa ditukarkan dengan uang di alam manusia atau membeli sesuatu di alam selanjutnya."



"Hemm... Baiklah aku sudah paham sampai sini. Lalu orang yang harus aku jemput apa ikut dengan kita naik kereta ini?"



"Sudah pasti, kau hanya perlu mengajaknya naik ke kereta api ini. Bila dia bisa diajak dengan cara baik akan menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan. Namun bila kau dapat target yang sedikit menyebalkan atau bahkan menolak ikut, kau bisa mengajakku maupun kau catat saja namanya di bukumu, nanti dia akan diseret oleh petugas yang ada di dalam kereta ini. Dari sini sudah mengerti?"



"Sangat mengerti dan sangat terperinci."



"Bagus kalau begitu, untuk debut pertamamu aku akan menemanimu. Kebetulan aku ingin memperkenalkan rekanku padamu bila ada sesuatu atau butuh sesuatu."



"Rekan katamu? Memang ada lagi selain kak Saki?"

__ADS_1



"Itu beda, namun mereka bisa membantu kita sebagai penjaga yang tengah bertugas di sini, mereka adalah orang-orang yang terpilih sebagaimana Pak tua Khidr maupun tuan Hallaj di alam arwah."



"Rekan ya!? Kira-kira siapa mereka? Apa..."



"Kita sudah sampai Elvy."



"Wow, cepat sekali!"



"Ingat Elvy, waktu adalah perasaan akan tetapi perasaan tidak punya batas."



Kami turun dari kereta api hitam. Jujur, baru kali ini aku bisa keluar negeri. Sesuatu yang tidak mungkin bagiku yang hidup dalam ketidakpunyaan. Melihat kereta yang kami dengan stasiun tempat kami turun begitu kontras. Antara kereta klasik dan stasiun futuristik memberi kesan jarak yang begitu jauh. Namun bukankah ini bagus?



Di sana nampak orang berlalu lalang sebagaimana kota besar di dunia, namun tak ada seorang pun yang melirik kami dan kereta api hitam yang gagah bersandar di pemberhentiannya. Orang-orang tidak ada yang melihatnya. Lalu Ohba menjelaskan bila kereta api hitam hanya bisa dilihat oleh mereka yang sudah siap pergi ke alam selanjutnya.



Kemudian Ohba menjelaskan bahwa kita, para penjaga memang tidak bisa dilihat oleh orang yang masih belum saatnya pergi. Hanya mereka yang siap maupun yang telah tercatat dalam catatanku sebagaimana yang diterangkan Ohba dan kak Saki. Pekerjaan kami bertiga adalah sesuatu yang klandestin, rahasia nan senyap bagi sekitar. Hanya yang telah ditunjuk yang bisa mengetahui, antara para penjaga dan orang yang telah ditunjuk.



Ohba menoleh ke kiri jalan dan menatap neon box kecil warna kuning serta memiliki siluet seekor bebek dan paus bertuliskan "kweki & wakwak cafe" dekat peron. Ohba berjalan menuju tempat tersebut.



"Pendek, ayo ikut aku ke sini!"



"SUDAH KUBILANG JANGAN PANGGIL AKU PENDEK!!!"



"Kau mau makan atau to tidak? Lagipula pesanan ponselmu juga sudah ada!"



Seketika aku hanya bisa bengong dengan apa yang Ohba bilang. Cepat sekali barang yang dipesannya. Lalu Ohba kembali ke tempatku dan menyeretku ke tempat yang dituju.



"Kau lama sekali, ayo cepat bawa bawaanmu."




"Ya ampun, kadang tidak di dunia maupun di alam arwah, perempuan selalu repot sendiri dalam..."



"Hey ayo bantu aku, kenapa malah pidato sendiri sih!"



"Iya... Iya... Akan kubantu kau."



Setidaknya bawaanku sedikit berkurang sedikit. Kami langsung ke tempat yang dimaksud Ohba, sebuah kafe yang cukup elok dipandang dimana banyak tanaman hias seperti kaktus dan beberapa bunga hias beraneka warna. Serta boneka bebek imut berwarna kuning serta boneka paus biru mini terpajang di meja kasir. Kursi dan mejanya juga cantik. Sederhana namun nampak elegan dan dekorasi lampu yang begitu natural menyatu dengan warna wallpaper yang minimalis.



"Ohba, kita di sini mau pesan makanan atau mau ambil ponsel?" Tanyaku.



"Kita akan melakukan keduanya."



"Tapi ini kan kafe, bukan konter telepon?"



"Karena itu aku mengajakmu kemari, tempat ini adalah tempat berkumpulnya para penjaga ketika bertugas di bumi."



"Apa? Maksudmu ini markas?"



"Lebih tepatnya tempat berkumpul sih, markas kita ada di alam malakut. Dan di sini aku akan memperkenalkan rekanku padamu. Jadi bila kau butuh sesuatu bisa langsung kemari Elvy."



"Jadi ini semacam pengalihan?"



"Ini kafe, bagi orang biasa akan menganggap tempat ini kafe."



"Kalau bagi kita?"



"Ini juga kafe!"

__ADS_1



"MAKSUDMU APA!!! JANGAN BUAT AKU BINGUNG??"



"Ini kafe tetapi bisa menyediakan apa yang kita butuhkan, cukup kau tunjukkan bola bintangmu dan dia akan paham kau ini siapa. Dan jangan lupa bayarlah dengan uang dari koin emas. Itu menjadi kode bagi kita."



"Lalu siapa rekanmu itu? Apa dia manusia juga?"



"Dia manusia, namun memiliki keistimewaan."



Saat kami berbincang cukup serius, muncul pramusaji perempuan berpakaian biru toska dan celana panjang berwarna krem muda. Wajahnya memancarkan terang layaknya rembulan dengan bibir yang selalu tersenyum. Dia sangat cantik dan begitu ramah pada kami berdua, mata dan hidupnya lebih mirip seperti orang Asia barat atau utara. Rambut merahnya juga hampir mirip sepertiku, sama-sama merah cerah namun dia cenderung bergelombang.



"Hei, lama tak jumpa Arafis, bagaimana kabarmu? Apa kau ada tugas sekarang?" Kata si pramusaji itu.



"Seperti yang kau lihat, aku selalu bertugas dan sekarang tugasku menemani gadis pendek ini sebagai penjaga ketiga."



"PENDEK?"



"Kau selalu jahil pada juniormu, oh iya siapa namamu gadis cantik?"



"Namaku? Namaku Elvarette Shiro, tapi kau bisa memanggilku Elvy saja. Dan kakak?"



"Kau bisa memanggilku Kana, berarti kau sekarang menggantikan Saki sebagai penjaga ketiga?"



"I... Itu benar kak."



"Syukurlah, kini kita akan sering bertemu di kafe ini. Oh iya, saat ini ponselmu tengah dalam perjalanan ke sini, mungkin sambil menunggu kalian bisa pesan makanan atau minuman dulu?"



"Aku pesan aku pesan teh hijau saja dan roti sambosa."



"Kalau kau Elvy?"



"Aku pesan susu coklat saja, apa itu ada kak?"



"Tentu saja ada, di sini selalu ada kecuali bila tidak ada?"



"Hah?"



"Jangan kaget begitu, bila kau di sini akan sering berjumpa dengan makhluk aneh sepanjang hari."



"Kak Kana, apa Ohba selalu begitu?"



"Sering sekali."



"Tuh kan, kau ini selalu jahil pada semua orang."



"Tidak apa, justru kami kangen dengan celotehannya itu."



"Jadi, dimana Alice?"



"Dia dalam perjalanan, sekalian ambil bumbu dan barang yang kau pesan."



"Alice? Siapa dia?"



"Dialah orang yang akan membantumu di sini, dan kini dia adalah rekanmu."



***


__ADS_1


__ADS_2