
Di sebuah ruangan, terdengar suara yang penuh dengan tawaan dan candaan
saat ini sedang berlangsung pertemuan antara keluarga Kimber dan Yorn
mereka telah berbincang selama berjam-jam tanpa bosan
"bwahaha dia memang anak yang jenius"
"kau sangat membanggakan anakmu itu hahaha"
"Ferin adalah anak yang berbakat bahkan di umurnya yang sekarang, dia bisa mengalahkan tiga prajurit di keluarga kami secara bersamaan"
saat ini mereka membicarakan tentang bakat dan kemampuan masing-masing anak mereka
Rom Yorn tampak sangat membanggakan Ferin, dia selalu dengan wajah yang bangga saat berbicara tentang semua prestasi yang di lakukan oleh Ferin walau masih berumur tujuh tahun
"putriku juga memiliki prestasi, dia telah memenangkan lomba memasak saat dia berumur enam tahun, lomba itu harusnya di selenggarakan hanya untuk anak berumur sepuluh tahun sampai empat belas tahun tetapi dengan koneksi keluarga kami maka dia bis mengikuti lomba itu dan memenangkannya"
balas Roland yang tidak kalah bangganya, mereka berdua memang sangat menyayangi anak-anak mereka sehingga hal sekecil apapun dapat mereka banggakan
saat Roland dan Rom sedang berbincang-bincang, mereka telah melupakan kalau masih ada dua orang yang saat ini sedang menahan malu mereka masing-masing
mereka adalah Ferin dan Nia, ayah mereka memang membicarakan tentang prestasi mereka tapi entah kenapa hal itu membuat diri mereka malu
"m-maafkan saya, ayah saya memang seperti itu haha" kata Nia sambil tersenyum kecut kearah Ferin
"ah ya itu bukan sesuatu yang buruk juga, dia hanya membanggakan prestasi yang kau lakukan" balas Ferin, walau Ferin berkata dengan bijak tapi terlihat di wajahnya kalau dirinya juga malu saat ayahnya membanggakan tentang prestasinya
Nia peka terhadap itu dan hanya tersenyum kecil saat melihat Ferin yang berlagak bijak tapi dia ternyata juga malu
Ferin juga peka kalau Nia menertawakan tentang kondisi wajahnya saat ini , Ferin hanya tertawa canggung sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal
tanpa mereka berdua sadari saat ini ada tiga orang yang sedang menatap mereka
mereka berdua juga peka saat diri mereka sedang di tatap, dengan bersamaan mereka mengalihkan pandangan mereka ketiga orang itu
dan terlihat Rom, Roland, Hani sedang menatap mereka dengan tatapan yang seperti menggoda mereka
"yah ini normal karena mereka akan bersama di masa depan" kata Roland sambil mengalihkan pandangannya
"hahaha bukan hal yang aneh tapi aku merasakan hal yang baru saat mereka seperti itu" tawa Rom sambil tersenyum
Hani hanya tersenyum manis sambil mengalihkan pandangannya
melihat mereka bertiga menatap Nia dan Ferin langsung membuat mereka berdua malu kembali
terlihat dengan jelas betapa merahnya wajah mereka sekarang
"sepertinya disini sangat tidak aman jika ingin berbicara haha, apakah kau ingin berjalan-jalan (berbicara) denganku di taman rumahmu?" tanya Ferin
"tentu saja" jawab Nia dengan singkat sambil tersenyum manis
Nia berdiri dari duduknya dan berkata
"maaf menganggu pembicaraan kalian tapi kami berdua ingin izin untuk pergi berjalan-jalan di taman" kata Nia sambil menunduk hormat kepada mereka setelah itu diikuti oleh Ferin untuk menunduk yang berarti 'permisi'
mereka berdua berjalan bersama sambil membicarakan sesuatu, secara perlahan mereka menghilang dari pandangan orang tua mereka dan keluar melewati sebuah pintu
"heh masa anak muda, aku sangat ingin kembali ke masa itu" kata Roland
"yah seandainya aku bisa kembali ke masa lalu maka aku akan menerima tawaran raja untuk bisa poligami" lanjut Rom sambil tersenyum kecut
__ADS_1
*tup
"kita memiliki pikiran yang sama" Roland dan Rom saling memberikan 'Toss' dengan tinju mereka
*buk
"uwakh"
"oh~ jadi kau ingin poligami" Hani yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka membuat dirinya sedikit tersinggung
dia memukul pinggang Roland dengan sedikit kuat sambil tersenyum kearah Roland
senyuman itu memang terlihat indah tapi saat roland melihat senyuman itu, dia merasakan teror dan hal yang mengerikan
seketika Roland menundukkan kepalanya kebawah
"maafkan aku" hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut roland saat ini
Rom yang melihat senyuman Hani juga merasakan hal yang sama seperti Roland
dengan sangat cepat mereka langsung merubah topik pembicaraan mereka
dan mereka lanjut berbincang-bincang sambil tertawa bersama
>Taman Keluarga Kimber
Nia dan Ferin sedang berjalan bersama-sama di taman belakang mansion Kimber
berjalan melewati bunga-bunga yang indah sambil menikmati hembusan angin yang sejuk
mereka hanya berdiam saat berjalan bersama, mereka sedang menikmati suasana yang damai ini terlebih dahulu
setelah puas berjalan mereka memutuskan untuk duduk di sebuah tempat seperti 'Gazebo' (gw gak tau namanya bangunan yang biasa ada di tengah-tengah taman T_T)
sruput demi sruput terdengar di tengah-tengah mereka yang sedang hening
saat teh mereka habis maka maid tersebut akan menuangkannya kembali sampai tuannya merasa puas
saat mereka sedang menikmati keheningan dan teh, akhirnya Ferin membuka suaranya untuk berbicara
"keluarga Kimber memiliki taman yang indah" kata Ferin sambil menatap sekitar
"Terima kasih atas pujiannya, saya menebak kalau keluarga Yorn juga memiliki taman yang tidak kalah indahnya" kata Nia dengan formal
"kami memang memiliki taman tapi menurutku Taman kami tidak seindah ini, oh dan ngomong-ngomong kau tidak perlu sesopan itu , berbicaralah seperti biasa" kata Ferin
"baiklah jika itu keinginanmu maka aku akan berbicara seperti biasa" balas Nia sambil tersenyum
"itu lebih baik haha" Ferin tersenyum canggung dan mulai menyeruput tehnya lagi
tapi setelah itu tiba-tiba suasana menjadi hening kembali dan hanya terdengar suara sruputan teh
"jadi apa menurutmu?" Ferin dengan berani membuka mulutnya untuk bertanya
"tentang apa?" tanya Nia balik
"tentang pertunangan antara kita" kata Ferin
seketika wajah Nia menjadi merah karena memikirkan hal itu
"y-ya a-aku tidak k-keberatan selama k-kau juga tidak keberatan" jawab Nia dengan terbata-bata
__ADS_1
mendengar jawaban Nia membuat Ferin menjadi malu juga, wajah mereka berdua saat ini sedang berwarna merah tomat
dan orang yang paling menderita diantara mereka tentu saja sang maid, maid itu menahan tawa dengan sekuat-kuatnya saat melihat wajah mereka berdua berdua yang sudah seperti sebuah tomat yang siap di ambil, jika dia tertawa maka dia akan dihukum
"aku juga tidak keberatan jika itu dirimu" kata Ferin mengabaikan rasa malunya
"atas dasar apa kau mempercayai diriku?" tanya Nia karena Ferin sangat gampang percaya padanya
"kau mengatakan kalau kau tidak keberatan kalau begitu maka kau sudah percaya kepadaku, karena kau sudah percaya kepadaku maka aku juga akan percaya kepadamu" jawab ferin sambil tersenyum manis
"ada hal lain juga yang membuat diriku percaya padamu, aku percaya kalau kau adalah orang yang sangat baik" lanjut Ferin
untuk beberapa saat Nia terpana dengan kata-kata Ferin dan kembali sadar
"haha kata-katamu terlalu baik" jawab Nia sambil membalas senyuman Ferin
"oh kalau aku boleh bertanya, apa cita-citamu di masa depan nanti?" tanya Ferin
Nia diam sejenak dan menjawab
"aku sebenarnya belum mengetahui cita-cita ku, karena saat ini aku masih ingin menikmati kehidupan damai ini sebelum aku masuk kedalam dunia yang sebenarnya" jawab Nia sambil tersenyum
mendengar jawaban dan senyuman Nia membuat Ferin menjadi lebih mempercayai dan mulai membuka hatinya untuk Nia
"sekarang kau yang mengatakan cita-cita mu di masa depan" balas Nia menanyakan cita-cita Ferin
"oh ya untuk cita-cita ku , aku sudah beberapa kali berpergian bersama ayahku dari suatu tempat, dan aku sudah melihat dunia sebagian kecilnya dan yang kulihat adalah sesuatu yang sangat disayangkan, orang-orang yang kurang mampu, dianiaya, dibully, disiksa, diperbudak, dan yang lainnya lagi. jadi aku memutuskan untuk menjadi orang yang membawa keadilan dan kebaikan bagi semua orang, aku akan pastikan kalau mereka akan hidup dengan layak, bukan hanya di kerajaan ini tapi di seluruh dunia, aku akan mengubah penderitaan menjadi kesenangan" kata Ferin dengan sangat panjang kepada Nia
Nia terpana dengan harapan Ferin yang sangat besar itu, tanpa Nia sadari kalau dirinya telah jatuh cinta kepada Ferin, mendengar tujuan Ferin membuat dirinya terkagum-kagum karena harapan seperti itu adalah ciri-ciri dari seorang pahlawan
"harapan dan cita-cita mu itu sangat besar dan mulia Ferin, kalau begitu aku memutuskan kalau di masa depan aku akan ikut dengan dirimu untuk membuat dunia menjadi lebih baik" kata Nia sambil tersenyum manis
Ferin sedikit tercengang mendengar kata-kata Nia, dia tidak menyangka kalau Nia ingin ikut dengan dirinya
"kau..... yakin?" tanya Ferin yang sedikit tidak percaya
"iya aku sudah membulatkan tekadku" jawab Nia dengan sangat percaya diri dan yakin
Ferin hanya tersenyum puas kearah Nia dan Nia juga membalas senyuman itu
mereka akhirnya meminum teh mereka kembali sampai habis dan kembali masuk kedalam mansion karena hari sudah mulai gelap dan sudah waktunya Ferin pulang
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Halo semua lama gak jumpa
maaf lama up karena lagi gak mood nulis
maaf kalau di chp kali ini sedikit membosankan karena cuma penuh dengan percakapan-percakapan yang membosankan
tapi tenang aja karena di next chp udah balik lagi keceritanya Firen hehe
yaudah sampai sini dulu
terima kasih udah baca chapter kali ini
mohon maaf kalau ada kata-kata yang salah ketik atau typo
sampai jumpa di next chp
bye bye all
__ADS_1
END CHAPTER