
"AHAHAHAHH...!!! AHAHAHAH!!!" Vallice tertawa puas.
"Sejak aku mendapatkan kekuatan ini, kenapa kesialan terus terjadi... Hahah... Kumohon... Aku tidak ingin memiliki kekuatan ini lagi!
Aa-aku hanya ingin kakak, Bi Miranda dan ayah ku kembali. Jika waktu bisa diputar kembali, aku akan memilih melupakan apa yang aku baca tentang Blue Rose disaat itu juga." seru Vallice.
Vallice dengan mulut yang berdarah darah menangis terus menerus, dia terus mengeluh dan menyesali apa yang telah ia pilih.
"Kumohon... bebaskan aku dari kekuatan ini...." ujarnya dengan kesedihan mendalam.
Vallice terus menangis, dia terlihat sangat menyesal dan kecewa. Dari tatapannya, terlihat mata nya menjadi bengkak dan sayu... Sepertinya dia sangat lelah dengan ini.
"Kamu tidak bisa memilih takdirmu sendiri Tuan, sekarang kau adalah Tuan ku untuk selamanya. Saya sekarang adalah bagian dari anda."
Terdengar bisikan aneh yang entah dari mana sumbernya. Vallice kebingungan mendengarnya, dia menoleh kesana kesini. Wajar bila terlihat ketakutan dan bingung, karena suara itu terdengar tanpa wujud dari pemilikan.
Si-siapa?
"Apa kamu ini, siapa kamu ini. Aku bukan Tuan mu! Aku Vallice! Vallice Albern!" ucap Vallice dengan gelisah.
"Saya selalu berada di dekat anda, anda selalu memakai saya. Anda selalu membawa saya dimana pun dan kapan pun."
Vallice menyadari bahwa suara tersebut adalah Blue Rose yang sudah terikat dengannya, ia lalu menunduk, melihat bunga itu... Yang selama ini telah melekat pada bajunya sebagai pin.
"Aa-apakah itu kk-kamu...? Blue Rose?" ucap Vallice dengan gemetaran.
"Benar, akhirnya tuan menyadarinya."
Astaga... Astaga...
"Apakah kamu ini sihir... Jahat?" ujar Vallice.
"Saya sebenarnya adalah sihir racun terkuat, paling atas diantara sihir racun teratas. Karena kekuatan saya adalah racun yang identik dengan rasa sakit dan kematian.
Kekuatan sihir saya memang kegunaan utamanya adalah untuk membunuh dan menyakiti. Tetapi, bukan berarti saya termasuk golongan sihir gelap dan sebagainya.
Karena itulah, sihir racun sering dikaitkan dengan sihir gelap. Kini, anda adalah Tuan saya untuk selamanya. Anda tidak akan bisa merasakan sakit dari semua racun yang ada dan tercipta.
Sejatinya, saya adalah peliharaan Tuan. Saya akan melindungi Tuan, untuk tingkat sihir saya sekarang ini masih dalam tahap lemah. Seiring waktu saya akan bertambah kuat kembali, jika banyak korban yang terluka dan tewas sebab racun anda."
Vallice tercengang mendengar hal itu, dia tidak menyangka jika dia harus membunuh untuk meningkatkan kekuatan. Di umur Vallice yang masih kecil, tentu saja dia tidak bisa menerima hal hal seperti itu.
__ADS_1
"Aa-apa? Membunuh? Bagaimana bisa aku harus membunuh orang...! Tidak! Itu tidak benar! Membunuh adalah hal yang jahat! Aa... aku tidak mau... menjadi... seperti mama." Vallice gemetar.
Harapan ku adalah aku bisa melindungi orang orang diluar sana dari kejamnya para pemerintah di zaman ini, termasuk ibuku. Membantu rakyat rakyat ku, dan melindungi mereka.
Bagaimana bisa aku tega membunuh? Kalau begitu, apa bedanya aku dengan mama? Aku tidak mau!
"Blue Rose... aku, tidak bisa membunuh orang... aa-atau membunuh mahluk hidup apapun!
...
Aku... bukanlah tuan yang cocok untuk mu. Mari kita putuskan perjanjian kita...." dengan gigih Vallice membantah.
"Tidak bisa Tuan, sudah ditakdirkan kau akan menjadi Tuan ku. Saya juga tidak bisa sembarang melepasnya, saya harap... anda dapat menjadi Tuan saya, saya bisa merasakan bagaimana hangatnya hati anda."
Hah! Jika dia bisa merasakan perasaan ku, bagaimana dia bisa yakin aku bisa menjadi tuannya?
"Aku tidak ingin membunuh! Aku tidak ingin menjadi orang jahat!" teriak Vallice.
"Saya mengerti, saya bisa merasakan apa yang Tuan pikirkan, apa yang Tuan khawatirkan dan hal apapun tentang Tuan. Saya sudah menjadi satu dengan Tuan, jiwa saya adalah jiwa Tuan, raga Tuan adalah jiwa saya.
Saya mengerti apapun tentang anda saat pertama kali Tuan menyatu dengan saya, Tuan memiliki hati yang baik dan lembut. Tidak ada tujuan jahat apapun didalam hati Tuan.
Sebab, alasan utama seseorang memiliki sihir ini adalah untuk hal yang tidak baik. Saya tau maksud dan harapan tuan, bagaimana jika Tuan menggunakan kekuatan ini untuk melakukan hal yang baik?"
"Membunuh yang jahat, membunuh yang menggangu, membunuh yang tidak berguna. Anda bisa membantu orang orang miskin yang di siksa oleh bos jahat.
Tanpa anda sadari, ada satu korban yang telah tewas. Yaitu pembantu anda, kekuatan anda sekarang sedikit lebih bertambah."
"Bibi Miranda...! Jadi aku telah membunuh orang...!" Vallice tidak menyangka.
"Tenanglah tuan, saya tahu itu tidak disengaja. Lagipula itu kesalahan dari pelayan anda sendiri awalnya.
Saya tau pelayan anda itu berasal dari keluarga miskin di desa pegunungan. Keluarganya sedang terlilit hutang dengan seorang bos rentenir yang bunganya terus menerus dibesarkan.
Bagaimana jika, anda membayarkan kesalahan anda dengan tuan membantu keluarga dari pelayan itu?"
"Maksudnya... dengan aku membayarkan hutang Bibi Miranda?" Vallice.
"Dengan Tuan membunuh bos rentenir itu."
Apa?
__ADS_1
"Membunuh...?" Vallice ragu.
"Benar..., coba bayangkan lebih luas... berapa banyak orang lain yang akan terbebas dari siksaan bos rentenir itu nanti... ahahahah...!"
Benar....
"Baiklah, beri aku sedikit... waktu...." Vallice.
Terduduk diam dan hanya melamun menatap air sungai yang mengalir, cukup lama dia berada di fase itu. Akhirnya ia mengedipkan mana dan mimik wajahnya berubah.
"Iya, aku siap." tegasnya.
"Saya tau, Tuan... saya ingin anda menggores telapak tangan anda, sedalam mungkin untuk memperbanyak darah yang keluar nantinya~ haha~"
Vallice melirik ke bawah, mengambil baru sungai yang lancip. Tanpa ragu ia langsung melukai tangannya, luka itu cukup dalam dan banyak darah mengalir keluar.
Vallice berdiri dan dia berbalik badan, tak jauh dari tempat ia berada, ada tiga orang anak laki-laki seumurannya sedang bermain lempar tangkap bola.
Vallice terus memerhatikan mereka sampai salah satu dari mereka melakukan kesalahan dan membuat permainan itu terhenti.
Salah satu orang anak terlihat marah dan kesal, anak itu lalu mendorong temannya yang melakukan kesalahan dalam permainan tadi. Anak itu duduk terjatuh secara keras ke tanah.
Temannya yang lain melihat hal itu langsung membantu anak yang jatuh dan memperingati temannya yang telah mendorong anak itu. "Apa apaan kamu ini! Bagaimana jika dia terluka" serunya.
Anak yang terjatuh itu menangis dan anak yang mendorong itu menjadi marah. "Karena dia membuat kekacauan!" teriak anak itu. Mereka terus berdebat dan itu membuat Vallice tertarik untuk mendekati mereka.
Sampailah Vallice, disana Vallice bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa kalian bertengkar?" Vallice bertanya.
Anak yang mendorong temannya itu menyadari jika Vallice adalah anak orang kaya, terlihat dari pakaian dan aksesoris yang Vallice kenakan.
"Anak-anak desa miskin ini tidak bisa bermain dengan benar! Benar benar membuat marah saja!" serunya.
Vallice tersenyum kepada anak yang menangis dan anak yang membela anak itu. Kemudian Vallice menoleh ke anak yang mendorong temannya.
"Oh benarkah? Jadi, apakah kau adalah orang kaya?" ucap Vallice dengan tatapan masam.
"Aku adalah anak dari kepala Desa! Tentu saja aku adalah orang kaya! Berbeda seperti mereka, li-lihat saja mereka! Pakaiannya mereka kumuh dan mereka sangat jelek!" teriaknya.
"Hal seperti itu saja, kamu sombong kan?" Vallice merendahkan anak itu, anak itu merasa dipermalukan dan dia menjadi sangat kesal.
__ADS_1
"Apa maksudmu!" anak itu berteriak kepada Vallice.