
Vallice tidak senang dengan kelakuan anak itu, wajah Vallice terlihat marah tetapi Vallice tidak melakukan apapun. Melihat hal itu, anak nakal berjalan menuju Vallice kemudian menepuk pundak Vallice.
Vallice bergerak menyembunyikan kedua tangannya kebelakang, anak itu merangkul Vallice seperti dia telah akrab dengan Vallice.
"Hei jangan marah seperti itu dong, aku tau kamu ini juga anak pejabat kan? Jelas sekali kamu adalah orang kaya" ujar anak itu.
Vallice semakin kesal tetapi dia berusaha menahan dirinya, anak itu tertawa dan menghina anak-anak miskin.
"Kalian, lihat kami berdua! Kita berasal dari keluarga yang kaya! Bukan seperti kalian, dasar orang miskin." tertawa merendahkan.
Anak-anak desa itu hanya bisa diam dan bersedih, Vallice semakin tidak tega melihat keadaan mereka.
"Aku tidak cocok bermain dengan kalian, aku lebih cocok bermain dengannya. Karena level kita sama!" ejek anak itu.
Vallice semakin kesal dengan perbuatan anak itu, amarah dan kebencian pun meluap. Saat anak itu terlihat tertawa dan senang, disitulah Vallice melakukan aksinya.
Vallice tanpa berfikir panjang lagi langsung memukul muka anak itu dengan telapak tangannya yang terluka, darah Vallice memenuhi seluruh wajah dan sebagian pakaian anak itu.
Anak-anak desa terkejut dan anak nakal itu juga, kemudian anak nakal itu mendorong Vallice sampai Vallice tersungkur ke tanah.
"Nona...." teriak khawatir dari anak-anak desa yang melihat Vallice terjatuh, kedua anak desa itu membantu Vallice dan memapahnya berdiri.
"Apa apaan kau! Dasar anak aneh!" teriak si anak nakal, anak nakal mulai bertingkah aneh seolah dia merasakan panas di kulitnya yang terkena darah.
"Sakit... panas...! Apa ini! To-tolong a-a-a-kuu...." desah anak itu dengan suaranya ketakutan. Anak-anak desa yang iba melihatnya segera menolongnya. Tetapi mereka ditahan oleh Vallice.
"Tunggu... jangan!!! Biarkan dia!" ucap Vallice dengan tegas, anak-anak itu heran dengan apa yang Vallice ucapkan. Tetapi setelah mereka melihat keadaan si anak nakal yang mengerikan, mereka akhirnya tetap berada di sisi Vallice.
Mereka menyaksikan kulit wajah dan dada anak itu meleleh dan mengelupas, salah satu anak sangat ketakutan hingga mereka memeluk Vallice untuk menyembunyikan wajah mereka, anak yang lain menyaksikan hal itu dengan ketakutan.
"No-nona... dia... a-a-ada apa dengannya? K-ke-kenapa dia seperti itu?" ucap anak yang menyaksikan kejadian itu, Vallice tersenyum kepada anak itu dan menjawab pertanyaannya.
"Itu yang akan terjadi jika kalian menjadi domba yang tersesat dan sombong." ujar Vallice dengan tersenyum manis, anak itu merona melihat Vallice dan dia terdiam.
"Kamu... jangan takut ya...." kemudian Vallice menenangkan anak yang memeluknya erat, Vallice membelainya dengan lembut dan akhirnya berhasil membuatnya tenang. Anak itu mau untuk melepasnya dan duduk dengan menurut.
Setelah itu, si anak nakal tergeletak tidak bergerak di tanah. Vallice kemudian berdiri dan mengajak para anak-anak desa itu untuk melihat keadaan anak nakal.
Sangat mengerikan!!!
__ADS_1
"Ke-kenapa dia menjadi seperti ini? Apakah dia mati Nona?" tanya salah satu anak desa.
"Kulitnya seperti meleleh, kulitnya mencair... membuat tulang dan tengkorak kepalanya terlihat! A-da apa dengan dia?" tanya anak desa yang lain.
"Iya, dia mati. Kalian sekarang senang kan? Karena sudah tidak ada lagi yang menganggu kalian...?" dengan ceria Vallice berkata seperti itu kepada mereka, dan Vallice juga sepertinya berharap anak-anak itu setuju dengan dia.
Anak-anak itu saling menatap satu sama lain, mereka nampak kebingungan dan merasakan keanehan. Akhirnya dengan ekspresi ragu, salah satu anak mengangguk anggukkan kepalanya. Mengatakan bahwa dia senang dengan kematian anak nakal ini.
Vallice gembira melihat respon mereka, Vallice tersenyum lebar dan mengajak mereka pergi meninggalkan jasad itu.
"Apakah kita bisa saling mengenal? Siapa nama kalian berdua?" tanya Vallice.
"Emm, bo-boleh kok Nona... nama saya adalah Kiel dan ini adalah adik saya... Derren." Kiel menjawab.
"Hai Kiel dan Derren, namaku Vallice. Senang bisa mengenal kalian." Vallice dengan ramah tersenyum kepada mereka.
Terlihat Derren begitu malu malu dan bersembunyi dibelakang kakaknya. Tetapi sepertinya Derren menerima Vallice.
"Hmm, Derren kenapa kamu bersembunyi?" tanya Vallice.
"Ahahah, adik saya memang orang yang pemalu Nona... dia memang seperti ini jika bertemu orang baru." jawab Kiel.
"Mana boleh! Ka-kamu adalah bangsawan bukan? Kami diajarkan untuk selalu hormat kepada Tuan-tuan kami." teriak Kiel membantah.
Vallice tersenyum dan memalingkan pandangannya.
"A-aku adalah seorang anak pengusaha biasa, a-aku bukan bangsawan...." ucap Vallice.
"Be-benarkah? Maaf, aku tidak tau... Vallice." Kiel.
Vallice langsung gembira saat Kiel memanggilnya Vallice.
Singkat cerita mereka bermain bersama di pinggir sungai dimana tempat yang biasa Vallene dan Vallice bermain.
"Wah, tempat ini sangat indah ya Vallice." ujar Kiel yang kagum melihat pemandangan tersebut.
"Iya, itulah kenapa aku dan kakakku sangat suka bermain disini." seru Vallice dengan wajah yang sangat gembira.
Kiel tersenyum, dia sekilas melihat adiknya yang duduk anteng sedang memainkan batu dan tanah. Kemudian Kiel melihat Vallice lagi, Vallice yang sedang berjongkok memetik bunga rumput disana.
__ADS_1
Karena Kiel masih bertanya tanya soal kejadian tadi, dia menanyakan hal itu kepada Vallice.
"Vallice... anak itu mati, bagaimana jika kita tertangkap...?" ujar Kiel yang sangat khawatir.
Vallice mendongak dan tersenyum kepada Kiel.
"Tidak apa apa, siapa pun tidak akan tau kok. Asal salah satu dari kalian tidak mengadu kepada siapapun." jawab Vallice dengan santai.
"Sekalipun kalian mengadu dan bilang aku adalah pelakunya, mereka tidak akan percaya dan itu adalah hal yang sia sia... karena, kematiannya keputusan ku." ucap Vallice sekali lagi.
Anak itu susah memahami apa yang dikatakan oleh Vallice, diapun memilih percaya kepada Vallice. Memilih untuk tutup mulut dan melupakan saja kejadian tersebut.
Vallice yang melihat gerak gerik Kiel yang sepertinya menurut padanya pun tersenyum. Vallice kemudian menarik tangan Kiel, berlari ke arah pinggir sungai.
"Ahahah! Seru banget kan?" Vallice.
"Iya, airnya segar." jawab Kiel dengan senyum manis.
"Eh tapi..., bagaimana dengan tangan mu Vallice? Kamu tidak apa-apa kan?" Kiel khawatir.
Vallice kemudian menunjukkan kedua telapak tangannya kepada Kiel, disana Kiel yang melihat keadaan tangan Vallice menjadi diam.
"Kamu baik-baik saja, membuatku khawatir... jadi, tadi adalah darah apa?" Kiel.
Tangan Vallice keduanya bersih dan sehat, tidak ada luka dan bahkan bekas luka.
"Itu adalah darah burung kok." Vallice tersenyum.
"Ohh...," desah Kiel.
"Ehh, Derren kenapa bermain sendirian disana? Ajak bermain bersama kesini, kasihan dia sendirian." Vallice.
"Ahh, dia memang seperti itu. Kalau dia nyaman dengan itu, dia tidak akan mau melakukan hal lain... apalagi dia anak yang sensitif." jawab Kiel.
"Hmm, begitu ya...." Vallice.
"Oh ya, katanya kamu suka bermain bersama kakakmu disini, dimana dia? Kenapa kamu sendirian?" Kiel.
Vallice termenung dengan mata terbuka lebar yang menatap Kiel, Kiel merasa aneh dengan Vallice yang tiba tiba terdiam seperti itu.
__ADS_1
"Vallice...?" Kiel.