
"Kenapa kalian bertengkar? Apa yang kalian ributkan?" tanya Vallice kepada mereka.
Mereka berdua terkejut karena tiba tiba Vallice berada di dekat mereka, mereka mencoba bersikap tenang.
"Kamu telah kembali? Ah, dan apa yang kamu bawa?" Kiel mencoba berbasa-basi.
Vallice tidak mendengar percakapan aku dan Derren barusan kan?
"Aku membawakan eskrim untuk kalian, pasti kalian haus karena kepanasan." ucap Vallice.
Mereka berdua terlihat cemas dan ragu untuk mengambil eskrim yang Vallice hidangan kan untuk mereka.
"Ada apa? A-apa kalian tidak suka eskrim?" Vallice.
"Ti-tidak, bukan begitu... kami belum pernah makan eskrim sebelumnya jadi...." Kiel.
"Ah benarkah Derren?" Vallice.
"I-iya...." jawab Derren dengan suara pelan.
"Ah, kalau begitu kalian coba dong! Ini enak kok, segar dan manis." ujar Vallice meyakinkan mereka.
Mereka tidak bisa beralasan lagi dan akhirnya memutuskan untuk memakan eskrim tersebut. Satu sendok an kecil mereka mengambil eskrim dan dengan rasa ragu memakan eskrim tersebut.
"Bagaimana? Enak kan?" Vallice.
Benar, ini enak!
"Ini manis," jawab Kiel.
Vallice tersenyum, kemudian dia juga bertanya kepada Derren.
"Derren apakah kamu juga suka?" Vallice.
Derren hanya mengangguk anggukkan kepalanya dengan pelan, tetapi sepertinya Vallice puas dengan itu. Dia menganggap Derren suka dan dia menjadi senang.
Singkat cerita, Vallice dan Kiel sudah menghabiskan eskrim mereka, tetapi tidak dengan Derren. Dia banyak meninggalkan sisa eskrim di mangkok nya.
Vallice yang melihat itu, kemudian bertanya kepada Derren dengan ekspresi khawatir.
"Kenapa? Kamu tidak suka ya? Kalau tidak suka jangan dipaksa...." Vallice.
"A-aku hanya tidak suka... coklat." jawab Derren.
Kiel menyadari bahwa adiknya susah sangat tidak nyaman disana, kemudian dia mencari alasan untuk berkata...
__ADS_1
"Hari sudah sore, kami harus pulang Vallice. Terimakasih ya atas hari ini...." ucap Kiel dengan senang.
"Ah iya, ini sudah sore... mari biar ku antarkan ke depan." Vallice.
Mereka diantar keluar oleh Vallice, di sana sudah ada mobil yang terparkir dan siap untuk pergi. Vallice mendorong mereka masuk ke mobil.
"Eh kenapa? Kami bisa jalan kaki saja!" seru Kiel yang merasa tidak enak dengan perlakuan itu.
"Tidak apa-apa, supir ku akan mengantarkan kalian dengan selamat. Ini...." Vallice memberikan mereka bedua kantong berisi baju baru yang bagus dan beberapa benda lain.
"Vallice... ini berlebihan...." Kiel semakin tidak enak menerima hadiah dari Vallice.
Vallice memaksa mereka untuk menerimanya, Derren dan Kiel saling bertatapan sebentar dan akhirnya mereka menerima hadiah dari Vallice.
Vallice merasa senang dan tersenyum, kemudian mereka berdua masuk dan mobil berjalan. Vallice melambai tangannya ke mobil itu sampai mobil itu keluar dari gerbang.
Pelayan Nae menyapa Vallice dan bertanya siapa mereka bedua.
"Apakah mereka adalah teman baru anda Nona?" tanya Nae dengan hormat dan sopan.
"Iya Bibi, ... oh ya! Jika ada berita dan kasus mengenai kematian seorang bocah yang ditemukan di ladang rumput, tolong tekan kasus tersebut untuk tidak menyebar." Vallice.
Vallice dengan tatapan tajamnya menatap pelayan Nae, pelayan Nae tentu saja segera menyetujui permintaan Vallice.
"B-baik Nona," Nae.
Sikap Nona semakin mirip saja dengan Nyonya....
Apa maksudnya untuk kakak? Vallene?
***
"Kak, jangan bertemu lagi dengan anak itu ya." bisik Derren bercampur cemas. Kiel mengangguk dan mengelus kepala Derren dengan lembut.
"Baiklah." jawab Kiel dengan senyum pahit, tidak lama kemudian mereka meminta untuk turun di jalanan.
"Ehh, pak? Kita berhenti disini saja." ujar Kiel, supir pun berhenti seketika. Kiel sempat kebingungan karena dia tidak bisa membuka pintu mobil, dan supir yang sebenarnya tau hal itu memilih untuk diam saja.
Karena geram dengan perilaku pak supir, Derren pun angkat suara.
"Bukannya seharusnya kamu membukakan pintu untuk kita keluar ya?" teriak Derren.
Sepertinya itu membuat si supir kesal dan membuat supir itu langsung turun dan membukakan pintu mereka, akhirnya mereka pun turun. Pintu di tutup dengan keras oleh si supir yang kesal, Derren dan Kiel merasa bersalah dan hanya diam di pinggir jalan.
Supir mengendarai mobil kembali dan memutar arah mobil, tapi setelah itu supir berhenti dan mengatai mereka.
__ADS_1
"Kau banyak mau, dasar orang miskin!" teriak supir itu menghina.
Derren dan Kiel menjadi sedih dan malu, dari dalam mobilnya si supir melemparkan uang koin kepada mereka.
"Ambil itu orang orang miskin hahaha." ucap supir dengan nada yang merendahkan.
Kemudian mobil itu berjalan pergi, Kiel dan Derren merasa buruk karena dipermalukan seperti itu.
"Ayo ambil saja yang uang-uang ini lak... untuk makan besok dan diberikan kepada ibu, untuk berobat beliau dan membayar tagihan tempat tinggal." ucap Derren.
Kiel sakit hati mendengar ucapan Derren, apalagi melihat adiknya sedang memungut uang koin yang berserakan di tanah.
Maafkan kakak Derren, aku janji akan membuat hidup kita menjadi lebih baik dan bebas dari semua penderitaan ini.
Batin Kiel dengan menahan rasa sedih, kemudian ia juga ikut memunguti koin-koin yang berserakan dengan kesedihan dan berlinang air mata.
***
Sampailah Vallice di ruang makan, disana telah tersedia dua piring dan dua gelas air. Vallice duduk dan mengambil satu piring dan satu gelas air.
Kemudian mulai makan, pelayan Nae merasa aneh karena Vallice meminta disiapkan dua porsi makanan tetapi Vallice hanya memakan seporsi makanan.
"Nona, makanan lainnya untuk siapa...?" pelayan Nae bertanya kepada Vallice yang sedang makan.
"Ini untuk kakak." jawab Vallice dengan dingin, ia hanya terus fokus makan dan tidak memedulikan apapun disana.
Vallene? Bukannya... Vallene telah meninggal?
Pelayan Nae merasa tidak nyaman dan kemudian ia pergi dari ruang makan. Vallice hanya melirik dan dia tidak bertanya apapun kepada Nae. Dia tidak peduli dan lanjut makan dengan tenang.
...
"Apa yang sebenarnya yang ada dipikiran Nona? Nona semakin berubah...." desah Nae. Nae menghela nafas dan meninggalkan Vallice untuk melakukan pekerjaan lain.
...
"Kakak, kamu tidak menghabiskan makanan mu."
Vallice berbicara dengan kursi kosong di depannya, yang dimana telah di suguhkan makanan yang Vallice minta tadi. Karena kursi itu kosong, tidak ada yang memakan makanan tersebut.
Piring dan gelas milik Vallice sudah bersih, ia kemudian mengelap mulutnya dan meninggalkan meja makan.
"Tidak apa-apa kak, jika kamu tidak nafsu makan maka sekarang kita tidur saya yuk? Sudah malam, aku merasa ngantuk." ucap Vallice dengan senang, tidak tahu ia sedang berbicara dengan siapa.
Dia pun kemudian berjalan keluar, menuju tangga dan menaiki tangga satu persatu. Dan sampaikanlah dia di lantai tiga, disana ia berjalan lagi dengan pelan menuju.... Ya, kamar Vallene.
__ADS_1
Vallice berada di depan pintu kamar Vallene, sebelum membuka pintu ia tersenyum dengan lebar terlebih dahulu, dan akhirnya dia masuk ke dalam dan menutup dari dalam pintunya.
"Kakak, aku malam ini tidur disini ya... aku bosan soalnya, dan aku sangat ingin menghabiskan waktu dengan kakak saat ini."