For a Freedom

For a Freedom
YINNE : FOR FREEDOM (35)


__ADS_3

"A-apa? Serius itu Blue Rose? Mungkin kau di tipu saja...," jawab Vallene.


"Tidak kak! Ini benar-benar Blue Rose yang dikatakan buku yang itu!" Vallice memaksa.


"Begini dengarkan aku ya, Blue Rose itu tidak nyata! Oke? Begitupun dengan Regal Rose atau Rose Gold...,


Iya, buku itu memang seperti sangat meyakinkan karena buku itu sudah berumur sangat tua dan..., tetapi ketahuilah tidak ada sihir sekuat itu di dunia ini. Maksud ku..., sekuat yang dikatakan buku itu." ucapan Vallene begitu lembut dan pelan menjelaskan itu semua kepada Vallice.


Kenapa Vallice tiba-tiba berbicara seperti ini? Bukankah dia tidak tertarik dengan hal semacam ini...,


"Kakak, semua itu nyata. Apa yang dikatakan buku itu semua nyata.


Awalnya aku juga menolak untuk percaya, tetapi aku sempat penasaran..., saat sebelum ayah pulang kemarin aku sempat berkirim surat dan mengatakan bahwa aku menginginkan Blue Rose.


Lalu dimalam itulah ayah pulang, kami hanya menghabiskan beberapa waktu saja untuk bersama dan akhirnya aku mengantuk, aku ingat..., disaat aku di gendong oleh ayah dan dia mengantarkan ku ke kamar ku.


Lalu kak..., aku terbangun di tengah malam entah di jam berapa tiba-tiba aku terbangun begitu saja. Saat aku bangun aku menemukan tanganku memegang bunga itu, aku sangat terkejut dan heran. Dan senang." penjelasan Vallice.


Vallene menemani yang sedang bercerita, dengan Vallene yang duduk di bagian kanan tempat tidur dan Vallice tidur di atas paha Vallene. Vallene adalah pendengar yang baik.


"Dimalam itu, sangking senangnya aku tidak bisa tidur lagi dan langsung lompat dari kasur begitu saja, aku keluar ke balkon kamar ku untuk melihat pemandangan malam..., mungkin... haha...,


Tiba-tiba ada seorang wanita yang aneh berbicara kepada ku-" ujar Vallice, Vallice menghentikan ucapannya karena ia tersadar sesuatu.


Padahal aku tidak mau membicarakan ini..., kenapa aku tidak sengaja mengatakan kalimat ini...,


"Siapa? Dia muncul tiba-tiba?" Vallene menjadi kaget dan khawatir.


"Emm, itu mungkin jelmaan dari Blue Rose...? Haha? Tidak terlalu penting kok, dia juga tidak jahat dan ramah...," ucap Vallice.


"Hah? Jadi kamu seriusan? Hah..., ahh.., kamu tidak apa-apa kan? Kamu tidak disakiti kan?" seru Vallene yang khawatir.

__ADS_1


"Tidak kak..., dan sosok tersebut memberikan ku kesempatan untuk memiliki sihir dari Blue Rose," ujar Vallice.


"Tunggu Vallice, tunggu sebentar! Jadi sekarang kamu ini memiliki sihir Blue Rose? Kamu melakukan perjanjian dengan iblis dan..., apakah kamu tau sekarang kamu memiliki sihir yang mematikan?" ucapan Vallene terdengar sangat khawatir kepada Vallice.


"Kakak..., tenanglah..., aku tau kok sihir yang aku miliki sekarang adalah sihir racun. Ta-tapi itu tidak membuat ku menjadi jahat seperti perjanjian dengan iblis yang lain...," ujar Vallice yang menenangkan Vallene.


"Sihir racun yang paling kuat, urutan pertama dan kasta tertinggi dalam racun. Aku rasanya ingin pingsan." ucap Vallene.


"Kakak! Dengarkanlah dulu penjelasan ku! Iya aku tau sihir ini adalah sihir racun, racun yang mematikan bagi setiap mahluk hidup..., dia sudah menjelaskan semuanya kepadaku...," seru Vallice.


"Siapa?" tanya Vallene.


"Blue Rose..., tapi kakak jangan salah paham terlebih dahulu. Memang kekuatan Vallice itu sangat identik dengan kesakitan dan kematian..., ataupun memang fungsi sihir ini hanya untuk membunuh.


Tetapi aku tidak seperti itu, aku bisa menggunakan sihir ini dengan baik. Untuk meningkatkan kekuatan dari Blue Rose sendiri adalah berapa banyak korban yang aku bunuh, tetapi..., aku juga tidak akan dengan mudah membunuh orang kok! Aku hanya akan membunuh orang yang jahat dan orang yang rakus!" ucap Vallice yang penuh percaya diri.


Apa? Membunuh...? Kenapa akhir-akhir ini sering menemukan kata-kata ini terucap di orang terdekat ku yang aku percaya.


Emm, apakah aku harus jujur saja ya kepada kakak? Tapi dia terlihat berharap aku mengatakan tidak, aku juga tidak ingin mengecewakannya dan dia menjadi membenci ku karena aku menjadi seperti ibuku.


"Tidak..., aku tidak berani...," ujar Vallice tetapi dengan tatapan yang menghindari Vallene.


Vallene memeluk Vallice dan dia merasa lega karena Vallice berkata seperti apa yang dia harapkan.


Aku tidak ingin diriku terlihat suci karena benci hal seperti itu, padahal aku sendiri sudah mengalami dan melakukan hal itu. Hanya saja aku tidak mau jika Vallice menjadi seperti ku, aku harap dia tumbuh dengan baik menjadi orang dewasa yang bijaksana dan dapat memimpin negara ini dengan adil.


"Vallice..., aku tidak melarang mu melakukan hal apapun yang kamu inginkan, tetapi aku harap kamu tidak melakukan hal yang membuat mu menyesal nanti." ujar Vallene.


"Baik kakak..., kakak..., selama kakak tidak ada disini kakak pergi kemana saja? Dan bagaimana kakak bisa bertemu dengan kak Kenneth, apakah kakak baik-baik saja dan kakak tidak merasa sedih kan?" tanya Vallice.


Kemudian Vallene dan Vallice dalam posisi berbaring di kasur, Vallice yang memeluk Vallene dengan lembut seperti biasa yang mereka lakukan saat tidur bersama.

__ADS_1


"Aku dimalam itu..., maksudnya dimalam pas Tuan Besar kembali..., aku hanya sedikit takut. Kamu tau kan kejadian pas aku hampir ketahuan karena aku memecahkan vas bunga?


Disana sepertinya Tuan sempat melihat ku sekejap, karena peraturan di kerajaan ini masyarakat biasa tidak dibolehkan untuk mempelajari ilmu sihir, tapi mungkin karna beberapa alasan lain boleh..., tapi kan aku tidak punya alasan memiliki sihir..., jadi aku panik dan tiba-tiba kabur saja dari rumah...,


Maaf ya jika aku membuat mu khawatir..., tapi aku tidak apa-apa kok! Aku hidup dengan baik dan bertemu beberapa orang baik dan melakukan beberapa hal yang menyenangkan! Termasuk bertemu dengan Kenneth dan akhirnya aku mau kembali disini lagi! Kamu tidak perlu khawatir aku, ya...," ujar Vallene dengan tatapan yang kosong.


Vallice percaya begitu saja dengan ucapan Vallene, ia kemudian memeluk Vallene lebih erat dan memejamkan matanya.


"Syukurlah kakak..., kakak sekarang tidak perlu takut lagi..., ada Vallice disini." itu kata-kata terakhir Vallice sebelum ia tidur terlelap di pelukan Vallene.


Entah kenapa aku tidak merasakan bahwa aku benar-benar telah 'pulang'. Apakah aku harus selamanya hidup seperti ini? Tanpa mengetahui siapa sebenarnya diriku sendiri?


Aku..., selama ini aku hanya kabur dari masalahku..., iya sekarang aku merasa aman karena si ratu darah itu sedang tidak ada disini. Tetapi sampai kapan?


Dan jika aku harus melakukan sesuatu aku harus mulai dari mana? Jalan mana yang harus ku lalui? Ini benar-benar membingungkan. Dibuat bingung dan ragu, seperti berada di sebuah ruangan yang luas tetapi terkunci dari dalam.


Dari dalam aku tidak bisa membuka pintu yang begitu besar dan tebal, tapi di sisi lain ada jendela kaca yang tidak bisa dibuka, satu-satunya cara aku harus menerobos sampai memecahkan jendela kaca tersebut.


Selain aku bisa keluar aku juga pasti akan terluka parah karena tergores kaca yang pecah dan lancip. Jika hanya itu konsekuensinya akan kulakukan dari lama, tapi di balik kaca tersebut adalah jurang yang sangat dalam dan berbatu. Tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada didalamnya karena sangat gelap.


Aku lebih memilih menyerah, bukan menyerah tapi istirahat sebentar dengan tidak lagi mencoba mendobrak pintu itu yang hanya melukai tangan ku, dan juga tidak mencoba memecahkan kaca karena itu bisa membuat ku terbunuh.


Aku sekarang rasanya seperti duduk terdiam di tengah-tengah ruangan tersebut, tidak melakukan apapun untuk hal yang hanya membuang-buang waktu dan energi saja. Pasti ada cara lain yang belum aku pikirkan atau coba lakukan.


Apa salahnya beristirahat sejenak disaat sedang merasa lelah? Istirahat sejenak maksud ku bukan hanya terdiam karena merasa usaha mu sia-sia, yang ku maksud adalah istirahat yang benar-benar kamu menenangkan dirimu, lalu kembali lagi berusaha untuk bebas.


"Jika kamu merasa lelah, maka istirahatlah..., tapi tidak dengan menyerah ya. Karena kamu dan aku adalah satu."


Vallene tiba-tiba terbangun dari tidurnya, ia hanya membuka mata dan terdiam.


"Suara siapa yang barusan ku dengar tadi di akhir mimpiku...? Aku dan dia adalah satu?" bisik Vallene.

__ADS_1


__ADS_2