For a Freedom

For a Freedom
YINNE : FOR FREEDOM (40)


__ADS_3

"Shopilliane..., masyarakat di Shopillia Barat dan Shopillia Timur bukankah juga sebagian besar menjadi pengikut sang tertinggi Shopilliane?" tanya Vallene.


"Benar sekali, karena aku berasal dari Shopillia Timur Vallene..., hanya saja..., aku tidak bisa kembali ke rumah ku lagi. Tidak ada yang menanti ku dan aku tidak punya siapa-siapa lagi." ucap Bi Nae dengan suara sedih.


"Bi...," seru Vallene dengan nada panjang, menghawatirkan Nae yang tiba-tiba menjadi sedih.


Dalam kekhawatiran yang singkat itu, tibalah mobil milik keluarga Fred. Yang membawa kembali Vallice dan Kenneth dari sekolah.


...


Gerbang dibuka, mobil masuk dan berjalan kembali. Kemudian mobil berhenti di depan Nae dan Vallene dengan posisi mobil menyamping. Nae tidak menjawab perkataan Vallene dan ia langsung berjalan mendekati pintu mobil. Vallene terlihat khawatir.


Ada apa dengan Bi Nae..., dia tidak apa-apa kan...? Kenapa setiap kali aku berbicara kepada seseorang membuat mereka mengatakan hal tersedih yang terjadi dalam hidupnya...?


...


Vallene diam di tempatnya dengan wajah khawatir, supir membukakan pintu mobil. Keluarlah Vallice dan Kenneth, yang langsung di sambut dengan Nae dan Nae membawakan tas mereka masing-masing untuk dibawa masuk ke kamar mereka.


Kemudian Vallice terlihat girang karena senang melihat Vallene telah menunggunya, Vallice yang awalnya merasa lelah langsung tersenyum ceria dan langsung berlari menuju Vallene untuk dia peluk.


"Hei kamu bau masam tau!" Vallene bercanda kepada Vallice.


"Kakak...!!! Dari mana aku bau masam coba! Bau parfum ku masih wangi kok!" seru Vallice yang sebal, tetapi Vallice tetap saja menempel kepada Vallene. Ada suatu waktu disaat Vallice memeluk Vallene, disana ia melirikkan matanya ke arah Kenneth dan dia menjadi merona.


Saat Vallene juga senang menyambut Vallice yang kekanak-kanakan dia tak sengaja menoleh ke arah Nae yang masuk ke dalam rumah terlebih dahulu dengan membawa tas mereka, Vallene melihat Nae sedang menangis dengan berjalan sangat cepat, terlihat mata dan hidungnya menjadi merah.


Ada apa dengan Bi Nae...? Apakah ini salahku...? Keadaan macam apa sih ini?


Vallene menjadi merasa bersalah dan kebingungan dengan keadaan saat ini.


"Hai Vallene, kamu sudah lama menunggu kami? Mari kita masuk...?" seru Kenneth kepada Vallene dengan ramah.

__ADS_1


Kemudian Vallice entah kenapa tiba-tiba langsung melepaskan pelukannya dengan Vallene dan kabur masuk kedalam rumah duluan dengan terburu-buru.


"Aa-agh aku masuk duluan ya kak! Aku laparrr!!!" seru Vallice dari kejauhan.


...


"E-ehh? Ada apa dengannya?" gumam Vallene yang merasa aneh dengan Vallice.


"Entah kenapa sepertinya dia menghindari ku deh...," ucap Kenneth dengan nada bersalah.


"Hah? Kenapa? Kamu melakukan hal apa? Dia anak yang sangat sensitif sih." ujar Vallene.


"Aku tidak melakukan hal yang aneh kok! Tadi..., saat jam pulang dia menunggu ku di luar kelas ku. Kebetulan gedung sekolah kita memang berbeda karena kita beda kelas dan beda mata pelajaran. Eh pas lagi ramai-ramainya anak-anak lagi keluar kelas, dia..., tersenggol seseorang dan hampir terjatuh.


Aku langsung menangkapnya, saat kita tidak sengaja jadi berpelukan dan dia kemudian menatap ku agak lama. Aku juga diam, aku kira dia terkejut. Eh beberapa saat kemudian dia malah berteriak dan malah mendorong ku, jadi aku deh yang terjatuh akhirnya." penjelasan Kenneth.


"Wow..., Vallice mudah terbawa perasaan ya..., haha! Dia benar-benar suka sama kamu nih." seru Vallene dengan menjulurkan lidahnya.


"Hahaha, maafkan aku kumohon...!!!" seru Vallene.


Kenneth mendesah dan melepaskan Vallene, kemudian Kenneth mengelus kepala Vallene sekaligus mengacak-acak rambutnya.


"Hei...!!! Tapi kamu jangan merendahkan harga dirimu seperti itu juga, menurut ku kamu tidak jauh dengan para Tuan bangsawan lain kok, kamu tampan dan manis, dan juga baik, pengertian, peduli dan hangat. Wajahmu sangat teduh kurasa, kamu cocok menjadi ibu." ujar Vallene.


"Ibu...?" seru Kenneth yang pasrah.


"Iya! Kamu hangat dan menyenangkan seperti sosok ibu, atau kamu itu memiliki sifat keibuan. Terimakasih atas kepedulian mu sebagai seorang ibu untuk Vallice, ia tidak pernah benar-benar mendapatkan hal seperti itu dari ibunya sendiri ataupun aku." seru Vallene dengan senyumannya.


"A-apa...," Kenneth terkejut dan dia menjadi luluh.


"Bisa kita bicara sebentar...? Sambil melihat matahari tenggelam, itu sangat indah loh!" seru Vallene.

__ADS_1


***


"Di pinggir sungai ini sangat indah ya..., sejuk sekali disini..., kita memang sudah hampir setiap hari mengunjungi sungai ini. Tetapi seperti tidak ada bosannya untuk kembali ke tempat ini." kagum Kenneth.


"Tentu saja, mungkin suatu hari ini kita yang selalu mengunjungi tempat ini hanya menjadi kalian, kamu dan Vallice." ujar Vallene.


Kenneth yang duduk di bawah pohon bunga wisteria langsung terkejut dan mengerutkan keningnya, ia langsung terbangun dari duduknya dan berjalan ke depan menuju Vallene yang duduk di batu besar pinggir sungai.


"Apa maksud mu? Aku disini..., untuk mu! Pengusir rasa takutmu dan pengganggu mu! Akan ku lindungi dirimu dari siapapun itu." seru Kenneth dengan serius.


Vallene kemudian menoleh kebelakang dengan tatapan yang sedih dan air mata yang menetes, terlihat seperti tidak ada harapan lagi dalam dirinya. Membuat Kenneth menjadi khawatir sekaligus bingung.


"A-apa? A-ada apa? Bukankah selama ini kamu dan kita semua baik-baik saja? Apa yang telah terjadi? Apa yang membuat mu tidak nyaman?" tanya Kenneth yang khawatir.


"Kenneth..., dia akan kembali dalam waktu dekat ini..., bagaimana ini... benar jika selama ini aku baik-baik saja, terimakasih telah melindungi ku dari beberapa pelayan yang jahat..., tetapi kali ini berbeda! Dia adalah Franschine! Kamu tidak tau siapa dia!" teriak Vallene.


"Nyonya Fred akan kembali...? Tidak apa-apa Vallene..., aku bisa melindungi mu! Aku berjanji kepada ayah ku untuk selalu melindungi mu apapun yang terjadi dan siapapun dia." Kenneth serius.


"Tidak, aku tidak mau kamu mati seperti yang lain." jawab Vallene dengan nada putus asa.


Kemudian dalam pikiran Vallene teringat kembali senyuman beberapa orang terdekatnya di masa lalu yang akhirnya tewas di tangan Franschine, di bagian akhir dari pikiran Vallene adalah senyuman puas dan tawa yang menyeramkan dari Franschine.


"CUKUP!!!" teriak Vallene secara tiba-tiba, itu membuat Kenneth terkejut dan kebingungan.


"Maaf..., maaf..., tapi percaya-" ucap Kenneth yang dipotong oleh Vallene.


"Tidak..., kamu harus hidup lebih baik lagi ya. Jaga Vallice, sepertinya dia cukup dengan mu. Hidup lebih lama lagi ya...? Kumohon..., beri waktu aku 30 hari terbaik dalam hidup ku...," ucapan Vallene membuat hati Kenneth sakit dan dia menjadi menangis, Vallene baru kali ini melihat Kenneth menangis dengan sangat dalam. Wajah Kenneth terlihat sangat kecewa dan terluka.


Iya..., aku gagal lagi. Ayah juga mengatakan jika Nyonya Fred sangat kuat dan jahat hingga aku pun dilarang berinteraksi dengannya, aku saja sebenarnya juga takut..., kenapa aku sangat percaya diri dan besar kepala ingin melindunginya..., aku juga ingin dia mendapatkan apa yang ia pantas


"Maaf ya jika aku mengingkari semua perkataan ku, aku akan memberikan semuanya. Apapun yang membuat mu bahagia, tapi tolong jangan membicarakan tentang kepergian dan kematian. Biarkan aku memikirkan cara lain agar kamu tetap aman." ujar Kenneth.

__ADS_1


__ADS_2