For a Freedom

For a Freedom
YINNE : FOR FREEDOM (52)


__ADS_3

Suasana tegang dan sunyi.


"Kau tau kenapa aku memanggilmu kemari?" Franschine melontarkan pertanyaan dengan nada tegas dan wajah datarnya.


Kenneth berdiri gemetaran di depan Franschine, seakan badannya menjadi panas dingin dan tidak karuan. Kenneth terus menunduk ke lantai, sekali kali ia melirik ke Franschine yang terlihat sedang membaca buku itu.


Sampai suatu saat Kenneth ketahuan, mata mereka saling menatap. Mata tajam Franschine bertemu dengan mata Kenneth, Kenneth langsung kembali menunduk.


"Tiba-tiba Nyonya datang ke kamar ku di tengah malam ini saat aku hendak tertidur. Dan dia tiba-tiba bertanya seperti ini..., apa maksudnya?"


Kenneth berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi.


...


Brakk!!!


Franchine menutup buku dengan keras dan suara itu mengejutkan Kenneth.


"Kau bisu?" ujar Franschine dengan suara serak.


"Maaf Nyonya, sebelumnya saya belum menyadari apa yang anda butuhkan disini. Saya...." Kenneth yang berusaha bersikap tegas.


"Tidak usah tenang seperti itu, aku hanya ingin bertanya..., kenapa kau bisa begitu akrab dengan Vallice? Maksud ku apakah kalian sering bersama." Franschine mengucapkan itu dengan membuang muka.


Kenneth tak menyangka jika Franschine hanya akan mengatakan itu.


"Mengenai itu..., saya memang belum lama mengenal Nona Vallice, meskipun begitu Nona Vallice adalah gadis yang cantik dan berhati lembut. Dia penyayang dan sensitif, ceria dan suka di dengar." ucap Kenneth.


Franschine memasang muka yang datar dan sedikit cemberut. Ia kemudian bangun dari kursinya dan berjalan menuju jendela, membuka tirai dan jendela itu. Terlihatlah langit yang sudah gelap, bulan yang tertutup dengan awan hitam. Angin malam yang dingin masuk ke dalam ruangan membuat hawa menjadi dingin.


"Benarkah...? Dia adalah gadis yang ceria?" gumam Franschine.


"Benar Nyonya, Nona sangat murah senyum. Cukup aktif, Nona sangat suka sekali bermain dengan domba milik peternak." jawab Kenneth.


"Bagaimana dengan raut wajahnya?" tanya Franschine sekali lagi.


Kenneth sedikit bingung, Kenneth tak langsung menjawab kemudian Franschine yang awalnya menghadap ke luar jendela ia pun berbalik badan, terlihat raut wajahnya yang seakan sedih meskipun tetap memasang muka datar.


"Apa yang Nyonya..." ujar Kenneth.


"Bagaimana cara ia tertawa, apakah senyumannya terlihat sama indahnya dengan senyuman saat ia masih kecil?" gumam Franschine.


Franschine tampak tak berani menatap Kenneth, ia terus menghadap ke samping.

__ADS_1


"Senyumannya..., cantik. Terlihat seperti senja di musim gugur, menyenangkan dan indah. Jika wajah datarnya mirip dengan wajah Nyonya, maka wajah tersenyum nya pasti juga akan mirip Nyonya." ucap Kenneth dengan nada yang halus.


"Hmm," Franschine hanya tersenyum pahit.


"Kenapa kalian dapat melihat hal itu, padahal aku sangat berusaha keras untuk melihat itu." gumam Franschine.


"Nyonya...?" seru Kenneth merasa bingung.


"Ya, aku iri dengan kalian yang seberuntung itu. Aku membencinya haha," seru Franschine sambil tersenyum dan tertawa aneh.


"Kalian?" ucap Kenneth.


"Ya, kau dan bocah sampah itu." seru Franschine.


Kenneth terdiam karena bingung ingin mengatakan apa, dan bocah sampah yang disebutkan Franschine itu siapa.


"Oh, kau tak akan tau siapa bocah sampah itu. Dia sudah mati, seberapa besar dunia semesta ini besar sama dengan rasa benci ku kepadanya." gumam Franschine sambil berbalik menghadap luar jendela lagi.


"Apakah yang dimaksud adalah Vallene? Dan Vallene sudah dihabisi? Itu sebabnya...."


"Apa sebabnya?" tanya Kenneth secara spontan.


Franschine langsung melirik dengan tajam, Kenneth menjadi panik. Kemudian Franschine mengatakan sesuatu.


"Saya memang tidak bisa mengerti perasaan Nyonya, tetapi saya bisa merasakan apa yang Nyonya rasakan saat ini. Mungkin Nyonya hanya perlu berdamai dengan hidup Nyonya yang baru, melepaskan dan melupakan semua begitu saja tidaklah mudah.


Maka dari itu, lakukan perlahan dan bertahap. Nyonya harus bisa berdamai dengan diri Nyonya sendiri. Jika dimasa lalu sudah ada penderitaan yang telah dialami, maka masih bisa menata masa depan yang lebih baik." ujar Kenneth dengan nada yang menenangkan.


"Aku sudah sejauh ini, tidak mudah untuk melepaskan semua yang telah ku dapat. Jika Vallice menganggap diriku ini salah, maka aku hanya ingin dia sadar aku melakukan ini semua demi dirinya! Aku berusaha mencukupinya dengan kehidupan yang mewah dan terpenuhi, kenapa ia tidak mengerti." ucap Franschine yang berdiri di jendela.


"Semua tidak hanya cukup dengan harta, penting juga bagaimana peran Nyonya di sebagai ibu. Nona Vallice adalah pribadi yang tertutup sebenarnya, tetapi juga tidak sulit menerima orang baru. Mungkin saja anda bisa memulai interaksi yang lebih halus kepadanya" ucap Kenneth.


"Apakah akan berhasil? Hanya dengan hal itu aku akan bisa kembali melihat senyuman lebar diwajahnya?" gumam Franschine.


"Semua orang memiliki kesempatan." ucap Kenneth.


...


"Untuk saat ini aku tau ia telah marah kepadaku, aku tidak tau apakah dia sudah mengetahui kematian bocah sampah itu atau belum. Untuk saat ini aku memang merahasiakannya, aku tidak ingin melihat wajah sedihnya, satu air mata keluar dari matanya itu bisa membuat hati ku hancur." ucap Franschine.


...


"Apakah yang anda maksud adalah Vallene?" seru Kenneth.

__ADS_1


Franschine seakan terkejut.


"Bagaimana kau bisa mengetahui namanya?" ucap Franschine.


"Sepertinya memang iya, keadaan disini memang tidak aman bagi Vallene."


"Ah, itu Nona pernah bercerita. Dia katanya sudah sedekat itu dengan Nona sampai Nona menganggap dia sebagai kakak." ujar Kenneth.


Franschine menatap tajam Kenneth dengan wajah cemberutnya.


"Jangan bahas orang mati dengan ku." ucap Franschine.


Kenneth menunduk yang artinya ia meminta maaf.


...


"Maaf Nyonya, sebelumnya saya memang belum pernah bertemu dengan Vallene. Bagaimana ciri-cirinya dan kenapa anda begitu membencinya." ucap Kenneth yang seolah-olah tidak tau semuanya, dengan wajah yang berpura-pura penasaran.


Franschine mengabaikan Kenneth dan berjalan keluar dari kamar Kenneth. Saat ia akan membuka pintu, Franschine berhenti sejenak dan mengatakan.


"Aku tidak benci dia, andai saja dia tidak lahir, bila saja dia tidak pernah ada. Salahkan saja yang sudah lebih dulu ada." ucap Franschine dengan suara serak.


*Brak!!!


Pintu kamar tertutup, Franschine benar-benar keluar dari kamar Kenneth.


...


"Salahkan saja yang sudah lebih dulu ada? Apa maksud?" gumam Kenneth yang kebingungan dengan perkataan yang di ucapkan Franschine.


***


Keesokkan harinya Vallice telah berada di depan, dengan mobil yang telah siap hendak mengantarkan mereka pergi ke sekolah.


Kenneth akhirnya keluar, tidak tau kenapa kali ini dia agak terlambat. Biasanya tidak seperti ini, Kenneth adalah sosok yang ambisius, tekun dan sangat menghargai waktu.


"Kak Kenneth? Apakah kakak sakit?" tanya Vallice yang khawatir.


Karena Kenneth terlihat lesu, wajahnya pucat dan memiliki kantung mata.


"Ah aku tidak apa-apa..., aku semalam tidur agak larut." jawab Kenneth.


"Ah begitu...," ucap Vallice sambil menghela nafas, Vallice cukup percaya jika Kenneth baik-baik saja.

__ADS_1


Naik lah mereka mereka berdua ke mobil, pintu mobil ditutup dan mobil akhirnya berjalan. Melewati gerbang kediaman Fred dan akhirnya mobil itu sudah tak terlihat karena berjalan sudah cukup jauh.


__ADS_2