
Mendengar kabar jika dia sudah akan tiba, bahkan secepat itu..., malam itu juga.
Aku terdiam, terpaku, terkejut, rasanya aku sangat kesal entah kenapa. Aku hanya bisa menahan rasa benci ku dalam diam, tangan ku yang ku genggam sekuatnya, gigiku yang ku gertakan, dan emosi yang ku pendam.
Aku seperti ini karena..., aku belum siap untuk.... Mati.
Maksudnya, jika di hitung aku masih mempunyai beberapa hari lagi untuk hidup, hidup seperti hidup biasa, hidup dengan semestinya, membuat kenangan selagi masih hidup.
Tetapi..., kenapa secepat ini dia datang? Begitu serakahnya dirimu? Atau mungkin, diriku?
Memang, ini tidak bisa di hindari. Aku..., menerima.
***
"Apa? Nyonya Franschine akan datang malam ini...? Kenapa begitu tiba-tiba...?" Kenneth terkejut. Kemudian Kenneth berbalik badan dan langsung memeluk Vallene.
"Tenang, jangan takut..., aku akan disini." ucap Kenneth. Vallene hanya terdiam.
...
Layar berganti, Vallene dan Kenneth berjalan di tengah hutan. Melewati pohon pohon rindang yang besar dan lebat, mereka berdua terus masuk ke dalam hutan hingga mereka tidak terlihat lagi. Seperti masuk ke dalam embun.
...
"Jangan takut dengan mereka, mereka adalah pengasuh yang baik. Asalkan kamu tidak melanggar apa yang mereka larang." ucap Kenneth.
"Baik...," gumam Kenneth.
Mereka berhenti, Kenneth menahan Vallene.
"Kenapa kita berhenti?" ucap Vallene.
"Aku hanya bisa sampai disini," jawab Kenneth, kemudian Kenneth meraih tangan kanan Vallene dan memberikan sesuatu kepada Vallene.
"Apa ini...?" tanya Vallene.
"Batu ini akan memberikan sebuah identitas kepada mu, mereka memang tertutup dengan dunia luar dan mahluk asing apalagi manusia. Dengan membawa ini kamu akan aman karena mereka menganggap kamu berbeda, batu unik seperti ini diberikan kepada seseorang yang telah mereka percaya, pengertiannya jika kamu memiliki batu ini maka kamu dianggap aman, ayah ku memberikan ini. Tetapi sekarang kamu yang memakainya." ucap Kenneth.
"Aku dengar mereka suka meminum darah manusia...," ucap Vallene yang khawatir.
Kenneth tersenyum dan menaikkan dagu Vallene, menatap Vallene dan memberikan isyarat mata agar dia tidak perlu khawatir.
"Mereka bukan Vampir..., aku lebih tenang jika kamu di asuh dengan mereka dibandingkan dengan pelayan Fred, ataupun pelayan Miranda." ucap Kenneth.
Vallene menarik nafas dan kemudian dia tersenyum, tersenyum yakin dan percaya dengan Kenneth.
"Jaga dirimu baik-baik, ikuti peraturan mereka...! Patuh ya...? Aku akan menjemputmu," gumam Kenneth.
Kenneth memeluk Vallene, tetapi karena hari sudah semakin petang dia terpaksa pergi meninggalkan Vallene. Dengan berat hati Kenneth melepas pelukannya dan melepaskan genggaman tangan Vallene.
Kenneth melangkahkan kakinya ke arah keluar hutan, beberapa langkah kemudian dia menoleh kebelakang. Ia semakin tidak tega melihat Vallene sendirian disana, karena Vallene menyadari Kenneth masih belum rela dia tersenyum dengan lebar.
__ADS_1
Kenneth kemudian berjalan lagi, kali ini mereka saling melambaikan tangan. Sudah beberapa langkah, mereka sudah saling jauh. Ini kali kedua Kenneth melihat ke arah belakang lagi, dia melihat Vallene yang ternyata sudah berjalan lain arah dengannya, Vallene berjalan memasuki hutan dan dia semakin jauh.
Jangan takut, aku akan menjemputmu.
Kenneth tersenyum pahit, dia harus benar-benar meninggalkan Vallene. Vallene semakin jauh sampai tidak terlihat lagi, Kenneth yang melihat Vallene dari jauh sampai Vallene sudah tidak terlihat merasakan suasana hati yang kesepian. Seakan ada yang hilang dari hidupnya.
"Dia berani memasuki hutan sendirian, apa saja yang telah dia lalui." gumam Kenneth sebelum dia juga tiba-tiba menghilang begitu saja, tempat ini benar-benar kosong.
***
Hutan ini semakin dalam semakin aneh, seperti hutan dongeng saja.
Vallene terus berjalan, melewati akar dari pohon yang besar.
"Hutan ini harum, wangi pohon dan embuh basah menjadi satu." gumam Vallene.
Diperjalanan, Vallene melihat-lihat sekitar. Ia menyadari bahwa disana ada banyak reruntuhan bangunan besar kuno dan bongkahan batu bata yang besar tetapi kini sudah berlumut dan menyatu dengan alam.
"Tempat apa ini sebelumnya? Bentukannya seperti istana zaman kuno." gumam Vallene.
...
Aku sebelumnya belum pernah melihat dan bertemu dengan Igine. Manusia setengah hewan? Emm....
"Aku sudah pernah bertemu vampir, kulit putih pucat dan energi aneh yang terasa jika di sekitar mereka. Mereka juga pandai menyembunyikan identitas mereka jadi susah untuk tau apakah seseorang itu adalah Vampir. Tetapi bagaimana dengan Igine?" gumam Vallene.
Vallene berdiri di depan rumah yang terletak di tengah hutan itu, rumah dengan tema rumah kuno yang terlihat sudah sangat tua tetapi masih terawat. Rumah itu terlihat sepi dan gelap, tetapi salah satu jendela dari rumah itu terlihat terang.
*Tok tok tok.
*Tok tok tok.
*Pintu terbuka.
Pintu hanya terbuka sedikit, terlihat gelap dari dalam hingga tidak terlihat seseorang.
"Siapa? Kenapa kamu datang di hari petang menjelang malam begini, di tengah hutan." ucap seseorang dari dalam.
"Aku disini sebagai anak asuh mu," ucapnya sambil memberikan surat.
Dari pintu yang terbuka sedikit itu terlihat cahaya yang berbentuk mata. Pintu terbuka perlahan, mulai melebar dan terlihatlah siapa sosoknya.
"Ya, aku mengerti..., masuklah ke dalam. Buat dirimu nyaman." kata si pemilik rumah yang menggandeng Vallene masuk ke rumahnya. Kemudian pintu di tutup.
...
"Kamu sekarang di titipkan kepada ku, kamu harus mengikuti aturan ku disini. Aku juga bertanggung jawab menjaga mu." ucapnya.
Pintu ditutup, Vallene dan pemilik rumah berada di dalam rumah. Rumah itu sangat gelap.
*Tek
__ADS_1
Lampu dinyalakan, dan Vallene melihat dengan jelas bagaimana wajah dan wujud seseorang yang menggandeng nya. Dengan wajah shock Vallene terdiam.
"Kamu baru pertama kali melihat Igine?" tanya si pemilik rumah.
"Ya." jawab Vallene.
"Nama ku adalah Ema, panggil aku Nyonya Ema saja..., dan siapa namamu?" tanya Ema sekali lagi.
"Namaku..., Vallene." ucap Vallene.
"Aku bisa mendengar detak jantung mu yang berdetub kencang, tidak perlu risau..., senang akhirnya ada tamu yang datang sejak 11 tahun lalu. Ah..," ucap Ema dengan nada datar.
"Senang bisa bertemu dengan Nyonya Ema..., aku yakin Nyonya Ema bisa menjaga ku dan membimbing ku sampai seseorang menjemput ku." ucap Vallene.
Ema terdiam.
...
"Kamu anak yang baik ya." gumam Ema.
Mereka masuk ke dalam, Vallene duduk di kursi meja makan yang terbuat dari kayu. Kursi itu terlihat sudah sangat tua dan usang, debu yang tebal dan kayu yang mulai reyot.
Ema membuatkan segelas susu hangat untuk Vallene, Ema duduk di sebelah Vallene setelah memberikan Vallene susu.
"Terimakasih." ucap Vallene yang senang dan tersenyum karena pemberian Ema.
"Sama-sama," ucap Ema yang terdengar sedikit gembira.
...
Setelah Vallene meminum beberapa suap susu hangat, Vallene mengatakan sesuatu.
"Anda sungguh Igine yang baik dan cantik." ucap Vallene memuji.
"Benarkah? Bahkan jika aku telah berusia ratusan tahun...?" ucap Ema.
"Ya..." jawab Vallene.
Ratusan tahun...?
Ema adalah seorang Igine yang berkepala rusa dan bertubuh manusia. Kulitnya berbulu seperti rusa, badannya tinggi, perilakunya dingin dan tegas, pakaiannya juga sopan, gaun yang Ema kenakan juga seperti gaun kuno.
"Setelah ini, Vallene langsung tidur." ucap Ema.
"Secepat ini...?" jawab Vallene.
...
Ema tidak menjawab.
"Ah, ya! Aku akan tidur, bisakah nanti Nyonya Ema mengantar kan ku ke kamar tidur ku? Dan menyanyikan lagu atau membacakan dongeng sebelum tidur." ucap Vallene.
__ADS_1
Ema terkekeh kecil.