
"Meskipun di sini sepi, jujur saja ini sangat menenangkan. Terkadang sendiri adalah hal yang paling dibutuhkan saat kita merasakan hal yang menyedihkan." gumam ku yang sedang merasa hampa.
Aku berbaring di tanah asing itu, tepat disamping kanan ku adalah danau. Aku tidak lagi berpikir seperti "Dimana ini?", "Tempat macam apa ini". Karena benar-benar, terlarut dalam keheningan yang menenangkan.
"Aku tidak peduli aku berada dimana sekarang, sebab ku bisa merasa tenang disini. Aku harap, saat aku lelah nanti bisa kembali pulang di tempat ini." ucap ku.
Langitnya benar-benar bewarna biru, cerah dan indah. Aku tidak pernah melihat langit seperti ini, langit yang tampak dari daratan Luria tidak pernah secerah ini.
Perasaan ku sekarang sangat tidak karuan. Aku senang disini sangat tenang tanpa seseorang pun, tetapi disisi lain aku juga ingin memiliki teman, disisi lain lagi aku juga merasakan rindu dengan seseorang. Apa mau ku sebenarnya, kenapa aku sulit memahami diriku sendiri?
"Aku lama tidak mengeluarkan sihir ku," lantas aku bangun dan duduk, menghadap ke danau yang cantik ini. Aku menggenggam kedua tangan ku menjadi satu, aku menunduk dan menutup mataku.
"Hei, aku memanggilmu." suara yang dikatakan di dalam hatiku. Saat aku membuka mataku dan juga membuka genggaman tangan ku, aku merasa senang karena dia tidak pergi.
Aku juga tidak tau apa alasan aku bisa melakukan ini, tetapi aku senang bisa melakukannya.
"Apa kamu baik-baik saja, aku rasa... aku terlalu berlebihan di waktu itu. Aku terus meminta bantuan mu, maaf jika kamu banyak kehilangan energi gara-gara aku. Tetapi yang mau aku tanyakan..., apakah teman ku dimalam itu benar-benar tewas?"
Aku mohon katakan sesuatu yang aku harapkan, kali ini aku memanggilnya... dia yang selalu membantu ku, kupu-kupu perak yang berkilau. Tubuhnya seperti terbuat dari kristal, tapi kali ini... aku benar-benar memanggil dia yang sebenarnya, bentuknya tidak kecil seperti kunang-kunang. Dia yang sebenarnya ukurannya sebesar dua telapak tangan ku.
Jangan heran jika aku berbicara kepadanya, meskipun ia berwujud seperti ini tetapi terkadang dia juga bisa berbicara meskipun tidak banyak.
"Kamu bisa saja memanggil ku saat kamu dalam bahaya, kenapa kamu menjadi seperti ini. Siapa yang membuat mu menjadi begini."
__ADS_1
Nah kan! Dia benar-benar berbicara, kadang memang dia agak sedikit cerewet. Haha.
"Tidak apa-apa kok, aku kira kamu masih mengisi energi mu lagi. Beberapa waktu lalu aku mencoba memanggil mu, tetapi entah kenapa para kupu-kupu kecil lenyap dengan cepat." aku merasa tidak enak.
"Panggil saja kapan pun kamu membutuhkan ku, aku adalah kekuatan mu. Bentuk dari sihir dan kekuatan mu adalah aku. Jangan biarkan dirimu sendiri terluka Laenore."
Emm, dia memang memanggil ku dengan sebutan Laenore. Padahal aku sudah menjelaskan jika namaku adalah Vallene, tetapi ia mengabaikan ku dan terus memanggil ku dengan nama itu, tetapi aku juga tidak merasa keberatan. Itu nama yang bagus menurut ku.
"Baik..., maafkan aku. Tapi..., apakah kamu mengetahui sekarang aku berada dimana? Tempat apa ini?" aku bertanya.
"Ini adalah tempat yang dibuat oleh Tuan, sebenarnya janin mu tumbuh dan besar disini. Hingga kamu lahir di dunia."
"A-apa? Maksudnya..., tempat ini adalah rahim dari seseorang yang mengandung ku? Apakah aku anak dari Tuan mu itu?" ucapku yang agak kebingungan, tetapi memang dia selalu mengatakan hal yang tidak bisa aku mengerti.
"Kau tidak menjawab pertanyaan ku, hei...?" protes ku, yang tentu saja tidak dipedulikan.
"Jadi bisa dibilang aku ini di dalam kandungan? Aku akan lahir kembali? Tetapi kenapa ingatan ku tidak dihapus oleh sang tertinggi Savhatokha?" bingung ku.
"Serephone, Varanemione, Shopilliane, Scarabish, Moonaka, Phavana, Shavhatokha, Andromeda, dan Merinados. Mereka tidak ada ikut campur dengan mengapa kamu hadir disini."
"Lupakan deh, aku juga tidak peduli terlalu banyak soal itu. Aku senang kok aku disini, tapi aku bisa kembali kan? Kembali ke kehidupan ku di dunia ku awalnya sebagai Vallene." rengek ku.
"Kau tidak ingin terus berada disini? Bukankah disini lebih aman dan tenang untuk mu. Kenapa kau masih ingin kembali ke tempat yang di sebut bumi itu."
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku tidak merindukan bumi, disana adalah tempat dimana aku lahir dan aku besar. Disana juga ada orang-orang yang aku sayang dan teman-teman ku, meskipun disana menang hidup ku menjadi berat. Tetapi siapa yang harus aku salahkan? Siapa lagi kalau bukan diriku sendiri? Yah, aku harus bisa melewati semua itu. Tidak seterusnya juga kok aku menangis.
Terkadang juga aku bersyukur karena aku hidup sebagai diriku, jangan lihat aku saat aku menangis saja, jangan lihat luka-luka ku saja. Lihat juga disaat aku bisa tertawa bahagia setulusnya, aku juga bertemu dengan orang-orang baik yang bisa menerima dan menemani ku. Lihat juga disaat luka-luka ku ini di belai dan di obati, sembuh bisa terluka lagi. Yang aku sukai adalah dimana proses penyembuhan luka ku yang dimana aku ditemani dan dibuat bahagia oleh mereka.
Memang menyakitkan disaat mereka yang membenciku melukis tubuhku dengan pukulan, tetapi juga membahagiakan disaat orang yang menyayangi ku menyembuhkan ku."
Setelah aku mengucapkan kata-kata itu yang entah terucap begitu saja. Dia tidak menjawab, tidak membalas ucapan ku yang menentangnya. Aku tidak tau kenapa, aku tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajah nya. Karena dia benar-benar hanyalah sosok kupu-kupu perak, tubuh dan sayapnya berkilau, yang ku lihat hanyalah kupu-kupu kristal perak berkilau, berterbangan di sebelah ku.
"Ini sebenarnya..., disini juga adalah tempat tinggal ku. Disini juga adalah tempat asal mu. Jika memang kau mau kembali, akan ku izin kan kau kembali. Tetapi ingatlah untuk pulang kembali disaat kau lelah, disaat kau membutuhkan tempat istirahat. Karena kau juga memiliki rumah yang layak, rumah mu sendiri."
***
"Vallene...! Vallene."
Aku kembali, kembali hanya bisa melihat warna hitam. Aku mendengar seseorang memanggilku dengan suara khawatir. Sepertinya itu suara Kenneth, kenapa aku bisa mendengar suaranya? Apakah dia juga berada di tempat ini?
"Akhirnya..., akhirnya kamu sadar...." dengan suara yang berat karena menangis, suara terisak-isak akibat tangisannya juga terdengar.
Eh? Ini dimana? Kenapa aku berada di tempat yang berbeda dalam sekejap?
Vallene tersadar dan membuka mata, Kenneth merasa lega akhirnya. Sudah tiga jam Kenneth menangis sejadi-jadinya karena Vallene yang terus tidak merespon disaat Kenneth mencoba melakukan cara penyembuhan dengan sihir. Tetapi Vallene hanya terus menatap ke langit-langit kamar Kenneth.
"Vallene! Vallene...." gumam Kenneth sambil menggosok telapak tangan Vallene, akhirnya Vallene bisa melirik ke arahnya.
__ADS_1
Kenneth..., menangis. Kenapa? Sepertinya aku diselamatkan lagi olehnya.... Kenapa aku baru sekarang menyesali perkataan ku tadi, seharusnya aku memilih untuk tetap berada di tempat itu daripada melihat Kenneth seperti ini, sial.