
"Rosemary..., dan kenapa Blue Rose memiliki kekuatan yang seperti itu?" tanya Vallene di tengah-tengah cerita, Kenneth tersenyum dan melanjutkan lagi ceritanya.
"Rosemary mengira bunga itu adalah bunga beracun, jadi ia memakan bunga itu berharap dia mati setelah memakannya karena menelan racun. Tetapi itu salah, karena Rosemary memakan salah satu dari tujuh bunga itu membuat enam sisa bunganya menjadi bunga beracun." cerita Kenneth berakhir.
"Hanya seperti itu saja? Bagaimana kelanjutannya? Seperti..., apa yang terjadi kepada Rosemary? Dan..., kenapa itu menjadi sihir yang kuat?" ujar Vallene yang sepertinya tidak puas.
"Aku juga tidak tau, guruku hanya bercerita sampai disini dan dia tiba-tiba menjadi tidak enak badan, beliau izin pulang dan meninggalkan waktu pelajarannya. Keesokan harinya dia dikabarkan meninggal." ujar Kenneth.
"Hah kenapa begitu tiba-tiba?" tanya Vallene.
"Hmm jujur aku merasa sedih juga, dia adalah guru yang baik..., tapi tidak aneh juga sih, beliau sudah tua dan sakit-sakitan." jawab Kenneth.
"Emm..., begitu ya...?" seru Vallene. Kenneth hanya mengangguk kecil.
"Ah,ah! Bila anak seusia ku memiliki Blue Rose bagaimana menurut mu?" perkataan Vallene sepertinya membuat Kenneth tidak suka.
"Tidak boleh, jangan berandai-andai." ucap Kenneth.
Serius banget, kenapa dia menjadi sensitif tentang Blue Rose ini? Padahal dengan sihir kuat lain dia biasa saja.
"Oke, oke..., maaf...!" Vallene mengalah.
Kenneth langsung membuka buku dan membacanya, nampaknya Kenneth dalam suasana hati yang kurang baik.
Apakah aku berlebihan...?
"Apakah kamu tidak penasaran seperti apa Franschine...? Seperti..., bagaimana bentuk hidungnya dan berapa jari tangannya?" Vallene berusaha mencairkan keadaan.
"Huh..., aku benar-benar tidak bisa diam kepadamu ya. Aku sudah melihat beberapa lukisan dari Nyonya Fred, di kediaman Fred tentunya. Menurut ku dia memang terlihat agak..., galak mungkin...? Hha...," ucap Kenneth.
"Hahaha, bukan mungkin galak! Tapi memang galak! Dulu aku pernah menemukan sebuah buku tahunan milik Franschine, isinya tentu saja foto-foto tahunan milik Franschine dan teman-teman sekolahnya.
Dan apa yang kau tau? Hahaha! Hahahaha! Astaga..! Hahahaha!" Vallene tertawa terbahak-bahak.
Aku belum pernah melihatnya tertawa seperti ini, hahha..., dia lucu juga. Jadi..., hal yang sial bagi Nyonya Fred adalah kesenangan bagi Vallene ya?
"Kau belum mengatakan hal yang menjadi intinya tetapi kau sudah tertawa duluan, lawakan macam apa itu?" ucap Kenneth.
__ADS_1
"Hahahaha, maaf..., maaf, hhhehahha! Jadi, Franschine kecil terlihat sama saja seperti sekarang, dia dulu terlihat kucel dengan wajah yang kemerahan di hidung dan sekitar pipi, dan dia juga memiliki banyak freckles.
Rambutnya acak-acakan seperti tidak pernah di sisir, ya meskipun pakaian dan perhiasan yang ia kenakan memang mewah dan mahal. Tetapi seperti tidak pantas saja, dia sangat jelek. Dan menurutku dia tidak terlalu populer, fotonya saja hanya ada lima foto diantara tiga ribu foto." ucap Vallene dengan ekspresi puas.
"Hahaha benarkah, tidak mirip dengan Vallice sekarang ini?" ujar Kenneth.
"Hei, Vallice dan Franschine benar-benar berbeda! Tidak sama, sama sekali tidak sama! Vallice kecil kan manis dan cantik, senyumannya sangat manis bagaikan kukis yang baru matang, berbeda dengan Franschine.
Senyumannya dapat menghancurkan rata dunia, Franschine kecil juga memakai behel. Mungkin giginya saja yang terlalu maju." ujar Vallene.
"Mereka sangat berbeda? Benarkah, biasanya anak perempuan kecil sama seperti ibunya saat masih kecil." ucap Kenneth.
"Kali ini tidak, Vallice menurut ku lebih mirip dengan ayahnya. Ayah Vallice sangat tampan, dan juga..., mata Vallice, warna rambut Vallice dan banyak fisik Vallice yang mengikuti ayahnya." ujar Vallene.
"Benarkah, aku tidak pernah melihat Grand Duke Albern sebelumnya. Bagaimana kau bisa bertemu dengan beliau?" ujar Kenneth.
"Pernah sekali dia pulang ke kediaman Fred untuk pertama kali, ayah Vallice benar-benar terlihat seperti..., seperti pria." ujar Vallene.
"Yang benar saja..., ehh..., tetapi kamu juga cantik sekali, rambut dan matamu membuatmu terlihat berbeda dan memiliki kecantikan tersendiri." ujar Kenneth.
"Benarkah? Aku juga terlihat cantik seperti Vallice?" seru Vallene yang kegirangan.
"Iya...," suara Kenneth sungguh halus, Vallene hanya cekikikan.
"Ehhe, emm..., aku juga tidak tau sih sebenarnya aku ini mirip dengan siapa. Ayah atau ibuku...? Menurut mu?" tanya Vallene.
"Mungkin Vallene mirip dengan ibu Vallene? Soalnya, kau itu cantik..., senyuman mu juga manis, suara mu juga halus, tetapi sikap mu yang kadang menyebalkan dan sifat mu yang keras kepala mungkin mirip dengan ayah Vallene." ucap Kenneth.
Pembicaraan ini benar-benar menghiburku, jadi sadar sebenarnya aku pun juga memiliki orang tua. Meskipun sering lupa aku juga terlahir karena mereka, tetapi seperti apa mereka? Dimana mereka?
"Menurut mu, apakah mereka sebenarnya sayang kepadaku..?" ucap Vallene.
"Tentu saja, pencuri mencuri sepotong roti untuk anak mereka makan. Prajurit ikut perang dan pelatihan selama beberapa tahun tanpa bertemu keluarga mereka, itu juga demi keluarganya, demi anaknya." ucap Kenneth.
"Benarkah...? Tetapi orang tua ku bukanlah pencuri atau prajurit, aku juga tidak tau siapa mereka, dimana mereka." ucap Vallene.
"Eh..., apapun yang terjadi..., kamu lah yang menjadi harapan mereka. Aku tidak tau segalanya, jadi..., aku juga tidak bisa menjawab pertanyaan mu. Tetapi jangan menyalahkan apa yang belum tentu bersalah." ujar Kenneth.
__ADS_1
"Iya..., terimakasih..., itu adalah respon terbaik selama ini." seru Vallene, Vallene tersenyum manis kepada Kenneth.
"Iya," Kenneth juga tersenyum, tetapi Kenneth merasa kasihan kepada Vallene.
Vallice kemudian tiba dengan membawa keranjang, yang isinya tentu saja minuman.
"Kakak, kak Kenneth! Maaf aku lama!!!" teriak Vallice.
Vallice kemudian sampai di bawah pohon tempat mereka berkumpul, dengan nafas terengah-engah.
"Kamu berlari ya? Duduk dulu...," ujar Vallene.
Kemudian Vallice meletakkan keranjang yang ia bawa dan ambruk begitu saja di pangkuan Vallene.
"Huft, huft..., iya..., aku takut kalian menunggu lama." ujar Vallice yang kelelahan.
"Santai saja, seperti dengan siapa saja." ujar Kenneth yang telah membawakan tiga gelas minuman yang telah ia siapkan untuk mereka masing-masing.
Gelas milik Vallene ia letakkan di samping Vallene, dan selanjutnya gelas milik Vallice ia tawarkan kepada Vallice sendiri.
"Ini..., minum agar menjadi segar." tawaran Kenneth dengan senyuman mentarinya.
Memang boleh semanis ini? Seperti aku bisa meneduh di bawah senyuman, menyebalkan! Bolehkah aku langsung mencubit pipinya saja? Aduh, etika ku..., kenapa dia begitu menyebalkan! Tetapi aku suka melihat perilakunya yang menyebar ini.
"Terimakasih...," ucap Vallice dengan wajah yang ramah, berbeda sekali dengan isi hatinya.
Mereka duduk dan minum menikmati minuman sambil melihat awan siang hari.
Hmm, Vallice benar-benar memakai pin bunga biru itu setiap hari.
Vallene sempat melirik Vallice sebentar dan melihat pin bunga yang Vallice kenakan, kemudian Vallene menutup matanya.
...
"Apakah kalian ingin makan ikan bakar? Aku bisa menangkap ikan di sungai lho!" seru Vallice.
"Dengan tangan kosong...? Kita tidak memiliki peralatan memancing." sahut Kenneth.
__ADS_1
"Ya! Dengan tangan kosong!" ucap Vallice dengan yakin.
"Srhuttttt!" minuman yang Vallene akan telan sudah menyembur duluan, keluar dari mulutnya seperti hujan deras. Kenneth dan Vallice yang melihatnya jadi terkejut.