
"Kita akan kemana?"
"Mengunjungi makam seseorang,"
...
Seminggu telah berlalu, Vallene sudah bisa berdiri sendiri dan kembali pulih perlahan meskipun luka-lukanya masih basah. Begitu pula dengan Kenneth, ia juga telah kembali pulih.
Keesokan harinya, tepat jam tiga sore Vallene, Vallice, dan Kenneth sedang bersiap-siap. Mereka membawa baju ganti dan beberapa kebutuhan mereka.
Mobil milik keluarga Fred sudah siap di depan, mereka selesai membereskan apa yang mereka akan bawa dan keluar.
"Kita akan kemana?" tanya Kenneth saat sedang menuruni tangga depan. Dan saat mereka sudah menginjak tanah, Vallene menjawab pertanyaan Kenneth.
"Mengunjungi makam seseorang," jawab Vallene.
Makam seseorang? Apakah..., makam orang tua Vallene?
Kenneth diam karena berfikir, singkat cerita mereka sudah di tengah perjalanan. Vallice tertidur di kursinya yang duduk bersebelahan dengan Kenneth.
Vallene melihat dari spion dalam, Vallice tertidur dengan menyender ke bahu Kenneth. Begitu juga Kenneth yang terlelap dan menyender ke kepala Vallice yang menyender ke bahunya.
Vallene bisa melihat itu karena ia duduk di sebelah bangku supir, Vallene tertawa kecil melihat Kenneth dan Vallice yang ketiduran.
"Pak, apakah ini masih jauh?" tanya Vallene kepada supir.
"Tidak kok, beberapa belokan lagi akan sampai Vallene." jawab supir.
Vallene mengangguk dan diam, ia kemudian melihat keluar kaca mobil. Ia melihat jika sebenarnya mereka melewati hutan yang sepi dan agak menyeramkan karena pohonnya berukuran besar dan suasana yang sepi.
Tetapi masih ada beberapa orang yang lewat juga selain mereka, tidak banyak dan tidak sering. Tentu saja bukan kendaraan mobil seperti yang Vallene naiki, tapi kereta kuda dan gerobak lain yang di tenagai oleh hewan.
"Ini sudah memasuki desanya, kamu lihat kan dari sini mulai ada beberapa orang lewat." seru pak supir.
"Iya, benar!" jawab Vallene.
***
*Tok *Tok *Tok.
"Iya sebentar," jawab seseorang yang berada di dalam.
Pintu dibuka dan orang pemilik rumah menyambut kedatangan mereka.
"Eh? Nona..., Nona Fred?" ujar si pemilik rumah.
"Iya...," jawab Vallice dengan sopan.
Mereka semua diajak masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Ehh, ada apa ya Nona...? Senangnya bila rumah saya dikunjungi oleh Nona, tapi kalau boleh tanya..., ada keperluan apa biar saya penuhi...." ujar si pemilik rumah.
Disana Kenneth, Vallene, Vallice, dan supir duduk di lantai karena rumah Miranda tidak memiliki kursi.
"Apakah anda adalah ibunda dari Bibi Miranda...?" ujar Vallene dengan lembut.
"Ah benar Nona...," jawab ibu Miranda dengan menunduk.
"Disini aku ingin mengunjungi makam dari Bi Miranda..., apakah Bibi mengizinkan saya?" ucap Vallene.
"Tentu saja Nona...," jawab ibu Miranda dengan mata berkaca-kaca.
"Terimakasih," ucap Vallice.
"Terimakasih..., ke-kenapa Bibi menangis?" ucap Vallene yang menyadari.
Karena Vallene bertanya, ibu Miranda yang awalnya menahan tangisnya menjadi menangis.
"Bibi...," gelisah Vallene.
"Miranda adalah anak saya satu-satunya, dia adalah harapan saya..., ayah Miranda yaitu suami saya terkena penyakit stroke dan lumpuh selama delapan tahun. Miranda lah yang selama ini menghidupi kami, tetapi... suatu hari....
Miranda akhirnya pulang, lima tahun sudah Miranda pergi dari rumah ini untuk berkerja. Dan di malam itu putri ku pulang..., pulang dengan keadaan yang berbeda dengan putri ku lima tahun lalu...." ibu Miranda menangis.
"Miranda pulang, dia sudah berada di dalam peti. Aku langsung menangis sejadi-jadinya, aku belum bisa membahagiakan putriku... aku selama ini hanya membebani putriku, putriku telah pergi..., tubuhnya dingin, kulitnya pucat. Selama tiga hari aku menangis dengan memeluk nisan putriku." ujar ibu Miranda dengan air matanya yang bercucuran.
"Maaf... maaf Nona..., Tuan..., saya tidak bermaksud..., ehh... saya bisa mengantarkan Nona. Saya akan mengganti pakaian, saya baru selesai memasak." ujar Ibu Miranda sambil mengusap air matanya dengan tergesa-gesa.
"Bibi..." gumam Vallene.
Ibu Miranda mendengar dan hanya tersenyum, kemudian ibu Miranda pergi masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
"Siapa itu Miranda?" tanya Kenneth kepada Vallene.
"Dia adalah pelayan keluarga Fred, yang cukup dekat dengan ku dan Vallice." jawab Vallene.
Mereka berdua menoleh setelah ke arah Vallice setelah mereka saling berbicara. Karena terdengar tangisan, ternyata Vallice sedang menangis.
"Vallen...." lirih Vallene mencoba membelai Vallice. Vallice langsung memeluk Vallene dan menangis secara keras.
"Kakak...," gumam Vallice yang tidak begitu jelas.
"Baiklah Nona, dan Tuan, saya akan menunggu di dalam mobil." sahut supir, Kenneth mengiyakan supir dan menyuruh supir segera keluar karena tidak ingin keadaan Vallice sekarang di lihat orang lain.
Tidak lama kemudian Vallice menjadi tenang. Vallice melepaskan diri dari pelukan sambil menghapus air mata.
"Jika kamu tidak ingin, maka tunggu saja di mobil. Aku tidak ingin melihat mu seperti ini." ucap Vallene untuk Vallice, dan Vallice pun mengangguk.
Kemudian ibu Miranda keluar dari kamar.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan mengantarkan kalian Nona, Tuan." ucap ibu Miranda.
***
"Ini adalah makam anak saya." ucap ibu Miranda.
Mereka bertiga yaitu Vallene, Kenneth dan ibu dari Miranda telah tiba di makam Miranda. Vallene kemudian berjongkok di samping makam Miranda, Kenneth berdiri di sebelah Vallene.
"Eh..., Nona ini siapa ya? Eh.., maaf jika saya lancang... hanya saja saya belum pernah melihat Nona ini jadi..., agak bingung...," ucap ibu Miranda.
Vallene berdiri dari jongkoknya, dengan menunduk sambil memandangi nisan Miranda Vallene menjelaskan.
"Nama saya adalah Vallene, dan Bibi jangan memanggilku nona..., karena aku tidak sama dengan Vallene. Lagipula aku juga tidak terhormat dibandingkan Bibi...," lirih Vallene.
"Ah..., emm...," ibu Miranda kebingungan akan menjawab apa, dan Vallene hanya tersenyum. Keadaan menjadi sedikit aneh.
"Kenapa Nona Vallice tidak ikut bersama kita?" ibu Miranda mencoba menanyakan hal lain.
"Dia lelah dan istirahat di dalam mobil Bibi," sahut Kenneth.
...
"Tuan Kenneth! Tuan..., ah akhirnya saya menemukan anda."
"Ada apa pak supir?" ucap Kenneth yang kebingungan karena supir tiba-tiba datang dengan berlari, supir terlihat sedikit terburu-buru.
"Itu..., Nyonya..., Nyonya Fred akan datang malam ini. Kembali pulang, dan dia mau Nona Vallice menyambutnya." ujar supir.
"Ahkk...," desah Kenneth.
***
*Tok tok tok.
"Permisi...,"
*Tok tok tok.
*Pintu terbuka.
"Siapa? Kenapa kamu datang di hari petang menjelang malam begini, di tengah hutan."
"Aku disini sebagai anak asuh mu," ucapnya sambil memberikan surat.
"Ya, aku mengerti..., masuklah ke dalam. Buat dirimu nyaman." kata si pemilik rumah yang menggandeng anak itu masuk ke rumahnya. Kemudian pintu di tutup.
...
"Kamu sekarang di titipkan kepada ku, kamu harus mengikuti aturan ku disini. Aku juga bertanggung jawab menjaga mu."
__ADS_1