For a Freedom

For a Freedom
YINNE : FOR FREEDOM (34)


__ADS_3

Dia masih tidak mengerti apa yang aku katakan.


"Hash," desah Vallene.


Singkat cerita waktu sudah menunjukkan pagi hari di keesokan harinya, di pagi itu mereka berkumpul yaitu Vallene,Vallice dan Kenneth di kamar Vallice untuk membuka sisa kado yang sangat banyak.


"Kemarin kamu buka berapa banyak?" ujar Vallene.


"Tidak banyak, mungkin 3 hadiah! Pemberian dari putri Caleste Gaiyu, pangeran Luke Phillia dan sahabat pena ku dari Shopillia Barat yaitu Rose." jawab Vallice.


"Wah, dan lihat betapa banyak hadiah yang kau terima saat ini." ujar Vallene sambil memandangi banyaknya jumlah kado.


"Hadiah apa yang kamu terima dari mereka?" tanya Kenneth.


"Putri Caleste memberiku cawan perak, pangeran Luke memberiku tiara dan Rose memberikan buket bunga yang banyak sekali." jawab Vallice.


"Hahaha teman mu itu romantis sekali ya, mari kita mulai acara pembedahan hadiah ini. Aku suka!!!" seru Vallene kegirangan.


Vallene langsung duduk dan membantu membuka hadiah, begitu juga Vallice dan Kenneth. Dari gaun sampai sepatu, tas dan beberapa benda yang disukai para wanita semua ada.


"Aku rasa kamu bisa buka butik deh." ujar Vallene.


"Sebanyak ini..., aku tidak bisa memakai semuanya." ucap Vallice, berdiri diantara tumpukan hadiah dengan pasrah.


Aku tidak terlalu paham dengan barang 'wanita', aku akan diam saja.


Batin Kenneth yang juga terlihat ikut serta saja, mereka bertiga bingung akan diletakkan dimana hadiah hadiah ini.


Ada dua kotak hadiah lagi yang belum dibuka, memang berukuran kecil dan tidak berat. Saat Kenneth menemukan kedua hadiah itu ia langsung mengambil dan menyerahkannya kepada Vallice untuk Vallice buka.


"Ini, masih tersisa." ujar Kenneth sambil mengulurkan barang tersebut. Membuat Vallice tersipu.


"Ah, terimakasih kak Kenneth." ujar Vallice.


Saat dibuka kedua hadiah tersebut berisi giok yang terukir indah dan gelang batu. Mereka bertiga terkagum dengan barang itu.


"Wah, ini sangat cantik! Tapi apa gunanya ini?" ujar Vallice.


"Itu batu giok, yang biasa digunakan oleh orang-orang di Shopillia Barat. Biasanya sih di pakai di perut seperti ini." jawab Vallene sambil memasang giok di badan Vallice.


"Oh seperti ini..., menurut ku jika aku yang memakainya kok tidak cocok ya." ujar Vallice.


"Mungkin kamu memerlukan pakaian khas Shopillia Timur juga haha." ujar Vallene.


"Tapi menurutku kamu cantik kok." tiba-tiba Kenneth menyahut dan mengejutkan mereka berdua, membuat Vallice tersipu malu dan wajahnya menjadi merah. Disisi lain Vallene terkejut karena merasa Kenneth terang terangan sekali.

__ADS_1


A-aku ngomong apa sih...? Harusnya kan itu suara yang didalam batinku saja.


"Haha, ha..., tapi memang benar lho..." ujar Kenneth.


...


Singkat cerita mereka selesai dan membersihkan sisa-sisa dari kotoran dan robekan kertas kado, merapikan barang-barang. Memilah mana yang akan dipakai dan mana yang akan di sumbangkan saja.


Setelah itu mereka bersantai dengan duduk di balkon yang berada di kamar Vallice. Mereka duduk menikmati sinar matahari pagi dan meminum minuman segar.


Aku jadi teringat kejadian dimalam itu, sebenarnya itu benar-benar kenyataan atau hanya mimpi aneh ku saja? Tapi kalau bukan mimpi..., kenapa sihir Blue Rose ku menjadi kenyataan?


Yang paling membuat ku bingung adalah kata-kata dari wanita di malam itu, dan..., kenapa dia agak mirip dengan..., kakak? Apa aku harus menceritakan hal ini kepada kakak ya?


Hmm, tidak dulu deh..., sifat kakak kan seperti itu. Nanti dia bakal berusaha keras untuk mencari kebenaran dari ucapan ku padahal aku juga belum yakin.


"Selamat untuk hari ini, dan semangat untuk hari besok! Besok kan kamu sekolah, kalian sekolah." ujar Vallene.


"Aku malas..., agh kenapa besok tiba-tiba sudah hari Senin?" Vallice mengeluh.


"Hmm, memangnya kenapa Vallene tidak sekolah?" Kenneth bertanya.


"Banyak sih faktor yang mempengaruhi, seperti aku tidak memiliki identitas diri, tidak punya surat orang tua, dan masih banyak lagi!" seru Vallene.


"Ah, haha..., aku juga tidak minat untuk sekolah juga kok! Asal aku bisa menulis dan membaca itu saja sudah cukup bagiku." seru Vallene.


"Ayo!" teriak Vallice.


"A-apa?" ucap Vallene yang kebingungan.


"K-kemana?" ucap Kenneth yang juga kebingungan kerena tiba-tiba sekali Vallice berteriak.


"Ayo kak! Kita sekolah bersama saja! Aku sangat menantikan ini! Pasti seru banget bisa berangkat dan pulang bersama kakak, nanti disana kakak bisa menjadi teman Vallice! Vallice akan pamer kepada semua murid bahwa Vallice memiliki kakak yang cantik dan terbaik." seru Vallice.


Apa? Anak ini..., astaga semua dibawa serius.


"Hei, aku hanya bercanda kok...! Lagipula..., sulit juga kan untuk mengurus semuanya...." ujar Vallene.


Vallice mengerti dan ia menjadi murung, Vallene berusaha membujuknya untuk tidak murung seperti itu.


"Hei..., ayolah..., tidak apa-apa...," ujar Vallene.


Kemudian Kenneth juga menepuk pundak Vallice dan mengatakan hal yang menyenangkan hatinya.


"Vallice, benar apa kata Vallene. Aku sudah tau kok latar belakang Vallene..., itu memang akan sulit bagi Vallene untuk bersekolah..., tetapi tenang saja!

__ADS_1


Vallene akan baik-baik saja bila kamu belajar dengan baik di sekolah, itu kan juga membuat Vallene mengerti bagaimana kehidupan di sekolah. Kamu bisa menceritakan semua pengalaman mu kepada Vallene, terkadang sesuatu yang kecil itu juga sangat membahagiakan..., benarkan Vallene?" ujar Kenneth dengan hangat dan lembut.


Kemudian Vallice tersenyum kepada Vallene, memeluk Vallene.


.


***


"Kau yakin aku tidak apa-apa tidur di kamar mu? Bagaimana jika para pelayan tidak setuju dan mengusir ku?" bisik dari Vallene.


"Tidak apa-apa kok, mama sedang berkerja selama 5 bulan ini, dia tidak akan kembali dengan cepat." ujar Vallice.


...Wah, lama juga perginya....


"Ah baiklah juga begitu." ujar Vallene.


Vallene dan Vallice masuk ke dalam kamar Vallice, disana mereka berencana untuk tidur bersama selama mungkin sampai Franschine datang.


"Kakak! Aku sangat merindukan tentang ini! Pesta piyama dengan kakak!" seru Vallice.


"Kita hampir setiap hari tidur bersama, kamu kalau tidur mendengkur tau." ucap Vallene dengan nada meledek.


"Ihh, kakak kalau tidur seperti baling-baling." jawab Vallice yang kembali meledek.


"Kamu ini..., eh? Kenapa kamu masih menggunakan pin ini? Ini kan sudah mau tidur, kau sudah menggunakannya seharian, kenapa tidak dilepas?" ujar Vallene yang penasaran dengan pin bunga mawar biru yang terpasang di baju bagian dada sebelah kiri Vallice.


"Emm, a-aku suka saja dengan ini..., aku ingin membawanya tidur juga!" jawab Vallice.


"Kau tak takut payudara mu bisa tertusuk saat kau lagi tidur?" seru Vallene.


"Ihh, kakak! Emm, kalau aku bilang pin ini bukan pin biasa bagaimana?" ujar Vallice.


"Maksudnya?" ujar Vallene.


"Yah..., maksud ku lihatlah! Ini kan terlihat seperti bunga aslinya kan?" seru Vallice.


"Iya benar! Tidak terlihat seperti terbuat dari kain." ujar Vallene.


"Ya karena ini memang..., asli dan ini memiliki sihir..., sedikit...?" ujar Vallice.


"Tunggu sebentar, apa maksud mu?" ujar Vallene yang terkejut.


Aduh kakak ini..., kenapa dia tidak mengerti?


"Begini..., bagaimana jika aku bilang kalau ini adalah Blue Rose...?" ujar Vallice dengan serius menatap Vallene.

__ADS_1


__ADS_2