For a Freedom

For a Freedom
YINNE : FOR FREEDOM (27)


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, keadaan mu kian membaik. Dan itu membuat ku merasa cukup, aku ikut senang jika aku melihat senyum yang terukir di wajahmu.


Sekarang, dirimu sudah sembuh sepenuhnya. Aku bisa melihat kecemasan dan keraguan di hatimu saat kita berada di perjalanan menuju rumah 'Itu'.


Percayalah kepadaku sekarang, kau tidak akan sendirian seperti sebelumnya. Aku akan berusaha sebisa mungkin melindungi mu seperti ayah ku melindungi mu.


...


"Vallene, apakah kamu merasa sedih?" Kenneth.


Vallene hanya terdiam dan terus melihat ke arah jendela mobil, seperti meratapi sesuatu. Siapapun bisa melihat jika dia dalam keadaan hati yang kurang baik.


"Kamu kenapa menjadi diam begini, padahal sebelum kita berangkat tadi kamu sangat gembira lho. Bukannya kamu sangat senang akan memberi Nona Vallice kejutan?" ucap Kenneth dengan lembut.


...


"Hmm, aku tidak tau apa yang harus ku katakan jika dia bertanya 'Dimana kamu selama ini?' 'Kenapa kamu meninggalkan ku?', aku harus bagaimana?


Aku tidak ingin menyakiti perasaannya...." ujar Vallene dalam diam merenung.


Tatapan matamu yang kosong menjelaskan semuanya.


"Memangnya apa yang telah kamu alami?" Kenneth.


Vallene menoleh kepada Kenneth dengan tatapan yang dingin.


Dia ingin mendengar ku bercerita? ... aku... aku tidak ingin berbagi kisah ku.


"Aku tidak ingin menceritakan cerita sedih kepadamu." jawab Vallene.


Setelah itu Vallene kembali melihat ke luar jendela, menikmati jalanan yang ia lalui dengan tatapan sedih. Karena ia tau, dia berjalan mendekat menuju rumah Fred.


"Vallene..., kelas berapa kamu sekarang." mencoba berbasa-basi agar suasana tidak canggung.


"Aku tidak sekolah, tapi aku bisa membaca dan menulis. Aku juga-" Vallene tidak melanjutkan perkataannya setelah ia melirik melihat supir.


"Kenapa tidak? Dan juga apa?" ujar Kenneth yang penasaran.


"Dan aku juga sedikit lumayan pintar, kurasa haha." Vallene bercanda, tetapi tujuan dia agar supir tidak menguping inti pembicaraan mereka.


Akhirnya dia tertawa lagi.


"Ah benarkah haha," Kenneth juga ikut tertawa.


"Kamu ini umur berapa kok terlihat lebih besar di banding aku." ucap Vallene sambil memeriksa badannya.


"Aku berusia 15 tahun di tahun ini, dan Vallene?" ujar Kenneth.


"Wahh, seharusnya aku memanggilmu kak Kenneth! Kamu lebih tua dariku 3 tahun! Aku berusia 12 tahun di tahun ini!" seru Vallene.

__ADS_1


"Tidak perlu ah, panggil Kenneth saja lebih akrab" Kenneth merasa tidak enak.


"Huh kenapa? Iya deh...." jawab Vallene.


Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, mereka akhirnya sampai ke kediaman Fred. Hari sudah petang dan akan gelap. Kenneth turun dari mobil, tetapi Vallene sepertinya ragu untuk turun.


Kenneth menghampiri Vallene dan tersenyum kepadanya, dengan mengatakan kata-kata yang lembut untuk Vallene.


"Jangan takut, aku ada disini." ucap Kenneth.


Memang itu hanyalah kata-kata singkat dan biasa, tetapi saat Kenneth mengucapkannya kata-kata itu terdengar meyakinkan dan hangat. Membuat Vallene akhirnya tenang dan menerima bantuan tangan Kenneth untuk membantunya turun.


"Terimakasih...," Vallene.


"Iya, oh apakah malam ini akan ada pesta disini?" tanya Kenneth setelah ia melihat rumah Fred telah di hias dan banyak pelayan yang sibuk.


Ah aku lupa?


"Sekarang tanggal berapa?" tanya Vallene.


"Tanggal 19 Mei? Ke-kenapa?" jawab Kenneth dengan kebingungan.


"Astaga serius? Hari ini adalah malam ulang tahun Vallice! Kamu masuk duluan saja dari pintu depan, aku akan pergi dulu ya! Bye!" Vallene.


"Ehh...? Ada apa?" Kenneth mencoba bertanya tetapi ia terlambat, Vallene sudah berlari menjauh.


***


"Huh... di luar sana sangat ramai, untung aku berhasil masuk tanpa diketahui mereka. Tempat ini, menjadi sedikit rapi."


Vallene berhasil masuk lewat pintu belakang yang kebetulan sepi, dan dia akhirnya masuk ke kamarnya. Dia menutup pintu, dan masuk ke dalam.


Melihat kasurnya tertata rapi dan ada beberapa buku pelajaran milik Vallice, Vallene mengambil buku itu dan ia tau bahwa selama ini ternyata Vallice belajar sendirian di tempat ini.


Ada beberapa catatan di beberapa buku nya, tertulis hari demi hari dia menceritakan isi hatinya disaat Vallene tidak ada.


'Kapan kakak kembali?', 'Aku menunggu kakak', 'Aku merindukan kakak.', 'Aku harap kakak tidak merasa sedih seperti ku.'.


Itulah kalimat yang terus Vallice tuliskan di bukunya, membuat Vallene menjadi tersentuh dan menjadi sedih.


Air mata Vallene keluar, tetes demi tetes air mata keluar membasahi tulisan itu.


Maaf jika aku terlalu egois, aku tersadar jika tidak hanya aku yang bisa bersedih di dunia ini. Aku merasa..., aku lah yang paling menderita....


Tetapi, disaat aku bersedih.... Aku juga membuat orang lain sedih. Vallice dan Cicaline, dimana pun kalian sekarang.


Aku ingin langsung memeluk kalian disaat aku melihat kalian, tidak peduli dimana pun tempat dan waktu.


"Sekarang aku harus mencari dia, aku juga sangat..., sangat merindukan mu." gelisah Vallene.

__ADS_1


Vallene langsung berlari keluar dari kamar yang redup itu. Berlari dengan rasa sedih yang bercampur dengan rasa rindu.


***


"Kemana Vallene ini, ini taman belakang bukan? Kenapa aku tidak bisa menemukannya?" gumam Kenneth yang telah berjalan kesana kemari mencari Vallene.


Saat ia melewati pagar tanaman yang cukup tinggi, ia mendengar teriakkan seseorang dari balik pagar tanaman itu. Kenneth terkejut dan langsung berlari ke belakang dan memeriksa siapa disana.


Dia menemukan seorang gadis yang membungkuk kesakitan sambil memegang tangan kanannya yang terluka.


Kenneth perlahan-lahan mendekati gadis itu, karena khawatir dengan lukanya Kenneth menanyakan keadaan gadis itu.


"Kenapa tangan mu bisa terluka? Itu mengeluarkan banyak darah..., apa kamu tidak apa-apa?" Kenneth bertanya kepada gadis itu, dengan suaranya yang lembut dan hangat.


Gadis itu menoleh ke belakang, memeriksa siapa yang sedang bertanya dan menghawatirkan nya. Mereka saling bertatapan, mata bertemu dengan mata.


Membuat Kenneth merona karena melihat wajah manis gadis itu, dia adalah Vallice. ... begitu juga Vallice, ia juga merona dan terpesona karena melihat sosok Kenneth, seseorang yang tampan dan hangat.


Keadaan menjadi canggung.


...


"Ah, apakah kamu kesakitan..., biar ku belai luka mu dengan sapu tangan ku ya." Kenneth berjongkok dan mendekati Vallice, dengan menyodorkan sapu tangan yang ia bawa.


Vallice merasa tenang karena mendengar suara Kenneth, Vallice menjadi malu setelah melihat wajah Kenneth dalam keadaan khawatir itu. Sepertinya Vallice menyukai Kenneth dalam pandangan pertama.


"Aku tidak apa-apa kok..., hanya tertusuk duri bunga mawar." ucap Vallice dengan gugup karena jarak mereka berdua sangat dekat.


Kenneth kemudian tersenyum kepada Vallice, membuat Vallice terpaku karena melihat senyum nya yang hangat bagaikan sinar mentari pagi.


Kenneth mengulurkan tangannya dan membelai tangan Vallice yang terluka, membuat Vallice terkejut dan langsung reflek menarik tangannya dari genggaman Kenneth.


Tidak!


"Jangan! Aku..., aku bisa melakukannya sendiri." ujar Vallice dengan gagap.


Ehh? Apa dia merasa tidak nyaman?


"Baiklah, maaf jika aku tidak sopan. A-aku tidak tega melihat luka di tangan mu." ujar Kenneth yang malu.


Kenneth memberikan sapu tangannya kepada Vallice, Vallice kemudian menerima pemberiannya dan membalut lukanya sendiri.


Karena Vallice kesulitan untuk mengikat lukanya dengan satu tangan, melihat itu Kenneth langsung membantu mengikatkan sapu tangan.


Membuat detak jantung Vallice berdebar kencang. Tetapi Vallice tidak paham dengan apa yang dia rasakan sekarang.


"Terimakasih...," ucap Vallice.


"Sama-sama, apakah sekarang kamu merasa lebih baik?" ucap Kenneth dengan senyum yang manis, membuat Vallice gugup dan merasa malu.

__ADS_1


__ADS_2