
Aku menangis terlalu lama, hingga membuat kepalaku pusing dan....
"Iya aku baik-baik saja," rintih Vallice sambil memegang kepalanya, dan mata bengkak nya itu mulai terbuka.
Sedikit demi sedikit ia mencoba sadar, saat ia berhasil membuka matanya ia menemukan Kenneth berada di sampingnya, ia terkejut.
"Apa?" ujar Vallice dengan tiba-tiba, dan itu juga membuat Kenneth terkejut.
"Apa? Ke-kenapa?" Kenneth kebingungan, kemudian Vallice tertawa kecil melihat tingkah laku Kenneth yang membuatnya tertawa.
Kakak!
"Kamu nyata?" tanya Vallice kepada Kenneth, Kenneth kebingungan dengan apa yang Vallice katakan.
"Aku kira kamu bagian dari mimpi tidak jelas ku...." ujar Vallice, yang semakin membuat Kenneth kebingungan.
Aku tidak nyata baginya? Bagian dari mimpi aneh saja?
"Nona, apakah saya terlihat seperti mahluk tak kasat mata..?" ujar Kenneth.
Vallice terdiam dan tersenyum dengan paksa, ia tidak sadar bahwa ia mengatakan suara hatinya di depan Kenneth sendiri.
Apa-apaan aku ini?
"Ma-maaf, aku tidak bermaksud...." Vallice gagap.
.
"Aku membawakan teh dan biskuit hangat untuk adikku, terimakasih Kenneth karena sudah menjaga Vall-"
Vallene masuk ke dalam kamar Vallice, yang dimana Vallice telah sadar dari pingsannya dan membuat mereka saling bertemu dan menatap.
Saat mereka mempertemukan mata mereka, mereka sempat terdiam beberapa detik. Terlihat mata Vallice yang berkaca-kaca, Vallice terdiam cukup lama untuk ini.
Vallene juga tidak kuasa melihat Vallice secara langsung seperti ini, ia meneteskan air mata. Setelah itu Vallene mencoba tenang dan menghela nafas dan menutup matanya.
"Aku kan bukan kakak mu." ucap Vallene.
"Aku juga bukan adik mu. Tapi kamu kakak ku," jawab Vallice, yang membuat Vallene seketika membuka matanya.
Ha... percakapan kita yang seperti ini, aku merindukan ini. Dia masih sama saja...,
"Hahah, itu adikku...,"
"Selamat ulangtahun." ucap Vallene dengan senyum lebar untuk Vallice, membuat Vallice juga tersenyum dan segera menuju menghampiri Vallene.
Vallice memeluk Vallene dan Vallene juga memeluk Vallice, membuat Kenneth terharu melihatnya.
__ADS_1
"Ehh, selamat ulangtahun Nona...," ucap Kenneth.
Karena Vallice belum mengenal dan mengetahui nama Kenneth dia hanya membungkuk, yang artinya memberi terimakasih.
Wah! Jangan membungkuk begitu dong, kamu kan majikan ku...!!!
"Nona, tidak perlu seperti itu... egh...," ucap Kenneth.
"Ehh?" Vallice kebingungan.
"Hahaha, Vallice dia adalah teman ku! Kenneth! Kalian juga harus kenalan dong!" sahut Vallene.
Kelihatan dari perilaku Kenneth, ia sepertinya tertarik dengan Vallice. Tidak heran sih, Vallice dia memang cantik dan manis.
Terlihat Vallice yang malu dan memberikan sinyal kepada Vallene. Membuat Vallene tersenyum dan menarik Kenneth berada di hadapan Vallice.
"Ehem! Sekarang yang berada di hadapan anda Nona Vallice, perkenalkan dia adalah...?" Vallene.
...
Vallene sengaja menginjak kaki Kenneth.
"Ah, aku... a-aku perkenalkan namaku adalah Kenneth Zient," ucap Kenneth dengan gugup.
"Ah, Kenneth! Dan perkenalkan a-aku adalah, maksudku namaku Vallice..., Vallice Albern." jawab Vallice.
"Bagus, bagus! Kalian sekarang sudah saling mengenal dan kalian hari ini adalah teman!" seru Vallene.
Vallene yang awalnya ceria setelah memperkenalkan mereka mendadak menjadi muram, senyum nya yang awalnya ceria menjadi senyum yang hambar.
"Kakak...? Apakah kakak baik-baik saja?" khawatir Vallice.
"Memangnya aku kenapa? Hehe?" jawab Vallene.
Kenapa Vallice menjadi sensitif begini, dan... sejak kapan ia memakai pin di bajunya? Eh, sekarang dia suka dengan bunga-bunga?
"Nona Albern, di bawah semua sudah siap untuk merayakan pesta ulangtahun Nona, mari kita kebawah?" ucap Kenneth.
"Kumohon jangan aku panggil Nona, selagi kau bukan bawahan ku." jawab Vallice dengan tegas dan sinis, seketika membuat Vallene dan Kenneth merasa aneh.
"Ma-maafkan saya... tapi...," ucap Kenneth dengan nada bersalah.
"Vallice..., kamu kenapa? Emm, jadi Kenneth adalah putra Pak Zient dan ia kan menggantikan Pak Zient disini. Pak Zient sekarang bertugas di istana dan melayani kerajaan." ucap Vallene.
Apa? Apa yang aku ucapkan! Itu..., aku reflek mengatakan hal itu dengan tidak enak.
"Ah begini, maksud ku..., kita sekarang adalah teman kan! Tidak perlu ada bahasa Tuan dan Nona diantara kita! Dan juga, aku sangat menyukai dan menghormati Pak Zient! Ternyata kakak Kenneth adalah putra Pak Zient? Kalian memang begitu hangat dan ramah!" ucap Vallice dengan gelisah.
__ADS_1
"Ah benarkah? Ta-tapi Nona..., maksud ku Vallice..., ini berlebihan!" ujar Kenneth.
Ini sangat rumit bagiku, ayah tidak memberitahu bahwa mereka ini sangat ramah. Bagaimana ini, aku tidak diajari untuk mengahadapi hal seperti ini...!
Vallice menoleh ke arah Kenneth.
"Tidak, itu tidak berlebihan kok... itu cukup! Kumohon!" seru Vallice.
Vallice? Dia benar-benar Vallice?
"Baiklah, ayo silahkan tuan putri tiup lilin kecil ini hehe..."
Vallene menyalakan lilin kecil diatas biskuit yang ia bawa, mempersilahkan Vallice untuk membuat harapan dan meniupnya. Vallice terlihat senang dan bahagia, sebelum ia meniup lilin ia terlebih dahulu diam untuk membuat permohonan.
Tuhan, terimakasih untuk hari ini. Aku bahagia bisa bertemu lagi dengan kakak ku dan merayakan hari ulangtahun ku bersamanya. Ini sangat membahagiakan dibandingkan apapun yang pernah membuatku tersenyum biasa. Aku harap, kakak, kak Kenneth dan aku bisa terus bersama. Aku harap tidak ada perpisahan diantara kita.
Setelah selesai membuat permohonan, Vallice kemudian meniup lilin itu dengan senang hingga lilin itu mati. Tawa dan senyum terukir di wajah mereka bertiga, Vallice memecah biskuit itu menjadi tiga bagian.
Potongan pertama ia ambil dan ia berikan kepada Vallene, Vallice menyuapi Vallene dengan sepenuh hati. Vallene juga merasa bahagia, setelah itu Vallice mengambil potongan biskuit lain dan ia hendak berikan kepada Kenneth.
Tanpa sadar Vallice akan menyuapi Kenneth, Vallice sadar dan kembali menurunkan tangannya. Tidak jadi memberikan potongan biskuit itu kepada Kenneth, Kenneth menyadari kalau Vallice baru saja hampir menyuapinya. Keadaan antara Vallice dan Kenneth menjadi canggung, mereka sepertinya malu.
Lihat wajah mereka, Kenneth merona itu wajar. Tapi Vallice merona? Astaga, apakah adik ku jatuh cinta dengan pria itu? Huhu, adikku sudah semakin dewasa.
"Ehem! Ehh, kalian ini sedang ngapain sih? Jangan-jangan..., kalian ini..., jatuh cinta pada pandangan pertama?" seru Vallene, mengejek Vallice dan Kenneth.
"Ehh, mana mungkin aku..., itu melanggar...," Kenneth gagap.
"Kakak! Kakak apa-apaan sih...?" Vallice gagap.
"Hehe, kalau aku bisa disuapin sama Vallice... kok Kenneth tidak? Aku takut dia iri kepadaku dan mencekik ku nanti~. Aaa takut!" Vallene.
Apa-apaan Vallene ini..., memanaskan keadaan hmm.
"Vallene..., aku rasa kamu agak berlebihan." Kenneth menahan emosi.
"Ah, Vallice lihat! Tatapan balas dendamnya! Dia mengancam ku! Tolong aku adik!" seru Vallene yang sambil bersembunyi dibelakang Vallice.
Kakak..., dia selalu saja seperti ini.
"Emm, kak Kenneth..., jika kakak tidak keberatan bolehkah Vallice menyuapi mu..., jika tidak mau tidak apa-apa hehe!" seru Vallice.
"Baik jika Vallice tidak keberatan." ujar Kenneth.
Aduh! Mulut ku apa-apaan!
Kak Kenneth tidak keberatan.
__ADS_1
"Ehh? Ba-baik." Vallice merona.
Apa? Kenneth ternyata lelaki genit! Tapi..., Vallice? Dia benar-benar mau? Aku tidak mengerti keadaan ini sekarang.