
Dia terlihat sangat serius..., haish..., aku iyakan saja..., dia belum terlalu mengerti tentang Franschine.
"Baiklah, terimakasih mau menghibur hatiku. Mari kita kembali, pasti makanan telah siap dan Vallice sedang menunggu kita." ujar Vallene.
Kenneth senang mendengar jawaban dari Vallene yang cukup memuaskan hatinya, wajahnya pun kembali muncul harapan dan dia cepat mengelap air matanya dengan sedikit senang.
"Hahah..., iya..., ayo kita kembali." seru Kenneth.
Kenneth mendekati Vallene dan meraih tangan Vallene dan mengajaknya untuk berjalan pulang. Vallene pun melangkahkan kakinya, mereka berjalan pulang dengan Kenneth menggandeng erat tangan Vallene. Sebelum benar-benar pergi dari lingkungan sungai, Vallene sempat menoleh kebelakang dan menyaksikan matahari benar-benar telah tenggelam.
Proses yang indah untuk menyambut kedatangan sang kegelapan, senja terlalu mengagumkan..., sayang sekali kedatangannya yang indah adalah pertanda awal dari kembalinya malam yang dingin dan gelap.
Setelah itu Vallene tersenyum dan kembali menghadap ke depan lagi, mereka benar-benar telah meninggalkan lingkungan sungai.
***
"Sup Ayam dan juga ada kue stroberi...??? Ah!!! Vallice tau saja apa yang aku sukai!!!" Vallene yang kegirangan saat ia tiba di ruang makan dan melihat menu yang disuguhkan di meja makan tempatnya.
"Kamu sangat suka sup ayam ya haha?" seru Kenneth.
"Iya! Orang gila mana yang tidak suka sama sup ayam jahe yang hangat dan lezat seperti ini?" jawab Vallene dengan menjulurkan lidahnya.
"Benar juga!" Kenneth mengalah.
"Kakak! Kak Kenneth! Dari mana saja kalian? Aku menunggu kalian...!!! Aku menyiapkan semua ini lho!" seru Vallice sambil mengedipkan matanya, Vallice terlihat imut.
"Hanya membicarakan keadaan di lingkungan sekolah. Wah terimakasih ya Vallice." jawab Kenneth, seperti biasa dengan suara teduh dan tenang dan wajah yang menyenangkan.
Vallice sepertinya berhasil dibuat merona oleh Kenneth.
"A-aku..., s-ssama-sama..., MAAF!" teriak Vallice secara tiba-tiba. Membuat Vallene dan Kenneth mengangkat alis dan membuka mata dengan lebar akibat terkejut.
"K-kenapa?" ucap Kenneth yang gagap.
Vallice menyipitkan matanya dan menahan mulutnya, kemudian dia akhirnya dia mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Soal..., soal sifat ku tadi..., maaf aku berperilaku aneh tanpa alasan yang jelas. A-aku sendiri juga tidak tau apa yang terjadi dengan ku...!" seru Vallice, bisa dilihat sebenarnya dia seperti terpaksa menyuarakan isi hatinya karena ekspresinya terlihat malu.
"Ah tidak apa-apa, aku juga minta maaf ya jika aku kelewat batas...," jawab Kenneth.
Suaranya lembut dan menenangkan sekali..., kak Kenneth benar-benar orang yang pemaaf ya....
"Tidak! Kakak tidak salah apa pun kok! Aku saja yang berlebihan haha...," seru Vallice yang merasa tidak enak.
"Baiklah kalian sekarang sudah berbaikan, yey akrab kembali!" ucap Vallene, Vallene pelan-pelan mendorong Kenneth dari belakang mendekat kepada Vallice, kemudian Vallene menyatukan tangan mereka menjadi berjabat tangan. Wajah mereka berdua menjadi merah.
"Yey berbaikan! Mari rayakan dengan sup ayam jahe!" Vallene yang telah menahan laparnya sudah tidak tahan dan langsung menuju kursinya dan duduk.
Kemudian Vallice dan Kenneth menyadari bahwa jabat tangan mereka sudah sedikit terlalu lama, Vallice melepas terlebih dahulu tangannya kemudian Kenneth.
"Haha..., si-silahkan duduk kak Kenneth." ucap Vallice dengan tersenyum manis kepada Kenneth.
"Iya..., silahkan duduk juga Nona...," ujar Kenneth, Vallice langsung menghilang pergi dan tiba-tiba telah berada di tempat duduknya. Ia menunduk ke bawah karena merasa malu, Vallice mendengar bahwa Kenneth memanggilnya Nona.
"Hei ada apa dengan mu? Kamu mual?" tanya Vallene yang khawatir.
Singkat cerita mereka bertiga telah menyantap makanan mereka, ketika makanan mereka masih termakan setengah Kenneth memulai topik pembicaraan.
"Bagaimana dengan persiapan ujian mu Vallice? Kamu selanjutnya naik ke kelas berapa?" tanya Kenneth kepada Vallice.
"Ahh..., aku akhir tahun ini akan naik ke kelas 6! Soal persiapan ujian..., untuk ilmu sosial dan ilmu alam aku tidak khawatir karena ada kakak!" ucap Vallice, Vallene juga mengacungkan jempolnya karena bangga menjadi guru pribadi bagi Vallice.
"Tetapi soal ilmu sihir dan ilmu angka..., aku menyerah saja deh...!" ucap Vallice yang kecewa, Vallene juga ikutan membuat wajah yang seperti kecewa juga.
"Kita belajar bersama saja! Ujian akan dimulai awal bulan depan, kita punya waktu 30 hari untuk di habiskan bersama!" ucap Kenneth, Vallene sebenarnya mengerti apa yang Kenneth maksudkan..., ia hanya bisa tersenyum tipis.
"Benar sekali! Baiklah aku akan menjadi guru bagi kalian! Wah sepertinya murid ku bertambah satu, perkenalkan aku adalah Mis Vallene..., guru baru anda sekarang." Vallene bercanda.
"Ya! Selamat malam guru! Aku adalah muridmu!" jawab Kenneth yang juga ikutan bercanda, Vallice juga ikut tertawa. Dari luar ruang makan, terdengar tawa mereka bertiga yang terdengar Bi Nae. Bi Nae merasa penasaran dan sengaja ingin mengintip, melihat mereka akrab bersama membuat hati Bi Nae menjadi nyaman dan senang.
***
__ADS_1
Singkat cerita mereka bertiga telah berada di kamar Vallice, tiduran di lantai yang ditengahnya ada tumpukan buku-buku dari berbagai materi dan pelajaran. Vallene mencoba membaca buku milik Kenneth.
"Wah..., kelas mu sedikit sulit ku mengerti..., bisa kau jelaskan ini?" tanya Vallene ke Kenneth. Kemudian Vallene dan Kenneth membicarakan tentang pelajaran kelas 10.
Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa angka ya? Membicarakan soal apa sih kok aku tidak paham.
"Hei kakak-kakak, aku merasa bosan...," gumam Vallice.
"Hei pemalas, kerjakan soal yang aku berikan kepadamu terlebih dahulu! Jangan coba-coba lari menggunakan kata bosan atau mengantuk." seru Vallene yang menatap Vallice dengan sipit dan mengingatkan.
"Aku mengawasi mu~" bisik Vallene kepada Vallice yang membuat Vallice menuruti apa yang dikatakan Vallene.
"Baik-baik...," jawab Vallice yang pasrah.
...
"Wah, Vallene kamu bisa memahami materi kelas ku dengan mudah! Jika kamu sekolah juga kamu akan naik kelas 7 bukan?" ujar Kenneth yang kagum.
"Benar! Kakakku adalah yang terbaik." sahut Vallice.
"Aku tidak tau ternyata aku secepat itu untuk paham...?" jawab Vallene.
Menurut ku biasa saja sih, apa mereka saja yang melebih-lebihkan.
"Ini sudah pukul 9 malam, baiklah jam untuk belajar sudah berakhir. Mis Vallene mengucapkan kepada murid-muridnya selamat tidur dengan nyenyak." seru Vallene.
"Yey tidur!!!" seru Vallice yang kegirangan.
"Terimakasih Mis Vallene." seru Kenneth.
Kenneth pamit untuk keluar dan istirahat di kamarnya sendiri, sementara itu Vallene tidur bersama Vallice di kamar Vallice. Mereka naik ke ranjang dan siapkan posisi tidur, Vallene baru saja mematikan lampu dan mengucapkan selamat malam kepada Vallice, tetapi Vallice tidak menjawab karena Vallice sudah tidur terlebih dahulu.
"Dia sudah tertidur secepat ini...?" bisik Vallene, kemudian Vallene juga menyiapkan posisi tidur. Vallene tidak bisa tidur, ia tidak bisa menutup matanya. Ada yang mengganjal di pikirannya.
Aku tidak menyangka bahwa pelaku dari kasus pembunuhan anak kepala desa benar-benar dia, Vallice..., betapa kuatnya pengaruh dari Blue Rose itu...?
__ADS_1
Batin Vallene, Vallene juga menatap tajam pin bunga mawar biru yang setiap saat digunakan oleh Vallice di bajunya. Di pakaikan di bagian atas dada sebelah kiri, bunga itu juga sempat terlihat bersinar tipis seolah juga merasakan tatapan Vallene.