
"Vallice...? Kenapa kamu menjadi diam saja...?" Kiel menjadi bingung depan perubahan sikap Vallice.
"Dia sedang tidur." Vallice menjawabnya dengan wajah yang tersenyum pahit. Kiel kemudian menjadi tenang kembali dan menembuskan nafas yang dalam.
"Oh begitu, aku kira kamu kenapa-kenapa." ucap Kiel.
Meskipun nyatanya kamu tadi menjadi cukup aneh.
"Hahaha, benarkah? Aku hanya melamun saja kok, kakakku sedang tidur jadi dia tidak ikut bermain bersama ku!" ujar Vallice.
"Ah begitu ya, dan kamu tidak punya teman lain kah?" Kiel bertanya kepada Vallice, Vallice duduk di bebatuan sungai dan dia sedang bermain air.
"Tidak, tapi aku rasa... aku sudah punya sekarang! Kalian kan sudah menjadi teman Vallice." jawab Vallice dengan gembira.
Ahh, benar.
"I-ya..." Kiel tersipu malu melihat wajah Vallice yang tersenyum manis, dia kemudian ikut duduk di bebatuan dan memainkan air bersama Vallice.
"Haha, kamu senang bermain bersamaku kan?" tanya Vallice.
"Senang kok, kamu baik dan juga canti-" tersadar.
"Eh maksudnya... kamu baik dan ramah!" seru Kiel.
Vallice tersenyum dan kembali memainkan air. Mereka berdua bermain bersama, tertawa dan saling menyemprotkan air satu sama lain.
Singkat cerita, hari sudah sore. Mereka berdua dalam keadaan basah sekarang, dan memutuskan untuk berhenti bermain air.
"Ah, maaf ya Vallice... bajumu jadi basah, pasti itu baju yang mahal kan. Maaf ya, aku terlalu bersemangat tadi." Kiel meminta maaf.
"Haha, tidak apa-apa. Apa yang kau khawatirkan, lagipula ini baju untuk bermain kok. Hmm, sekarang kamu juga menjadi basah...." Vallice.
"Ah, aku tidak apa-apa kok! Lagipula baju ini sudah jelek dan usang, aku hanya perlu membeli kain karung lagi." ucap Kiel.
Kain karung? Apakah dia merasa nyaman memakainya? Apa itu tidak gatal?
"Kiel dan Darren, ayo ikut aku pergi ke rumah ku sebentar. Aku punya sesuatu untuk kalian." tawaran Vallice.
"A-apa? Untuk apa Vallice?" Kiel dan Derren merasa tidak enak dan bingung.
"Ayo ikut saja! Rumah ku tidak jauh kok! Kamu lihat tembok itu kan? Itu pagar rumah ku, hanya perlu berjalan selama 5 menit dari sini." jawab Vallice.
Jadi rumah besar dan mewah itu adalah rumah Vallice? Temboknya saja begitu tinggi dan besar, Vallice adalah anak orang kaya.
__ADS_1
"Ah tidak usah... haha, kami tidak enak... aku dan Derren langsung pulang saja." Kiel.
"Ayolah, tidak apa-apa. Kalian kan teman Vallice, semua akan menerima kalian kok! Aku hanya sendirian di rumah, mamaku pergi bekerja. Hanya ada penjaga dan pelayan." ujar Vallice.
"Emm, ini...." Kiel dan Derren tampak ragu. Kemudian Vallice langsung menarik tangan Kiel dan mengajaknya kerumahnya.
"Ayo, percaya ya pada Vallice." Vallice mengedipkan matanya, disitu Kiel merona karena terpesona kepada Vallice. Kiel akhirnya tidak bisa mengatakan hal apapun dan dia memilih diam menuruti Vallice.
...
Mereka tiba di depan gerbang utama, gerbang yang membawa untuk masuk ke dalam lingkungan kediaman Fred, disana Vallice terkejut melihat gerbang dalam keadaan rusak dan sekarang masih dalam proses perbaikan.
"Sejak kapan gerbang utama rusak?" tanya Vallice kepada salah satu tukang yang sedang memperbaiki gerbang utama.
"Ah, Nona muda... saya tidak tau Nona, saya di undang tadi pagi untuk memperbaiki ini. Setahu saya rusak karena tertabrak mobil." ujar si tukang.
Tadi pagi ada kecelakaan disini? Itu alasannya kenapa aku di peringati untuk lewat pintu gerbang samping atau belakang?
"Oh begitu, saya dan teman teman saya ingin masuk... permisi...." Vallice dengan hormat.
Wahh, Nona Vallice diajarkan sopan santun dan menghargai.
"Silahkan masuk Nona...." ucap tukang dengan sambutannya.
Kemudian mereka masuk ke dalam, disana Kiel merasa aneh dan tidak enak. Kiel kagum dengan lingkungan rumah yang sangat indah dan megah.
Disini juga dibangun patung, dan tersedia kolam dan taman yang luas... astaga! Itu benar-benar rumah? Besar sekali!!!
Kiel dan Derren mematung dan tercengang melihat kemegahan rumah Vallice, Vallice menyadari hal itu dan memanggil mereka untuk masuk.
"Kiel? Derren? Kenapa kalian diam? Ayo masuk." Vallice mengajak mereka masuk, mereka menaiki tangga satu persatu menuju pintu masuk.
Disana mereka telah di sambut oleh pelayan dan bukakan pintunya, mereka di persilahkan untuk masuk.
"Selamat datang Nona...." sambut si pelayan.
"Mereka adalah teman-teman ku." Vallice menganggukkan kepalanya.
Kiel yang di pandang tidak enak oleh para pelayan karena penampilan mereka, Kiel dan Derren merasa tidak enak. Tetapi mereka tetap masuk ke dalam karena ajakan Vallice.
"Selamat datang, anggap saja rumah sendiri. Kalian belum makan kan? Kebetulan aku juga, ayo makan bersama?" Vallice.
"Ti-tidak usah, kami tidak lapar... bukan begitu Derren?" ucap Kiel dengan gagap, dan Derren mengangguk angguk.
__ADS_1
"Hmm, kalau begitu... mari kita makan saja hidangan manis. Sebentar ya, aku akan panggilan pelayan ku. Kalian duduk saja, tunggu sebentar aku tidak akan lama." Vallice pergi ke dalam.
"Ehh...." Kiel terlambat untuk berbicara kepada Vallice, mereka pun duduk di kursi yang mewah dan empuk itu.
"Kak, kursinya empuk banget ya... ini nyaman banget jika dibuat tidur kan, berbeda dengan kasur kayu kita." ucap Derren yang menyender nyaman di kursi.
"Iya, karena ini adalah milik orang kaya Derren... kamu jangan aneh aneh ya, kalau sampai rusak pasti ganti ruginya mahal." Kiel khawatir.
"Iya kak, aku cuma ingin merasakan kenyamanan sesaat ini kok." jawab Derren.
Kiel kemudian mengamati isi rumah itu, dia terlihat kagum melihat tempat yang sangat mewah dan rapi.
Ruang tamu saja seluas ini? Belum lagi jika berjalan ke arah kanan dan kiri. Seluas apa rumah ini? Bahkan juga ada tangga menuju ke atas.
Kiel mendongak ke atas, melihat ke langit langit rumah.
Seriusan masih ada tempat diatas sana? Ini rumah atau kerajaan? Hanya di tinggali Vallice dan ibunya saja perlu rumah sebesar ini.... Orang kaya memang berbeda, aku terlalu miskin untuk merasakan ini.
Kiel bersedih untuk dirinya sendiri, ia tersenyum meremehkan dirinya yang begitu konyol.
"Derren, bagaimana perasaan mu?" tanya Kiel.
"Takut." jawab Derren dengan mata yang tertutup.
"Kenapa? Kamu tidak senang bisa masuk di lingkungan orang kaya?" Kiel.
Kok jadi takut sih, harusnya kan tekejud atau heran. Dasar anak ini.
"Aku takut karena, kejadian tadi." ujar Derren dengan wajah serius.
"Ta-tadi...?" Kiel kebingungan.
"Bukankah menurut kakak itu tidak aneh? Itu jelas jelas adalah darah dari tangannya, aku melihat itu! Tetapi, saat itu mengenai tubuh anak itu...." Derren.
"Anak itu seperti disiram air keras, sehingga kulit dan dagingnya meleleh. Kakak pikirkan saja apakah itu hal yang masuk akal?" Derren.
"..." Kiel terdiam dan ragu.
"Sebenarnya... aku memang sengaja menjauh darinya tadi, karena aku takut. Aku juga memperhatikannya saat dia bermain bersama kakak." Derren serius.
"Tapi, dia menunjukkan tangannya... dan, dia tidak terluka! Dia berkata itu adalah darah burung!" kekeh Kiel.
"Burung? Burung apa? Apakah dia memegang burung? Dan apakah kita menemui bangkai burung?" Derren kesal dan memegang kedua lengan kakaknya yang tidak percaya kepadanya.
__ADS_1
"Kalian bertengkar?"