
Sudah tiga bulan dari mimpi di malam itu, hingga saat ini aku masih tidak bisa mengerti dengan suara yang mengatakan...,
"Aku dan kamu adalah satu,"
Apa maksudnya itu? Kamu? Dan..., aku? Adalah satu? ..., maksudnya kenapa harus aku? Kenapa terjadi kepadaku? Ini membuat ku terus gelisah...,
...
Kenapa kakak terus melamun seperti itu? Apa dia tidak nafsu makan?
Vallice menghawatirkan Vallene yang dari tadi terlihat hanya diam dan melamun saja. Kemudian Vallice menoleh ke arah Kenneth dan memasang wajah khawatir.
"Vallene, kamu tidak apa-apa kan? Kenapa akhir-akhir ini sering bengong? Kamu sedang memikirkan hal apa?" ujar Kenneth yang juga khawatir.
"Benarkah? Haha aku tidak menyadari..., aku tidak apa-apa kok! Memangnya aku terlihat aneh?" ucap Vallene dengan nada ceria.
Iya, terlihat sedikit aneh.
"Baiklah jika kamu tidak apa-apa, tapi bila terjadi apapun kepada mu bilang ke aku ya? Aku tidak mau membuat mu merasa takut." ujar Kenneth.
"Kakak yakin..., kakak baik-baik saja?" ucap Vallice.
"Iya, aku baik-baik saja." ujar Vallene dengan senyumannya yang membuat Vallice dan Kenneth sedikit menurunkan rasa khawatirnya.
Hidangan telah siap, mereka bertiga makan bersama-sama di meja makan khusus pelayan. Mereka berbagi dan bercanda tawa di sana, suasana sangat menyenangkan sepertinya.
"Kalian dengar tentang kasus anak kepala desa?" ujar Kenneth di tengah-tengah candaan mereka.
"Kasus baru? Aku belum mendengarnya! Seperti apa?" tanya Vallene.
"Jadi..., ditemukan mayat manusia yang tersisa kerangka dan tulang di bagian kepala sampai perut, dan bagian bawah seperti perut bawah sampai kaki masih tersisa daging. Saat ditemukan susah membusuk dan identitasnya adalah dia adalah anak dari kepala desa.
Ditemukan di ladang yang lama tidak digunakan sehingga rumput memanjang dan banyaknya tanaman liar disana, jadi jasadnya baru ditemukan beberapa Minggu lalu." ujar Kenneth menjelaskan.
"Hanya setengah badan? Bagaimana bisa..., ini aneh..!!" ucap Vallene.
"A-apa nya yang aneh haha? Siapa tau bagain tubuh atas sudah dimakan oleh binatang buas mungkin?" ucap Vallice yang tiba-tiba menyahut.
Kenneth dan Vallene merasa aneh mendengar pendapat Vallice, wajar saja karena Vallice mengatakan hal aneh.
__ADS_1
Di ladang mana ada binatang buas? Toh juga hutan dari arah sana terbilang cukup jauh. Bukannya Vallice juga mengetahui hal itu kan?
"Tapi bila memang begitu harusnya kan tulangnya menjadi remuk atau hilang karena juga terkoyak dan di gigit oleh si binatang..., sepertinya ini bukan ulah mahluk biasa." ujar Vallene.
"Benar, terlihat dari keadaan korban..., sepertinya ini adalah pembunuhan. Dikatakan ada sobekan dari kain, kain yang gemerlap dari sobekan baju yang bagus dan mahal. Tapi kasus ini sepertinya..., sedikit di rahasiakan. Kabarnya saja baru beberapa Minggu ini padahal itu sudah dari beberapa bulan yang lalu." ucap Kenneth.
"Pelakunya mungkin adalah orang kaya, tapi apa tujuannya membunuh seorang anak laki-laki..., apakah pembunuhnya juga seorang anak-anak?
Dan kasus ini sedikit di tekan, aku sangat yakin bila si pelaku adalah orang yang berkuasa..., apakah kalian tertarik untuk membahas ini?" ucap Vallene.
"Aku tertarik! Aku ingin mencari keadilan untuk sang korban..., bagaimana bisa kasus pembunuhan seperti ini dibiarkan begitu saja. Kasus nya bahkan akan di tutup." ucap Kenneth yang kesal.
"Mungkin anak itu adalah anak yang nakal emm..., maksud ku..., anak yang nakal dan sombong. Jadi mungkin ia memiliki musuh atau sebagainya...? Pantas saja dia mendapatkan itu kan..., dan pasti pelakunya juga... akan tertangkap...." ucap Vallice.
"Ayolah Vallice? Apa? Membunuh tidak semudah apa yang kamu katakan..., yang benar saja ada seseorang yang tega membunuh hanya karena orang itu sombong." ucap Vallene.
Ada apa dengan Vallice kali ini...?
"Itu benar Vallice, membunuh hanya karena alasan sepele juga akan mendapat hukuman yang berat karena dia tetap melakukan hal salah yaitu membunuh." ucap Kenneth.
Aku melakukan hal salah..., kenapa aku melakukan hal itu saat itu...?
"Iya..., maafkan aku jika..., aku mengatakan hal yang-" ujar Vallice.
Kenapa dia kelihatan gelisah dan ragu seperti ini? Apakah dia juga salah satu orang kaya yang terlihat?
"Tolong jangan ikuti kata-kata buruk yang kamu dengar dari dia." bisik Vallene kepada Vallice.
"Iya kakak...," jawab Vallice.
Dia? Siapa yang mereka bicarakan?
"Aku sudah selesai, aku hari ini akan berangkat sekolah lebih pagi...," ucap Kenneth yang terburu-buru setelah selesai sarapan.
"Ah tunggu kak Kenneth, kita berangkat bersama saja. Kita satu sekolah bukan?" ucap Vallice.
"Iya, baiklah sampai jumpa Vallene." Kenneth tersenyum kepada Vallene.
"Sampai jumpa kakak!!!" Vallice juga tersenyum kepada Vallene.
__ADS_1
"Dadah!!! Hati-hati kalian!!!" teriak Vallene sambil melambaikan tangan. Mereka berdua telah pergi sekolah dan meninggalkan Vallene duduk sendirian di meja makan.
"Hah..., aku kok jadi penasaran sama kasus yang Kenneth bicarakan tadi ya." bisik Vallene yang gelisah.
***
Jadi disini tempatnya, tidak jauh dengan sungai yang biasa aku dan Vallice kunjungi.
"Dari sekeliling dan tempat ini juga tidak ada yang aneh lagi, soalnya pasti sudah dibersihkan. Huh dasar." Vallene merasa sebal.
Tapi aku penasaran dengan tingkah laku Vallice tadi, kenapa dia menjadi seperti itu..., benarkah jika..., ah aku benci dengan sifat sensitif ku sendiri. Tidak mungkin Vallice melakukan hal itu, meskipun dia menjalin hubungan dengan iblis Blue Rose aku yakin dia masih bisa berkata tidak.
Kemudian Vallene berjalan lebih jauh melewati tempat yang dikatakan adalah tempat kejadian perkara dari pembunuhan anak kepala desa.
Setelah berjalan beberapa saat ia menemui ada dua anak laki-laki, kakak dan adik yang sedang bermain lempar tangkap bola yang tidak jauh dengan tempat kejadian.
Kemudian Vallene mencoba mendekati mereka.
"Hai! Bolehkah aku bergabung?" ujar Vallene.
"Tentu saja! Dari mana kamu?" ujar salah satu anak itu.
Vallene sangat mudah diterima karena ia juga terlihat sederhana, menggunakan pakaian yang seadanya dan penampilan yang sederhana. Vallene senang karena ia dapat diterima.
"Aku hanya berjalan-jalan ke sini, aku..., tadinya ingin mengambil air di sungai, tapi aku bosan. Jadi bolehkah aku bergabung?" ujar Vallene.
"Ah begitu, tentu saja! Berdirilah dimana kamu suka, kamu hanya perlu menangkap dan melempar kembali bola." ujar salah satu anak itu.
"Terimakasih, bolehkah kita saling mengenal?" ujar Vallene.
"Boleh saja, perkenalkan namaku Kiel dan ini adikku Derren..., dia memang agak pemalu." ucap Kiel.
"Wah, hahaha! Perkenalkan namaku Vallene! Aku hanya anak petani di desa sebelah," ucap Vallene.
"Hai Vallene," ujar Kiel.
"Hai kak Vallene...," ujar Derren.
Setelah beberapa saat mereka bermain lempar tangkap bola, mereka beristirahat sejenak dengan duduk di tumpukan jerami. Dengan Kiel yang duduk disebelah Vallene dan Derren yang tertidur di ayunan buatan sendiri di pohon.
__ADS_1
"Eh Kiel, kamu tau kasus pembunuhan anak kepala desa yang terjadi tak jauh dari sini?" tanya Vallene.
"A-apa?" ujar Kiel yang terkejut seketika.