For a Freedom

For a Freedom
YINNE : FOR FREEDOM (30)


__ADS_3

Melihat Vallice yang turun dari tangga, dengan langkah kaki yang pelan dan elegan. Gaun yang Vallice kenakan juga sangat cantik, Vallice terlihat menawan dan menjadi pusat perhatian.


Tamu undangan yang kebanyakan adalah anak-anak bangsawan dan orang kelas atas, tak banyak yang Vallice undang. Saat Vallice telah berada di ujung tangga, ia berhenti sejenak dan menoleh ke kebelakang.


Para tamu dan pelayan sangat terpesona melihat penampilan Vallice malam ini. Vallice kemudian seperti mengatakan sesuatu kepada seseorang yang berada di atas tangga, dan saat itu juga semua orang dikejutkan dengan kemunculan Vallene.


Saat itu Kenneth yang memang sudah berada di lantai bawah juga heran mengapa semua pelayan begitu kaget melihat Vallene, tetapi ia tidak banyak peduli.


Vallene satu persatu menuruni tangga, Vallene terlihat lebih elegan dan cantik dibandingkan Vallice. Meskipun memakai gaun yang sederhana, tetapi ia juga tidak kalah menariknya dengan Vallice.


Vallene sampai di samping Vallice, kemudian Vallice menggandeng tangan Vallene dan mereka berjalan bersama. Semua tamu yang kebanyakan remaja berusia 12 sampai 15 tahun, tamu yang di undang juga merupakan bangsawan dari negara lain.


.


"Terimakasih bagi semua yang telah hadir, saya harap kalian semua menikmati pesta saya malam ini." ucap Vallice di depan semua orang.


Kemudian acara berlanjut, berdansa. Semua anak mendapatkan pasangan untuk berdansa di tempat yang disediakan.


"Yang tampil pertama kali adalah Wendy Shang putri pertama dari jenderal Shang dan Laven Shopine putra mahkota kekaisaran Shopillia Timur." seru si pembawa acara.


Kemudian mereka yang di sebutkan namanya itu maju ke depan, mereka saling bertemu dan bertatapan.


"Laven...," bisik Wendy di hadapan Laven.


"Jangan berfikir terlalu jauh, aku hanya menerima undangan." jawab Laven.


Mereka terlihat diam beberapa saat.


"Hei Kenneth, kira-kira apa yang mereka bicarakan? Kenapa berbisik-bisik didepan seperti itu?" tanya Vallene kepada Kenneth.


"Hmm iya, ini mengulur waktu." jawab Kenneth dengan ekspresi serius.


"Ngomong ngomong, tadi..., aku mengetahui bahwa dia beberapa kali menatap ku. Aku tau itu hal yang ya... biasa, tapi entah kenapa itu membuat ku tidak nyaman saja." ujar Vallene.


"Benarkah? Dia sudah menjadi kaisar saat usianya 8 tahun. Tapi..., apakah mungkin dia tertarik kepadamu? Hehe siapa sangka." gurau Kenneth.


"Omong kosong, aku rasa Nona Wendy suka kepadanya. Lihat saja betapa bahagianya dia sekarang! Dan aku juga tau kau selama ini menatap Vallice yang berada disana. Dasar genit." ujar Vallene.


"A-a-apa?" Kenneth merasa tertangkap basah.


"Hahaha" Vallene tertawa.


Aku rasa bukan tertarik kepadaku, yang benar saja..., tatapannya sangat tidak enak.


...


"TIDAK! AKU TIDAK INGIN BERDANSA!" Laven yang tiba-tiba berteriak dan sedikit mendorong Wendy, ia kemudian berbalik dan menjauh meninggalkan Wendy sendiri.


"Laven...!!!!" seru Wendy yang sudah kecewa dan malu.

__ADS_1


.


"Kakak...." gumam seseorang yang duduk di samping Vallene. Mendengar itu Vallene menanyakan suatu kepadanya.


"Permisi, apakah kalian bersaudara?" ujar Vallene.


"Ah benar, dia kakak ku." jawab gadis tersebut. Kemudian gadis tersebut langsung turun dan menghampiri Wendy Shang. Mengusap air matanya dan memapah kakaknya kembali ke tempat duduk.


...


"Jadi dia adalah adiknya?" bisik Kenneth kepada Vallene.


"Memang iya, mungkin mereka terlihat mirip tetapi juga terlihat tidak mirip." ujar Vallene.


"Hah? Maksudnya...?" Kenneth kebingungan.


Bagiku terlihat mirip saja.


"Lihat deh, memang rambut mereka sama-sama berwarna merah. Tetapi wajah mereka berbeda, Wendy lebih terlihat cantik dan adiknya terlihat imut dan polos." ujar Vallene.


"Wah, kamu sangat detail." Kenneth merasa kagum.


Singkat cerita penampilan satu persatu masing-masing pasangan telah selesai, dan saatnya berdansa bersama-sama dengan siapapun.


Vallice kemudian menghampiri Vallene dan Kenneth.


"Kakak! Kak Kenneth! Apakah kalian bersenang-senang? Hahah!" ujar Vallice dengan bahagia.


Vallice tersenyum mendengar itu.


"Iya, ini sangat menyenangkan." ujar Kenneth.


Vallice juga tersenyum kepada Kenneth.


"Semua orang sedang berdansa, kalian tidak berdansa?" tanya Vallice.


"Ehem! Ehh, aku mau ambil minum dulu ya hehe! Tenggorokan ku kering!" ucap Vallene sambil menjauh melarikan diri dari Kenneth dan Vallice.


...


Vallene...,


"Emm, maukah Vallice berdansa dengan ku? Hah...." ucap Kenneth tanpa sadar, dan itu membuat Vallice tersipu dan diam.


Aku mohon...,


"Aku..., mau...!" jawab Vallice.


Kenneth sangat senang mendengar jawaban dari Vallice, wajahnya seperti ceria dan mekar.

__ADS_1


...


Saat Vallene ingin mengambil gelas ia mendengar para pelayan sedang berbisik.


"Aku tidak menyangka dia masih hidup! Apakah dia bukan mayat?" bisik pelayan pertama.


"Iya! Aku melihatnya dalam keadaan yang mengerikan, aku dengan keadaan seperti itu pasti tidak akan selamat!" bisik pelayan lain.


Vallene melirik ke arah dua pelayan tersebut, dengan tatapan tajam dan sinis. Wajah Vallene yang sekarang ini membuat kedua pelayan tersebut gemetaran dan merasa pusing.


Datang lah pelayan Nae dan mengusir pelayan julid tersebut. Pelayan Nae terlihat kesal dengan kelakuan kedua pelayan itu, kemudian ia menghampiri Vallene dan meminta maaf. Menanyakan kabar Vallene selama ini dan mengatakan betapa rindunya Vallice kepada Vallene selama dia tidak ada.


Bibi Nae adalah pelayan paling baik dan bijaksana disini, selain Pak Zient.


"Saya baik-baik saja Bi, terimakasih selama ini Bibi sudah menemani Vallice ya Bi. Ngomong-ngomong kok aku tidak menemui Bi Miranda sama sekali ya?" ujar Vallene.


"Ah Miranda, ia sudah meninggal satu bulan yang lalu...," jawab Nae.


Vallene sangat terkejut mendengar hal itu.


"A-apa? Bagaimana bisa begitu tiba-tiba?" ujar Vallene dengan penuh kecemasan karena terkejut.


Bibi Miranda tidak menderita penyakit, dan dia adalah orang yang aktif yang menjalankan hidup sehat. Apakah karena terjadi kecelakaan?


"Jadi seperti ini..., ini akan terdengar aneh tetapi ini kenyataan...," ujar pelayan Nae.


...


Vallene berfikir keras dengan pernyataan yang dikatakan pelayan Nae, ia terlihat serius.


Tangannya membusuk? Ini..., apakah akibat racun? Atau infeksi?


"Maaf jika anda ragu untuk mengambil minum, bisakah saya mengambil minuman terlebih dahulu." seru seseorang yang berada di belakang Vallene.


Vallene tersadar dan meminta maaf kepada seseorang tersebut, saat ia menoleh dan berbalik badan. Ternyata seseorang yang menegurnya adalah Laven Shopine, dengan tatapan dinginnya.


Laven Shopine, astaga! Sekarang dia berbicara kepadaku, padahal aku benci dengannya karena dia begitu kasar dengan Wendy.


"Tunggu, karena aku berada disini terlebih dahulu, giliran ku untuk mengambil minum. Mohon bersabar..., Laven." ujar Vallene yang membuat wajah Laven semakin datar dan terlihat kesal.


Aku suka, aku puas melihatnya seperti ini.


"Kak Laven..., kak Wendy ingin mengatakan sesuatu kepada kaka-" tiba-tiba muncul seorang gadis yang menghampiri mereka dan berkomunikasi kepada Laven, dan gadis itu adalah adik dari Wendy Shang.


"Tidak peduli, katakan padanya jangan memaksa." Laven memotong omongan dari adik Wendy.


"Tapi kak..., ini tentang kak Qing-" ujar adik Wendy yang lagi-lagi perkataannya tidak dipedulikan, Laven langsung pergi untuk menemui Wendy.


...

__ADS_1


Hubungan mereka rumit ya..., tetapi kasihan juga Nona kedua keluarga Shang ini.


"Hai...? Kamu adik dari Wendy Shang yang tadi kan?" tanya Vallene kepada gadis itu.


__ADS_2