
Karena mereka belum saling mengenal satu sama lain, mereka masih canggung untuk mengatakan sesuatu.
"Apa aku bisa membantumu untuk berdiri?" Kenneth mengulurkan tangannya kepada Vallice, Vallice awalnya malu-malu tetapi ia bersedia menerima bantuan Kenneth.
"Terimakasih," dengan nada suara yang pelan, ujar Vallice dengan memberikan tangannya kepada Kenneth.
Kenneth membantu Vallice untuk berdiri, saat mereka berdiri tegak dan menghadap satu sama lain, terlihat Vallice lebih pendek dari pada Kenneth. Sehingga Vallice harus mendongak untuk melihat wajah Kenneth.
"Terimakasih ya...," ujar Vallice.
Kenneth tersenyum dan memapah Vallice untuk duduk di kursi taman. Terlihat wajah Vallice menjadi memerah karena Kenneth menyentuh bahunya.
Kita sangat dekat! Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya, tapi siapa dia? Hmm, baru kali ini aku merasakan perasaan yang aneh seperti ini.
Vallice akhirnya duduk dengan nyaman di kursi, Kenneth kemudian berjongkok dan memeriksa kaki Vallice.
"Ehh, aku tidak terkikis kok! Aku tidak apa-apa!" Vallice menjadi semakin malu dan salah tingkah karena Kenneth melakukan hal itu.
"Hmm, sepertinya memang kaki mu baik-baik saja... Lain kali..., *menatap Vallice hati-hati ya...? *tersenyum lebar." ujar Kenneth, yang membuat Vallice semakin merona. Wajah dan telinga Vallice menjadi memerah semua.
"Ah..., I-i-iya~" jawab Vallice dengan gugup dan canggung.
...
Disisi lain, ternyata ada yang telah memperhatikan mereka. Berdiri tidak jauh dari kursi taman tempat mereka berada. Seseorang itu terdiam melihat apa yang mereka lakukan.
Vallice..., berapa lama aku tidak melihatnya? Apakah dia kan senang jika melihat ku... lagi?
Vallene ragu untuk berbicara atau mengatakan sesuatu. Dia terlihat sedih dan tidak percaya diri untuk menyapa Vallice, padahal disana dia sangat senang akhirnya bisa melihat sosok Vallice lagi.
Melihat Vallice tersenyum saat sedang berbicara kepada Kenneth, melihat Vallice yang tertawa, melihat Vallice sedang bercanda kepada Kenneth. Melihat Vallice yang bisa bahagia dan tersenyum dengan seseorang selain dirinya.
Sepertinya kau baik-baik saja tanpa aku ya? Apa aku seharusnya tidak kembali saja dari awal?
Dengan berat hati dan nafas yang sesak, Vallene berbalik dan berniat meninggalkan tempat itu. Mengurungkan niatnya bertemu kembali dengan Vallice....
....
"KAKAK? KAKAK...?"
Seseorang berteriak kepadanya, membuat ia terhenti dan membuat hatinya semakin sakit.
Vallice...? Kenapa sih kamu menyadari keberadaan ku? Kenapa kamu berteriak memanggil ku seperti itu? Apakah kamu tau jika itu semakin membuat ku sedih dan merasa bersalah?
Kenapa sih? Aku....
Vallene tidak bisa untuk melarikan diri, ia tidak tega dan akhirnya menoleh berbalik menghadap Vallice. Menatap wajah Vallice kembali dengan air mata yang membasahi pipinya dengan deras, dengan mata uang merah dan bengkak, dengan wajah yang menyedihkan.
__ADS_1
Begitu juga Vallice, bisa melihat sosok Vallene kembali yang sekarang sedang berdiri dihadapannya. Membuatnya tak bisa membendung air matanya, ia tidak kuasa menahan rasa haru dan bahagia yang bercampur sedih.
"Kenapa? Kenapa kamu masih memanggilku? Kenapa?" rintih Vallene dalam tangisannya.
"Kakak..., kakak...!" seru Vallice dengan menangis bahagia.
Vallice langsung berlari saat melihat orang yang berbalik badan itu benar-benar Vallene, berlari ke arah Vallene dengan segera. Seperti seseorang yang tidak bertemu lama dan memendam rindu yang begitu besar.
Vallice memeluk Vallene dengan erat, melepaskan rindu yang ia pendam selama ini. Menangis dalam pelukannya dan terharu karena dia akhirnya bisa menyentuh kakaknya kembali.
Momen itu membuat Kenneth yang melihatnya terharu, melihat kedua orang yang berpisah bertemu kembali.
Vallice memeluk Vallene dengan erat seperti itu, tetapi kenapa Vallene tidak memeluk Vallice kembali...? Padahal, aku melihat tangannya sangat ingin melakukan hal itu....
Dia menggenggam tangannya? Apa dia menahan dirinya sendiri...?
....
"Kakak! Apakah kamu benar-benar kakak? Apakah kamu nyata? Aku tidak bermimpi kan?" seru Vallice dengan memegang kedua pipi Vallene, ia nampak begitu bingung karena terlalu bahagia.
Vallene membelai tangan Vallice yang sedang memegang pipinya, tersenyum kepada Vallice dan mengatakan kata dengan lembut dan hangat.
"Iya..., ini aku." ujar Vallene.
Kakak..., ini nyata!
Tolong jangan meninggalkan ku lagi ya...?" ucap Vallice dengan suara yang menyedihkan dan memelas, Vallice memegang kedua tangan Vallene dan bersandar di tangan tersebut, hingga akhirnya dia pingsan.
"VALLICE! VALLICE?" teriak Vallene yang panik melihat Vallice yang tiba-tiba tak sadarkan diri. Kemudian Kenneth langsung menghampiri mereka dan membantu.
***
.
Aku yang sedang membungkuk dan meringkuk, diriku sekarang sangat menyedihkan. Sendiri di tempat yang gelap dan sepi ini, sekencang apapun aku berteriak dan menangis.
"Tidak ada yang bisa mendengarkan. Karena, aku sendirian."
Sampai dimana, dari belakang terlihat cahaya tenang yang menyinari dan memancarkan sinarnya dari belakang. Sehingga aku bisa merasakan kehangatan dan kenyamanannya.
Saat aku akhirnya bisa menghentikan tangisan ku, aku mencoba menoleh dan berbalik untuk melihat cahaya tersebut.
Sangat terang disana, mataku sangat silau.
"Si-siapa mereka."
Ucapku yang penasaran, karena melihat dua bayangan hitam yang menyerupai seseorang. Laki-laki dan perempuan.
__ADS_1
Kedua bayangan itu berjalan mendekati ku, mereka semakin dekat dan dekat. Saat dimana mereka hampir sampai, salah satu bayangan menghilang. Dan itu adalah bayangan dari perempuan.
Akhirnya hanya satu bayangan saja yang berhasil berdiri di depan ku, aku tidak bisa melihat apa dia sebenarnya karena memang wujudnya hanya tubuh dari laki-laki yang sekujur tubuhnya berwarna hitam.
"Kenapa? Siapa? Kenapa kamu disini, siapa kamu ini?"
Aku melontarkan beberapa pertanyaan untuknya. Tidak ada jawaban darinya, aku pikir dia tidak bisa berbicara karena ia tidak memiliki mulut bahkan wajah.
Anehnya aku tidak merasa takut dan tidak ingin menjauh dari sosok aneh tersebut. Bayangan itu seperti mengajak ku untuk pergi kearah cahaya dan masuk kedalam.
"Tapi..., bagaimana dengan teman mu? Kenapa dia menghilang? Apakah kita cuma pergi berdua?"
Mendengar ucapan ku, bayangan itu sepertinya menjadi murung dan sedih. Ia menuntun dan mengelap kedua matanya.
Ehh? Dia menangis?
Aku tidak mengerti, tetapi setelah itu dia mencoba berkomunikasi dengan ku dengan gerakan tubuhnya. Aku tidak bisa memahaminya, ia menyadari jika aku tidak bisa mengerti nya.
Ia lalu menghela nafas, dan menarik tangan ku. Berjalan mendekati cahaya yang terang itu.
Kita sampai di depan cahaya tersebut, hanya membutuhkan satu langkah untuk masuk ke dalam. Tetapi ia berhenti, dan aku menjadi kebingungan.
Bayangkan itu lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah dimana tempat aku meringkuk dengan menyedihkan.
Disana aku melihat sosok dari bayangan perempuan, sedang melambaikan tangannya kepada kita. Membuat ku bertanya-tanya kenapa ia berada disana dan sedang apa? Dan kenapa ia tidak ikut dengan kita? Kenapa ia lebih memilih untuk menetap di tempat gelap dan sunyi itu?
Aku kemudian menoleh ke arah bayangan laki-laki yang berada di sampingku, dia juga melambaikan tangannya untuk si bayangan perempuan.
Setelah itu, bayangan laki-laki memegang tangan ku kembali dan mendorong ku masuk kedalam cahaya.
Meninggalkan bayangan perempuan di tempat itu, aku bisa melihat dengan samar bayangan perempuan diam dan tidak bergerak.
Cahaya mulai menutup dengan cepat, tetapi bayangan itu tidak kunjung datang.
"Teman mu tertinggal!"
Ujar ku dengan panik, tetapi bayangan laki-laki hanya diam saja dan hanya melihat hal itu dengan tenang.
Hingga akhirnya lubang cahaya tertutup, si bayangan perempuan terjebak di dalam sana.
***
...
"Ehh..., eggh! Dimana ini...?" lirihnya yang pelan pelan membuka matanya.
"Nona! Nona sudah sadar? Nona...,"
__ADS_1