For a Freedom

For a Freedom
YINNE : FOR FREEDOM (44)


__ADS_3

"Wah dia benar-benar jago menangkap ikan dengan tangan kosong, ya..." ujar Vallene sambil duduk menjaga ikan di keranjang yang telah berhasil di tangkap oleh Vallice.


"Putri yang memiliki keahlian unik..., kenapa tidak ada penghargaan untuk keahlian ini ya." sahut Kenneth yang juga sedang menjaga ikan di keranjang.


"Kalau ada aku yakin dia menjadi juara pertama," ucap Vallene.


Kenneth dan Vallene menunggu Vallice selesai menangkap ikan di tengah sungai, Vallice terlihat senang dan bersemangat sekali. Membuat Vallene dan Kenneth agak....


...


"Vallice! Ini sudah banyak, kau mau menangkap berapa banyak lagi? Sudah ayo naik, kamu sudah basah kuyup." teriak Vallene memperingatkan Vallice.


"Ya sebentar, aku ingin mendapatkan yang satu ini!" seru Vallice yang masih asik.


"Baiklah, tapi janji hanya satu itu ya! Aku dan Kenneth akan menyiapkan api dan hal lain disini." ucap Vallene.


"Ya, baiklah!" sahut Vallice dengan senyuman meringis lebar.


Astaga..., aku harap pin itu hilang dan hanyut di sungai.


Batin Vallene mengharapkan pin yang Vallice selalu gunakan agar terhanyut arus. Beberapa saat kemudian Vallice akhirnya selesai dengan membawa ikan yang besar setengah ukuran tubuhnya, Vallice meletakkan ikan itu. Kenneth dan Vallene tidak menyangka bahwa akan ada ikan sebesar itu di sungai.


"Wah? Ini ikan di sungai ini?" Vallene tidak percaya.


"I-iyaa...? Hehe." ujar Vallice.


"Meskipun kamu memiliki hobi aneh tetapi aku bangga...! Muah." Vallene mencium pipi Vallice.


"Kakak...! Aku akan berjemur sebentar...." ujar Vallice.


Vallice malu karena Vallene melakukan hal itu di depan Kenneth, Kenneth tertawa kecil melihat itu. Vallene dan Kenneth mulai membakar ikan, Vallice sedang berjemur sambil membaca buku disana.


Semua ikan telah matang dan sudah siap untuk dimakan, ketiga bocah itu sangat senang.


"Wah! Jarang-jarang aku bisa memakan ikan bakar!" ucap Vallene.


"Jika kakak ingin aku akan membuatnya untuk kakak!" ucap Vallice.


"Aku yang membuat bumbu ikan dan memaksanya, maaf jika tidak terlalu enak ya." ujar Kenneth.


"Penampilannya saja cantik dan menggoda seperti ini mana mungkin tidak enak!" ucap Vallene.

__ADS_1


"Selamat makan...!" seru Vallice.


Mereka makan bersama-sama menyantap ikan bakar di bawah pohon rindang yang teduh dan sejuk, tidak menyangka ternyata ikan itu rasanya sangat enak karena bumbu yang di buat Kenneth dan terasa segar dagingnya karena langsung di tangkap oleh Vallice.


"Kak Kenneth ternyata bisa memasak?" seru Vallice.


"Aku memang bisa memasak, tetapi juga tidak begitu paham banyak. Karena aku saat di rumah ku dulu aku sudah belajar memasak, untuk ibuku dan aku." ujar Kenneth.


"Jadi..., ibu kak Kenneth sakit?" ucap Vallice.


"Iya, tetapi itu dulu. Beliau sekarang sudah sembuh dari sakitnya, sekarang beliau sudah bahagia di atas sana." ucap Kenneth.


"Aku..., maaf...." ucap Vallice yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, itu bukan hal yang menyedihkan kok. Masa ibuku sudah bahagia aku harus sedih? Ayo kita habiskan saja semua ikan-ikan ini." seru Kenneth.


Wajahnya terlihat baik-baik saja, dia pasti sudah rela dengan kepergian ibunya. ... Ibu..., apakah anda juga bahagia diatas sana?


Vallene mendengar cerita Kenneth menjadi teringat kepada ibunya, sayang sekali foto ibunya telah hilang saat ia di bawa secara paksa oleh Franschine.


"Ehmm..., sudah cukup. Sudah terlalu kenyang... dan ikan-ikan ini masih tersisa banyak...." ucap Vallice yang sudah kekenyalan.


"Harus kita apakan ya...?" gumam Kenneth.


"Dimana? Aku jarang melihat orang lain di sekitar sini. Ayo kita berikan saja kepada mereka." ucap Kenneth.


"Tidak jauh dari sini, kita pergi ke barat saja sedikit dan kita kan menemui kakak beradik." ucap Vallene.


Saat Vallene melirik Vallice, Vallice seperti panik dan berprilaku agak aneh. Vallene sebenarnya tidak mau membuat Vallice seperti ini.


...Maaf..., aku benar-benar tidak percaya kalau kamu benar terlibat, aku hanya ingin memastikan. Aku akan melakukan hal yang terbaik untuk mu....


***


Mereka telah tiba di tempat yang dibicarakan oleh Vallene, disana terdapat Kiel dan Derren sedang tidur siang sepertinya. Kiel dan Derren nampak terlihat kelelahan, tertidur pulas di samping kayu-kayu bertumpuk yang sudah mereka kumpulkan.


Apa? Bagaimana kakak bisa mengenal mereka...? Bagaimana ini, apakah Kiel dan Derren masih mengenali ku...?


"Ehh..., sepertinya mereka tertidur karena capek, sebaiknya kita tinggalkan saja ikan di samping mereka dengan catatan. Agar kita tidak perlu membangunkan mereka." ucap Vallice.


"Bagaimana nanti jika ikan telah di makan hewan saat mereka bangun? Atau mengundang hewan buas? Sepertinya memang harus kita tawarkan mereka." ucap Kenneth.

__ADS_1


"B-benar juga..." gumam Vallice.


Vallene merasa Vallice semakin aneh, disisi lain dia juga sedih karena sepertinya Vallice benar-benar terlibat.


"Aku akan membangunkan mereka, aku mengenal mereka." sahut Vallene.


Vallene mencoba membangunkan Kiel, dan berhasil. Kiel bangun dan melihat Vallene, kemudian Kiel tersenyum.


"Vallene? Kamu kembali, apakah kamu tidak tersesat lagi haha?" ujar Kiel bercanda kepada Vallene, sepertinya memang Kiel akrab dengan Vallene.


"Haha, aku tidak tersesat lagi. Aku sudah bisa mengingat jalan kok!" Vallene juga balik bercanda kepada Kiel, kemudian Kiel tertawa kecil melihat muka Vallene yang konyol.


"Eh, kamu sudah makan? Dan Derren juga." ucap Vallene.


"Belum..., aku akan mencuri beberapa semangka dan labu di kebun sana nanti. Apakah kamu juga belum makan? Bergabung saja bersama kami." ucap Kiel.


"Hmm, kali ini tidak perlu mencuri lagi ya. Aku membawakan ikan bakar untuk mu, itu yang sedang dibawa oleh teman ku." ucap Vallene, dengan menunjuk ke arah Kenneth. Kiel menoleh dan melihat disana ada dua orang.


Laki-laki tampan yang sedang menyapa Kiel dengan senyuman manis, dan perempuan yang sedang menghadap kebelakang. Kiel tidak bisa melihat wajah perempuan itu tetapi sepertinya dia tidak asing dengan perempuan itu.


Sepertinya aku mengenalinya...? Sudahlah sepertinya angan ku saja, bagaimana bisa aku pernah akrab dengan orang kaya sepertinya.


Kemudian Kiel berbisik kepada Vallene.


"Hei..., kenapa kedua teman mu ini seperti orang-orang kaya? Apakah mereka tidak keberatan jika berkumpul dengan kita?" bisik Kiel. Vallene kemudian berbalik membisikkan kata kepada Kiel.


"Tenang saja, mereka sangat bersahabat. Jangan berfikir orang kelas atas selalu sombong dan menyebalkan, memang faktanya kebanyakan sifat mereka seperti itu. Tetapi tidak semuanya seperti itu kok." bisik Vallene.


Melihat Vallene dan Kiel berbisik-bisik dari mulut langsung ke telinga, apalagi jelas sekali jika mereka membicarakan Kenneth dan Vallice dengan tatapan mencurigakan.


"Haha..., kalian sedang membicarakan apa...?" Kenneth mencoba untuk lebih akrab.


"Hai Tuan, terimakasih atas makanan yang anda berikan. Kami sangat berterimakasih, meskipun adik saya masih tidur, tatapi dia juga berterima kasih." ujar Kiel.


"Tidak perlu begitu, panggil saja aku Kenneth." ucap Kenneth sambil meletakkan ikan itu.


"Ini adalah masakanku, dua adik perempuan ku ini tidak bisa memasak. Jadi..., jika kurang lezat maafkan aku." ucap Kenneth, Kiel kagum dengan tutur kata Kenneth yang lembut dan sopan. Kiel juga di buat tenang karena suara Kenneth terdengar menenangkan.


"Terimakasih...," ucap Kiel dengan wajah menyambut.


Vallene senang karena Kiel dan Kenneth bisa akrab dan Kiel tidak merasa tertekan. Tetapi hal yang ia curigai adalah kenapa Vallice sepertinya terus menjauh dan seperti bersembunyi.

__ADS_1


Vallice sudah berada sejauh itu?


__ADS_2