For a Freedom

For a Freedom
YINNE : FOR FREEDOM (33)


__ADS_3

Kenneth? Hmm, sepertinya tamu yang diundang kali ini cukup banyak.


"Kamu mau berdansa?" ujar Kanha dengan lembut, mengulurkan tangannya secara pelan dan tersenyum kepada Vallene.


"Maaf, aku tidak bisa..., kamu cari saja pasangan lain ya." jawab Vallene yang balik tersenyum kepada Kanha.


Kanha kemudian menarik tangannya kembali dan tersenyum, bisa dilihat dari raut wajah Kanha yang sepertinya sedikit kecewa tetapi tetap profesional.


"Ah tidak apa-apa." ujar Kanha dengan pelan, kemudian Kanha menunduk dan memandangi kedua telapak tangannya dengan sedikit murung.


Suasana beralih, semua orang terfokus untuk menonton dansa para Tuan putra dan putri disana, termasuk Vallene dan Kanha. Setelah beberapa jam ini acara selanjutnya adalah pemotongan kue.


Semua orang berkumpul rapi di aula, di depan banyak orang itu ada Vallice yang berdiri dengan cantik di samping kue yang besar dan mewah.


"Terimakasih atas kehadiran kalian semua untuk malam ini, suatu kehormatan bagi saya...., terimakasih juga atas hadiah nya." seru Vallice yang berada di depan.


Vallene menatap Vallice dengan bangga, ia sepertinya bahagia dan terharu melihat Vallice mulai dewasa. Sangking bahagianya ia sampai meneteskan air mata.


Dia tahun ini sudah berusia 11 tahun? Dia sekarang sudah besar ya, entah kenapa..., meskipun aku tau Vallice adalah anak dari orang yang paling ku benci. Tapi..., aku juga tidak punya alasan untuk membencinya juga, mengingat dia juga orang yang menerima ku, orang yang memperlakukan ku seperti manusia hidup seperti manusia lainnya.


Kadang aku juga iri kepadanya, dia mempunyai kehidupan yang layak dan orang tua bergelimang harta yang sangat menyayanginya, aku selalu bertanya-tanya kenapa dia masih saja mengeluh dengan kehidupan seperti ini. Hingga aku akhirnya tersadar.


Aku tidak boleh menghakimi seseorang dan berkomentar dengan masalah mereka sebelum aku merasakan apa yang mereka rasakan. Semua orang pasti ingin dimengerti, aku dan Vallice selalu saling mengerti satu sama lain.


Aku tidak tau berapa lama untuk ku bisa terus berada di sampingnya dan mendengar keluh kesahnya, suatu hari juga aku akan pergi pada akhirnya. Entah itu dekat atau lambat, harapan ku untuknya adalah.... Aku berharap dia selalu baik-baik saja walaupun aku tidak ada, dia harus mengerti kapan semua masalahnya akan dia selesaikan sendirian.


Aku juga berharap ada seseorang yang bisa menggantikan ku kelak, seseorang yang selalu ada disampingnya dan menyayangi nya dengan sepenuh hati. Memberikan kehangatan dan kebahagiaan dalam hidupnya, tak masalah jika ia akan lupa dengan ku nanti. Aku hanya berharap saja agar dia tidak mengalami hal seperti ku.


....

__ADS_1


Kenneth melihat Vallene yang menangis bangga melihat Vallice, kemudian ia menepuk bahu Vallene. Membuat Vallene merasa menjadi lebih baik dan tersenyum bahagia kembali.


"Aku tidak menyangka dia sudah sebesar ini haha, aku rasa ini bagi dia untuk merasakan hal-hal yang berkaitan dengan lawan jenis dan cinta monyet bukan?" ujar Vallene yang bercanda kepada Kenneth.


"Hahaha, iya. Eh tadi ngomong-ngomong kamu bertemu dengan siapa saja? Aku sempat lihat kamu berbicara dengan anak orang penting." seru Kenneth.


"Hah? Benarkah? Aku ti-tidak menyadari itu. Hmm, aku bertemu dengan kedua putri dari keluarga Shang, Shang Wendy dan Shang Kha..., terus dengan putra dari Duke Vantreh dan terakhir Levan Shopine." ujar Vallene.


"Ka-k-kamu bilang bertemu dengan Levan? Aku kira kamu tadi hanya bercanda saja, kamu beneran berbicara dengannya?" seru Kenneth yang sedikit terkejut.


"Kok tidak percaya sih, iya aku sempat berbincang dengannya. Tapi tidak lama, itu juga perdebatan kecil." ujar Vallene dengan santai.


"Astaga~" reaksi Kenneth yang berlebihan.


Kenapa? Aku melakukan sesuatu hal yang membahagiakan atau mengancam?


Perbincangan mereka berakhir karena detik ini waktunya untuk Vallice memotong kue. Di bantu dengan pelayan Nae Vallice memotong kue dengan hati-hati dan senang.


"Bagian pertama kue ini adalah untuk...," ucap Vallice dengan lantang yang kemudian menoleh ke arah Vallene dengan senyumannya.


"Kakak ku yang terbaik dan ku sayangi." ujar Vallice dengan senyum yang lebar kepada Vallene, membuat semuanya juga melihat kearah Vallene.


Vallene terdiam, kemudian dengan lembut Vallice memegang tangannya dan mulai menariknya dengan pelan dan lembut. Semua orang bertepuk tangan kepada mereka.


Vallene dan Vallice berada di depan sekarang, mereka berdampingan. Kemudian Vallice memberikan suapan kue pertama itu untuk orang yang menurutnya sangat berarti dalam hidupnya.


Ditempat lain terlihat Kha' dan Wendy yang kebingungan melihat hal yang terjadi di depan.


"A-apa maksudnya ini? Bukankah dia Putri Duke Vantreh ucapnya?" bisik Wendy yang merasa di bodohi.

__ADS_1


"Entahlah...." ujar Kha' yang juga merasa aneh.


Akhir yang susah untuk di tebak, siapa sebenarnya Vallene itu sendiri? Ah sudahlah, aku akan berkomunikasi dengannya lewat surat nanti. Aku sedikit nyaman berbicara dengannya.


Tidak sadar ternyata Wendy memperhatikan adiknya yang tersenyum sendiri disampingnya, Wendy merasa ada yang salah dengan adiknya dan dia hanya melirik kemudian mengabaikannya.


Ditempat lain selanjutnya ada Laven Shopine yang terlihat dengan tajam dan tanpa berkedip melihat Vallice dan Vallene dari jauh.


Di tempat lain berikut kemudian juga ada Kanha Vantreh yang dikejutkan karena Vallice menyebutkan Vallene sebagai kakaknya.


"Ternyata dia itu bagian dari keluarga Albern, aku sangat mengagumi nya...," ujar Kanha dengan pelan.


Aku harap suatu hari aku bisa melihat kembali, sayang sekali aku tidak ada waktu sisa malam ini untuk berbicara dengannya. Aku harus sesegera mungkin kembali, ah menyebalkan!


....


Diwaktu yang sama juga Vallice dan Vallene tertawa senang dan acara berakhir, dengan bahagia.


Ulangtahun ku kali ini aku pikir bukan ulangtahun ku yang sebenarnya, ulangtahun ku yang sebenarnya sudah dimulai sebelum aku turun untuk merayakan pesta yang berisik ini.


Ulangtahun ku yang sebenarnya adalah..., dimana ada beberapa orang yang aku sayangi dan menyayangi ku. Aku dan orang-orang itu, merayakan hari bertambahnya usia ku, membuat ku bisa merasakan kebahagiaan di hari ulangtahun ku.


Meskipun dengan kue kecil dan lilin yang sederhana, tetapi yang penting disana ada kelengkapan dan harapan yang besar. Aku tidak tau kepada siapa aku berucap syukur dan terimakasih, tetapi untuk malam ini terimakasih atas malam yang membahagiakan ini.


Melihat Vallice yang terlihat senang dan terlukis dengan indah senyuman yang manis diwajahnya, membuat Vallene juga bisa merasakan kebahagiaan yang Vallice rasakan. Vallene kemudian memeluk Vallice dan berbisik kepadanya.


"Selamat ulangtahun tahun..., aku harap kamu menjadi pribadi yang lebih dewasa menghadapi segala masalah mu, maaf..., aku pada akhirnya tidak akan selamanya bisa berada di sampingmu." bisik Vallene dengan ungkapan yang berat.


"Kakak..., kakak akan terus disini! Di sisi Vallice! Tidak usah khawatir Vallice sekarang bisa menjaga kakak!" ujar Vallice.

__ADS_1


Setelah ini, aku akan berbicara kepada kakak mengenai Blue Rose.


__ADS_2