
Duduk di kayu dari pohon yang telah roboh, di dini hari yang akan menjelang pagi. Kedua bocah itu duduk disana menghadap ke timur untuk melihat matahari terbit.
"Kenneth, terimakasih ya sudah menolong ku lagi... entah yang beberapa kali.... Dan maaf, jika aku selalu membebani mu." ujar Vallene kepada Kenneth dengan suara serak dan lemas.
"Bagaimana mungkin kamu merepotkan ku, aku selalu disini untuk melindungi mu. Selama aku bisa melihat senyum mu, aku sudah sangat bersyukur..., tetapi maafkan aku. Kali ini aku lalai...," jawab Kenneth.
Karena Vallene masih belum mempunyai tenaga yang kuat kembali, Vallene duduk bersandar di bahu Kenneth. Vallene terlihat lemah.
"Kapan aku bisa kuat berdiri di kaki ku sendiri...? Kenapa aku selalu menyusahkan orang lain..., jika di pikir-pikir, aku jahat juga ya." gumam Vallene yang mengatakan perkataan itu dengan tersenyum walaupun dia sangat lemas.
Kenneth kemudian menaikkan selimut yang ia pakaikan ke tubuh Vallene, selimut itu agak turun.
"Udara pagi hari terasa dingin sebelum matahari tiba, begitu juga kamu..., kamu harus berlindung didalam selimut terlebih dahulu agar menghindari kamu kedinginan dalam pagi buta. Tunggu dan tunggu, memang butuh waktu yang lama untuk dia datang, tapi percayalah bahwa matahari akan selalu terbit dan mengisi cahaya di dunia yang gelap ini." ujar Kenneth.
"Sampai kapan aku akan selalu berlindung di dalam selimut...? Aku mau seperti dirimu yang tidak membutuhkan apapun dari udara dingin pagi." jawab Vallene.
Kenneth kemudian mengelus kepala Vallene, Kenneth menatap Vallene dengan matanya yang sembab akibat menangis.
"Terkadang yang sudah terbiasa bangun di pagi hari, akan terbiasa juga merasakan dingin di pagi hari." Kenneth tersenyum.
"A-aku juga ingin terbiasa..., agar aku tidak lemah lagi seperti ini!" ucap Vallene dengan kekeh.
"Jangan, berlindung lah dulu selagi masih ada tempat berlindung. Untuk terbiasa membutuhkan waktu yang lama dan usaha yang keras." ujar Kenneth.
Vallene menatap kosong wajah Kenneth, kemudian Kenneth memeluk Vallene.
"Kalian berdua sudah seperti adikku, aku bertanggung jawab atas kalian karena kalian sangat aku sayangi. Terlebih lagi kamu, aku harus benar-benar fokus dalam menjaga mu. Mohon jangan sia-siakan usaha ku, tetaplah aman di belakang ku saja." ucap Kenneth sambil memeluk Vallene, Vallene merasa tersentuh.
Kenapa ada yang rela melakukan hal seperti ini untukku...? Disaat mereka di bebani bukankah harusnya menghindar? Kenapa.... Apa untungnya untuk mereka saat mereka melindungi ku? Kenapa mereka bersedia...?
Saat Vallene diam, dalam tatapan terharu yang bercampur sedih akhirnya matahari terbit mulai muncul. Matahari sedikit demi sedikit terlihat, sinarnya yang hangat mengenai kedua bocah itu.
Hangat, rasanya nyaman.
"Kenneth! Matahari terbit, itu sangat indah." ujar Vallene yang kagum.
"Iya, sangat indah..., selain itu matahari juga akan membantumu menyembuhkan sedikit demi sedikit lukamu." suara Kenneth sungguh hangat.
"Kamu lemas..., Kenneth!" Vallene dibuat khawatir. Tubuh Kenneth tiba-tiba lemas, Vallene mencoba menahan tubuh Kenneth.
__ADS_1
"Mm-maaf..., aku hanya sedikit kelelahan..., kamu tetap bersandar saja. Berjemur di pagi hari akan mengembalikan kekuatan ku lagi, kita akan sembuh bersama-sama." ucap Kenneth yang meyakinkan Vallene.
"Kamu banyak mengeluarkan energi untuk menyembuhkan ku? Sihir mu...." Vallene khawatir.
"Tidak apa-apa, aku adalah penyihir yang kuat." ucap Kenneth dengan senyuman hangat.
***
"Kakak, Kak Kenneth...! Kalian sudah kembali, aku khawatir...." khawatir Vallice yang menyambut mereka, Vallice berdiri menunggu mereka di depan pintu rumah.
Vallice langsung memeluk Vallice dengan erat, ia menangis dan merasa menyesal.
"Maaf kak..., aku semalam tidur lebih cepat dan melupakan kakak. Maafkan Vallice..., Vallice..., maaf...," ucap Vallice dengan menangis tersedu-sedu.
"Tidak apa-apa..., wajar jika kamu sudah tidur. Aku saja yang sial dan bertemu dengan mereka." ucap Vallene.
Tetapi Vallice terus saja menangis sambil memeluk Vallene dengan erat. Vallene tersenyum pasrah sambil mengelus-elus punggung Vallice.
"Vallice..., untuk saat ini... lepaskan Vallene dan biarkan dia beristirahat ya...?" ucap Kenneth.
Vallice menurut dan melepaskan Vallene dari pelukannya, singkat cerita mereka mengantar Vallene ke ruangan Vallene sendiri yang berada di lantai tiga.
Vallene tidur di kasurnya dengan Vallice yang terduduk disampingnya dan Kenneth yang berdiri.
"Vallice, temani Vallene beberapa waktu ya..., aku akan melakukan meditasi dan beberapa hal lain." ucap Kenneth.
"Tentu saja, aku akan menjaga kakak disini. Aku akan selalu di samping kakak." seru Vallice.
Kenneth tersenyum dan mengangguk, kemudian dia keluar dari ruangan Vallene. Vallene menanyakan sesuatu kepada Vallice.
"Bagaimana dengan ketiga pelayan semalam? Bisakah aku bertemu mereka?" ujar Vallene.
Vallice terlihat tidak suka dengan pertanyaan Vallene. Wajahnya menjadi mengerut.
"Kakak! Lupakan saja mereka, kamu seperti ini gara-gara mereka! Tentu saja aku sudah menghabisi mereka!" seru Vallice.
"Menghabisi... mereka....?" sahut Vallene.
"Emm, maksudnya... tentu saja aku sudah mengusir mereka dari sini, sampai kita tidak akan bertemu lagi dengan mereka. Sudahlah, jangan tanyakan mereka lagi..., itu membuat ku terus merasa marah." seru Vallice dengan emosi.
__ADS_1
"Hahaha, kamu kalau marah bukan kelihatan menyeramkan tapi malah terlihat lucu." Vallene tertawa kecil.
Vallice terlihat kesal dan dia tidak mau bicara, dia hanya diam karena merajuk sambil menuangkan air di gelas.
Para pelayan itu..., tidak benar-benar mati kan?
Batin Vallene yang juga sedang melirik Vallice. Vallice menghampiri Vallene dan memberikan segelas air. Vallene menerima gelasnya dan meminum air itu.
"Apakah kakak masih merasa sakit...?" ucap Vallice yang khawatir.
"Tidak apa-apa kok, aku hanya merasa aneh kenapa tidak ada Bi Miranda yang mengawasi dapur kotor? Biasanya Bi Miranda selalu berada di sekitar situ." ujar Vallene.
"Emm, kakak apakah kakak sadar bila tidak ada Bi Miranda selama ini..., di rumah ini...?" jawab Vallice.
"Ah benarkah? Pikirku aku tidak bertemu sapa dengan Bi Miranda karena aku belum sempat bertemu dia saja." ucap Vallene yang seolah-seolah tidak tau.
Sebenarnya aku sudah tau Bi Miranda sudah tiada, tapi aku heran kenapa Vallice tidak memberitahu ku? Kenapa akhir-akhir ini dia begitu banyak menyembunyikan hal?
"Bi Miranda..., telah tiada...." ucap Vallice yang sedih.
"Bi Miranda...? Telah tiada...? Bagaimana bisa...? Kapan dan kenapa?" seru Vallene yang pura-pura panik.
"Kata pelayan lain, Bi Miranda sakit. Dan beberapa hari kemudian, di waktu tengah malam dia ditemukan kejang-kejang dan meninggal. Aku juga..., terkejut karena pada keesokan harinya disaat aku ingin menjenguknya, beberapa pelayan mengemasi barang-barangnya. Ternyata Bi Miranda dibawa pulang malam itu juga." penjelasan Vallice.
"Astaga..., beristirahat dengan damai Bi Miranda..., aku tidak menyangka...? Kenapa kamu tidak memberi tahu ku sejak awal? Aku kira dia sedang berlibur atau pulang ke kampung halamannya." Vallene berpura-pura khawatir.
"A-aku hanya tidak mau kakak dan diriku merasa sedih lagi..., aku diam karena aku tidak ingin membahasnya.... Karena itu bisa membuat ku merasa sedih lagi.." gumam Vallice.
Dia gugup
"Ah maafkan aku..., bolehkah kamu mengajakku untuk mengunjungi makam Bi Miranda? Dia sangat baik kepadaku saat dia hidup, bagaimana aku tidak menjenguknya..." ucap Vallene.
"Ehh..., Bi Miranda di makamkan di kampung halamannya yang jauh..., kakak kan masih sakit...." ucap Vallice.
"Benar juga, disaat aku sudah sembuh kita berangkat ya...?" Vallene.
Vallice merasa tidak tenang, bola matanya berpindah-pindah.
"Ba-baiklah...," gumam Vallice.
__ADS_1