
Ema dan Vallene telah menghabiskan waktu malam malam bersama, kini mereka sedang menaiki tangga menuju lantai dua. Ema berada di belakang Vallene.
Rumah ini kotor dan berdebu, rasanya aku takut sekali..., tapi Igine ternyata adalah sosok yang bersahabat. Aku cukup terkejut tadi melihat sosok Nyonya Ema.
"Apakah anda tinggal sendirian di rumah ini?" Vallene bertanya.
"Ya, entah dari kapan." jawab Ema.
"..." Vallene.
...
Mereka berdiri di depan pintu suatu kamar.
"Vallene, ini adalah kamar mu. Masuk dan tidurlah, aku tidak bisa menemani mu tidur. Tetapi jika kamu mendengar keributan dari luar, ..., jangan hiraukan dan tetap tidur." ucap Ema yang membelakangi Vallene dan kemudian setelah itu Ema turun ke lantai bawah.
...
"Ikuti saja, turuti saja." gumam Vallene menenangkan diri. Kemudian Vallene membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
Setelah Vallene menutup pintunya, ia berbalik dan melihat keadaan kamarnya.
"Semua sudut rumah ini terlihat kacau dan kotor, tapi kamar ini terlihat sangat rapi dan terawat." gumam Vallene yang kebingungan.
Tidak ingin berpikiran berlebihan, Vallene memutuskan untuk berbaring dan mencoba tidur.
"Rasanya seperti aku memiliki kamar sendiri, kamar ini lebih bagus daripada kamar Vallice. Kamar dengan desain mewah khas zaman kuno dan barang-barang nya juga terlihat antik." gumam Vallene yang memandangi langit-langit kamar.
.
..
...
"Jam berapa ini...?" rintih Vallene yang terbangun dari tidurnya, ia pelan-pelan membuka mata. Vallene terduduk dengan masih mengantuk.
Terdengar suara yang sangat menjijikkan, seperti suara robekan dari benda lembek dan berair. Suara itu membuat Vallene merasa tidak nyaman.
"Beberapa kali aku sepertinya mendengar, ... suara tusukan...?" ucap Vallene.
__ADS_1
Vallene turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu, saat sudah sampai di depan pintu dan ia hendak menyentuh pintu untuk membukanya.
Tangannya berhenti, ia teringat kembali apa yang Kenneth katakan.
"Aku tidak boleh...," ucap Vallene dengan tegas.
Kemudian ia berlari dan kembali ke tempat tidurnya lagi. Vallene memeluk erat bantal dan ia menutupi tubuhnya dengan selimut, berharap suara menganggu itu tidak terdengar lagi.
"Suara ini terdengar sangat menjijikkan." batin Vallene.
"Apakah aku benar-benar bisa keluar dari tempat ini dengan selamat?" ucap Vallene.
...
"Apa yang sedang terjadi di kediaman Fred, apa yang dilakukan Kenneth dan Vallice saat Franschine berada di rumah? Pasti sangat membosankan karena tiba-tiba ada aturan yang begitu ketat." ujar Vallene yang berbicara sendiri kepada dirinya.
"Hah..., bila Kenneth telah menjemput ku nanti. Aku akan bertanya apakah dua penjaga Franchine berada disana..., Malvech, Damian..., maksud ku dan satu lagi..! Xorien...." gumam Vallene.
"Yang terakhir adalah orang paling dingin dan kejam, mirip sekali seperti Franschine. Dia bahkan tidak segan memenggal kepala anak kecil miskin karena anak itu menabrak dan membuat benda yang di pegang Franschine menjadi tumpah dan berantakan.
Kejadian itu..., masih ku ingat. Dimana entah kenapa semua yang tinggal di kediaman Fred dikumpulkan di taman dengan menggunakan tudung panjang serba hitam yang menutupi seluruh tubuh pemakainya. Terlihat aneh dan menyeramkan tetapi aku melakukan hal itu juga.
Saat Franschine memasuki taman, semua menunduk hormat seakan Franschine adalah Tuan mereka, itu jelas salah tetapi hal yang konyol adalah aku juga melakukannya. Tiba-tiba Gina berlari dari samping dan menabrak Franschine.
Saat sedang memejamkan mata, terdengar suara gesekan pedang dan suara terpotong. Aku langsung membuka mataku dan melihat ke depan, melihat penjaga yang gagah dan besar sedang memegang pedang yang berlumuran darah.
Saat aku melihat sekali lagi, terlihat tubuh Gina yang tergeletak. Awalnya aku masih belum begitu khawatir, ku pikir Gina hanya tergores dan dipukul sampai pingsan.
Begitu penjaga itu mundur dan Franschine maju selangkah, baru terlihat ada benda menggelinding setelah di tendang oleh Franschine. Ya, itu adalah kepala Gina.
Aku hanya bisa menahan amarah, kesedihan, ketakutan, kegelisahan, karena aku takut. Aku sangat takut...,
Selanjutnya semua di minta untuk membuka mata, semua terkejut dan ketakutan melihat kaki Franschine berada di atas sebuah kepala yang telah berpisah dari badannya.
Disitu aku hanya menangis dan diam, aku marah kepada diriku. Gina adalah salah satu budak dari lima orang budak yang di beli oleh keluarga Fred. Gina dan akulah yang bisa bertahan hidup sampai kita berusia 8 tahun. Tiga yang lain telah tewas dengan mengerikan di depan kita. Masing-masing saling menyaksikan kematian." ingatan dari hati Vallene.
...
"Hah..., aku akan hidup dengan bahagia untuk kalian. Dimana pun kalian berada, beristirahatlah dalam damai..., Gina, Jese, Reda dan Helen." gumam Vallene.
__ADS_1
.
***
"Vallene..., saatnya bangun. Ini sudah pagi,"
Merasakan sentuhan yang menggoyangkan tubuhnya, ia terbangun pelan-pelan. Matanya berkedip beberapa kali untuk bisa terbuka.
"Hah..?" Vallene terkejut.
"Ada apa?" tanya Ema kebingungan.
Aku lupa jika sekarang aku tinggal dengan Igine, dibuat terkejut saat aku membuka mataku aku menemui seseorang berkepala Rusa berdiri di samping ku.
"Tidak apa-apa nyonya Ema, selamat pagi..!" ucap Vallene dengan wajah menyambut menyenangkan dengan posisi masih tertidur.
Apakah aku setiap pagi akan seperti ini jika putri ku masih hidup? Merasakan ucapan selamat pagi dari mulut sang buah hati, senyuman pertamanya di hari ini akan menjadi milikku. Putriku...,
Ema entah kenapa terdiam, Vallene menjadi bingung dan panas dingin. Khawatir apakah dia menyinggung Ema karena dia tidak mengerti bahasa wajah dari Rusa dan hewan lainnya. Tetapi benar, wajah Ema terlihat aneh.
"Ada apa...? Maaf jika aku membuat kesalahan, dengan sepenuh hati saya aku meminta permohonan maaf anda. Aku janji aku tidak akan melakukannya lagi." ujar Vallene memohon.
Aku harap Nyonya Ema tidak benar-benar tersinggung.
"Tidak, tidak apa-apa. Maaf jika aku tiba-tiba membuat mu bingung." ucap Ema.
Syukurlah....
"Selamat pagi Nyonya Ema." ucap Vallene dengan tersenyum lebar.
"Selamat pagi Vallene." kali ini Ema menjawab dengan nada yang halus.
"Apa yang ingin Vallene makan untuk sarapan pagi?" Ema melontarkan pertanyaan.
"Aku tidak begitu pemilih, aku menghargai semua apa yang telah Nyonya masakan untukku. Justru aku berterima kasih atas kerja keras Nyonya Ema." ucap Vallene.
"Mulut mu sangat manis." ucap Ema, dan Vallene hanya tersenyum mendengarkan ucapan Ema karena dia tidak mengerti.
"Karena ini masih sangat pagi, aku akan memetik beberapa buah beri hutan dan mencari beberapa sayur. Apakah Vallene ingin ikut?' ucap Ema.
__ADS_1
"Tentu saja! Menikmati pagi hari dan melihat matahari terbit adalah hal yang menyenangkan." seru Vallene.
Yang dikatakan Vallene membuat Ema tersenyum. Sepertinya suasana hati Ema menjadi baik.