
Dalam perjalanan pulang menuju tempat mereka berkumpul, yaitu di pinggir sungai dibawah pohon rindang. Vallene, Kenneth dan Vallice berjalan ingin kembali kesana, tetapi sepertinya Vallice tidak mau bergabung bersama Vallene dan Kenneth.
Vallice terus berada di depan Kenneth dan Vallene yang berjalan dibelakangnya. Kenneth menoleh ke Vallene dan memberikan beberapa gerakan wajah, mengisyaratkan bahwa apa yang sebenarnya terjadi kepada Vallice. Vallene hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena ia juga tidak tau.
...
Sudah cukup lama mereka bertiga saling diam, dan akhirnya Vallene membuka mulut dan mencoba berbicara kepada Vallice.
"Kenapa kamu berjalan lebih cepat? Kami tertinggal di belakang mu, tunggu dong!" teriak Vallene dari belakang.
Vallice yang sudah berada jauh di depan pun berhenti karena perintah dari Vallene, tetapi Vallice seperti terlihat panik dan gugup.
Apakah Kiel dan Derren memberitahu kakak...? Bagaimana ini....
Batin dan pikiran Vallice terus berdebat, ia menghawatirkan sesuatu.
"Kenapa Tuan takut jika anak perempuan itu mengetahui perbuatan Tuan? Dia hanya anak perempuan biasa..., sepertinya.... Tuan jelas-jelas lebih kuat, lengkaplah saja anak itu jika dia menjadi ancaman bagi Tuan."
"Blue Rose...! Apa yang kamu katakan! Dia adalah kakakku, seseorang yang penting bagiku. Mana mungkin! Jangan katakan hal yang aneh! Aku lebih menyayanginya dibandingkan diriku sendiri, aku harap kamu juga menghormati dia." gumam Vallice yang berdebat dengan Blue Rose.
...
Vallice bergumam? Dia berbicara sendiri?
"Kenapa Vallice jalan terlebih dahulu dan meninggalkan kita..., ah capeknya." ujar Vallene. Vallene menyentuh pundak Vallice dan ia sedikit kelelahan.
"Tidak bisa, aku hanya menghormati Tuan ku saja. Tuan, tolong menjauh dari anak ini, saya merasa tidak nyaman. Saya bisa mengeluarkan udara yang beracun juga anda dalam bahaya."
"Apa?!!" teriak Vallice secara tiba-tiba.
"Hah kenapa?" ujar Vallene yang kebingungan.
"Ehh..., tidak apa-apa. Kakak tidak mendengar suara lain...? Hehe...?" ucap Vallice yang agak sedikit aneh.
"Tidak toh, memangnya suara apa?" jawab Vallene.
Perasaannya saja? Tidak ada siapapun disini selain kita, Kenneth juga sedang membereskan buku-buku disana. Apa yang terjadi kepadamu Vallice...?
Wajah Vallene menjadi khawatir.
"Ah mungkin aku juga salah dengar deh." Vallice seperti mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Kenneth telah selesai beres-beres, Kenneth membawa semua buku di dalam tas dan membawakan keranjang yang berisikan barang apa saja yang mereka bawa dan pakai.
"Ayo kita pulang? Sudah sore." Kenneth mengajak mereka untuk pulang.
***
Malam hari telah tiba, kali ini Vallene sepertinya Vallene di campakkan oleh Vallice. Vallene telah menunggu cukup lama di depan kamar Vallice yang pintunya kasih terkunci.
Saat ia mulai bosan menunggu, akhirnya ada salah satu pelayan yang lewat. Vallene mencoba menanyakan kenapa kamar Vallice tertutup, padahal ia sudah memanggil Vallice tetapi Vallice tidak kunjung keluar.
"Bi, permisi..., apakah Vallice-" ucap Vallene yang belum selesai karena si pelayan memotongnya.
"Kamu jangan keterlaluan, mentang-mentang disayangi Nona! Setiap hari nempel Nona, biar apa? Biar lolos dari pekerjaan mu? Biar hidupmu enak karena semua pada takut sama kamu?" ujar pelayan itu dengan judes.
Vallene hanya bisa terdiam, ia menerima segala omongan tajam dari pelayan itu. Pelayan itu terus mengoceh tifak kelas, Vallene benar-benar tidak bisa mengatakan apapun.
Apakah kamu tau disaat kamu benar-benar tidak terbukti bersalah kepada siapapun tetapi kamu mendapatkan cacian dan omongan yang tidak enak dari orang lain secara tiba-tiba?
Rasanya seperti ingin mengatakan "Apa? Ada apa dengan ku? Aku salah apa?" tapi mulut benar-benar seperti membisu dan tertutup erat.
...
"Hei bocah budak, enak sekali ya...? Tidur di kamar Nona setiap hari, makan dimasakin, nempel terus sama Kenneth putra pak Zeint itu. Iya sih memang dia tuh ganteng jadi kamu gatel deh. Dasar! Cuih" ledek pelayan itu.
"Kok diam saja? Malu ya? Jangan merasa paling tersakiti deh, jijik tau lihat bentukan mahluk seperti kau yang hidup. Beban saja." ucap pelayan itu.
Dih, kenapa dia terus diam saja? Cih.
"Heh bajingan! Jawab, jangan terus menunduk seperti itu. Haha, menyedihkan." ucap pelayan itu, pelayan itu semakin kesal karena Vallene tidak bereaksi apapun. Vallene sama sekali tidak melawan.
Karena pelayan itu mengharapkan kemarahan Vallene dia pun menjadi geram karena Vallene tetap diam saja. Kemudian pelayan itu menjambak rambut Vallene, Vallene berteriak kesakitan.
"Lepaskan aku! Aku tidak melakukan kesalahan apapun terhadap mu, kenapa kamu menyakiti ku?" seru Vallene yang kesakitan.
"Jangan memberontak! Jangan berisik! Nona sudah tidur, sini ikut aku. Kau akan habis di tangan anak-anak (pelayan lain) lain haha!" ujar pembantu itu.
Pelayan itu menyeret Vallene dengan paksa, Vallene berharap Vallice mendengarkan pertengkarannya dengan pelayan ini, tetapi sampai Vallene di seret hingga di ujung lantai, pintu kamar Vallice tidak kunjung dibuka.
Vallene...?
...
__ADS_1
*Bruak!!!
Vallene di banting ke lantai hingga ia menabrak lemari, Vallene diseret dan dibawa di dapur kotor. Disana sudah ada pelayan tadi dan kedua pelayan lain yang sangat membencinya.
"Kalian mau apa...?" gumam Vallene.
"Hahaha, tubuh mu sudah mulus lagi ya? Lama tidak merasakan sentuhan panci panas yang menyentuh daging tangan mu?" ujar salah satu pelayan itu.
"Ja-jangan..., memangnya aku melakukan kesalahan apa? Aku tetap mengerjakan pekerjaan ku!" bantah Vallene.
"Iya sih, tapi kan kamu tidak mengerjakan pekerjaan kami. Pekerjaan kami jadi berat! Lihat! Kuku ku menjadi jelek karena selalu mencuci piring bekas mu makan!" teriak pelayan lain.
Apa...? Dulu aku terbiasa dengan penyiksaan ini..., aku kira memang seharusnya seseorang seperti aku mendapatkan kekerasan seperti ini. Apakah aku akan diam saja menerima pukulan dari mereka seperti dulu...? Aku hanya diam dan berteriak kesakitan karena perbuatan mereka.
Kuku jarinya, mencakar paha ku..., dia menahan ku dan menempelkan panci panas di telapak tangan ku. Dan dia terus menendangi tubuh ku, tetapi kenapa masih juga memukul wajah ku? Apakah mereka tidak tau kalau aku juga bisa merasa sakit....
Rasanya..., sakit sekali. Tubuhku rasanya sakit semua, aku bisa melihat darahku mengalir di lantai. Perih, sakit, panas, dingin.... Mataku tidak bisa terus terbuka....
***
Disini gelap, tetapi aku bisa mendengar mereka tertawa. Mereka yang membuat ku seperti ini... lagi.
Tetapi kenapa sekarang mereka berteriak? Kenapa? Disini benar-benar gelap! Eh? Suara mereka menghilang?
...
Aku akhirnya bisa membuka mataku, tetapi aku tidak tau dimana aku berada.
"Dimana ini...?" gumam ku yang masih belum membuka mataku seratus persen.
Aku menemukan diriku tersadar di sebuah tempat yang asing, benar-benar aku tidak mengenali tempat itu. Aku kebingungan dan menoleh kesana-kemari.
Aku tersadar di pinggir danau, disana aku bisa melihat pantulan wajah dan tubuhku. Aku wajah ku yang..., hancur?
Pertama aku membelai mata kanan ku yang lebam kebiru, aku sangat menyayangkan hal ini. Begitu juga dengan bibir ku yang terluka, pipiku yang merah-merah dan dahiku yang mengeluarkan darah, menetes sampai ke dagu ku.
Telapak tangan kiriku juga memerah, aku teringat kalau mereka juga mencakar ku. Aku segera melihat kedua pahaku dan benar saja, goresan akibat kuku.
Perut dan tubuhku juga ada beberapa lebam, tapi anehnya kenapa aku tidak merasakan sakit? Apakah karena tempat ini adalah surga?
Tanahnya berwarna biru, begitu juga langit dan air danaunya. Beberapa tumbuhan juga seperti terbuat dari kaca dan batu mulia.
__ADS_1
"Ini benar-benar surga? Secepat ini ya?" gumam ku yang sedikit merasa kecewa, sedikit...?