For a Freedom

For a Freedom
YINNE : FOR FREEDOM (37)


__ADS_3

"Aku kurang tau soal itu..., tapi aku memang tau mengenai berita ini. Eh hari sudah semakin siang! Aku akan mencari beberapa kayu bakar dulu ya." ujar Kiel yang tergesa-gesa.


"Tunggu..., ini masih siang dan sangat panas. Kamu tidak apa-apa?" ucap Vallene yang khawatir.


"Tidak apa-apa, ini sudah keseharian ku Vallene..., karena diluar sangat panas kamu disini saja bersama Derren, dibawah pohon akan terasa lebih sejuk. Baiklah sampai jumpa kalian." ujar Kiel.


Kiel pergi ke seberang sungai untuk pergi ke hutan mencari kayu bakar. Vallene merasa khawatir kepada Kiel sebenarnya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Vallene dengan seksama melihat Kiel yang berjalan kian menjauh, melewati sungai dan tanah yang kasar tanpa alas kaki.


Dia setiap hari melakukan hal itu? Wajahnya menunjukkan bahwa dia merasa kesulitan..., tetapi kenapa dia kenapa masih begitu berani, apa dia tidak takut melawan arus sungai dan sendirian di pinggir hutan yang gelap dan sunyi tanpa ditemani.


Melihat Vallene yang khawatir, Derren sadar dan mendekati Vallene. Kemudian Derren akhirnya berani mengatakan sesuatu.


"Jangan khawatir kak, kakak ku..., dia akan baik-baik saja. Dia memang agak keras kepala, aku juga tidak tau kenapa dia selalu melarang ku untuk membantunya." ujar Derren dengan malu-malu.


"Aku senang akhirnya kamu mau berbicara dengan ku, hmm begitu kah? Ngomong ngomong..., apakah Kiel pernah mengeluh walaupun hanya sekali." ujar Vallene.


"Itu..., aku tidak tau. Sepertinya tidak, dia adalah orang yang ceria, dia seperti selalu terlihat baik-baik saja." ucap Derren yang polos.


"Haha, begitu baiknya Kiel menyembunyikan keluh kesahnya. Kenapa kalian mencari kayu bakar disini? Disini kan daerah yang sepi..., apakah kalian tidak takut?" ujar Vallene.


"Tidak kak, justru disini sangat aman bagi kami. Disini sepi tidak ada siapapun, tidak ada yang menganggu kami." ujar Derren.


"Kalian tinggal dimana? Rumah kalian di dekat sini?" ujar Vallene.


Mendengar pertanyaan Vallene, membuat Derren terdiam sejenak. Membuat Vallene merasa bingung hingga akhirnya Derren mulai menangis.


"Ada apa? Kamu kenapa?" ucap Vallene yang khawatir.


"Aku tidak punya rumah...," ujar Derren dengan nada yang pilu.

__ADS_1


Kemudian Vallene mencoba mendekati Derren, Derren merasa waspada dan mundur selangkah. Vallene kemudian mencoba mengerti keadaannya.


"Atau mungkin kamu punya? Rumah itu tidak selalu tentang bangunan yang melindungi mu dari panas sinar matahari dan tetesan air hujan. Bisa juga rumah itu sendiri adalah seseorang atau tempat lain yang membuat kita merasa terlindungi dan bahagia.


Percuma jika kita memiliki bangunan yang megah jika kita tidak merasa bahagia dan aman, maka..., kau perlu rumah yang sesungguhnya disaat kamu memerlukan waktu pulang untuk beristirahat karena lelah atau waktu pulang membawa kabar bahagia." ucap Vallene.


Ucapan Vallene membuat Derren semakin banyak mengeluarkan air mata, Derren yang awalnya menjauhi Vallene akhirnya berjalan maju dan pelan-pelan mendekati Vallene.


"Bisakah aku memiliki rumah ku sendiri...? Pantaskah aku mendapatkan... itu...?" ucap Derren.


"Kenapa tidak? Kita semua memerlukan rumah, termasuk kamu..., tidak peduli siapapun dirimu. Kamu juga berhak bahagia selama kamu hidup." ujar Vallene.


Tangisan Derren semakin menjadi dan dia kemudian memeluk Vallene dengan erat. Menangis sekeras mungkin, melepaskan emosi yang ia tahan selama ini.


"Apa ini pertama kalinya kamu menangis...?" ujar Vallene.


"Iya..., aku..., s-selama ini semua orang bilang menangis hanya untuk orang yang bodoh dan cengeng. Tapi aku tidak bisa menahan tangisan ini untuk saat ini, maafkan aku...," ujar Derren.


"Tidak apa, itu wajar..., jika kita memiliki mata kenapa kita tidak boleh mengeluarkan airnya? Yang salah bukan saat kamu menangis, tapi yang salah adalah saat kamu tidak bisa menangis karena terlalu menahan diri." ujar Vallene.


"Baru kali ini aku merasa nyaman di dekat orang, kenapa kamu begitu baik?" ujar Derren dengan tangisan yang terisak-isak.


"Karena kamu membutuhkannya, aku tidak baik kok..., tidak ada seseorang yang baik, semua pasti juga melakukan kesalahan. Aku hanya..., bisa mengerti perasaan mu saja." ujar Vallene.


"Adik kecil..., masalah apa yang telah kamu lalui di waktu lalu...? Kenapa kamu sangat sedih seperti ini..., mata mu sampai sembab, suaramu menjadi serak dan wajah mu sangat merah..., hentikan sejenak tangisan ini oke?


Aku tau kamu sedang mengeluarkan emosi dan perasaan mu yang terpendam selama ini. Tapi ini semua tidak akan sembuh bila hanya begini saja, mari sembuh bersama-sama..., biarkan seseorang masuk ke dalam hati mu yang sedang merasa sakit itu. Biarkan seseorang mendengarkan suaranya, biarkan seseorang membelainya." ujar Vallene.


"Aku belum pernah sekalipun menceritakan hal yang menyedihkan yang terjadi di hidupku, apakah tidak apa-apa jika aku ceritakan..., apakah kamu nanti tidak akan seperti mereka kan?" ucap Derren.

__ADS_1


"Aku bersedia, akan ku ajarkan kau bagaimana rasa sembuh dari masalah yang terkunci." ucap Vallene.


Vallene tersenyum hangat kepada Derren, membuat Derren luluh dan terus menempel kepada Vallene, karena Vallene membuat Derren merasa aman dan nyaman.


***


Aku dan kakakku..., hidup di kota sebagai orang-orang miskin karena tidak harta dan makanan.


Orang tuaku hanya seorang buruh, ayah ku seorang pemabuk dan dia mempunyai banyak hutang. Ibuku hanya seorang perempuan yang menyedihkan yang setiap harinya hanya mengonsumsi obat-obatan terlarang dan mabuk.


Kita sekeluarga tidak memiliki rumah, tidak ada tempat untuk kita tidur dengan nyaman, tidak ada tempat untuk kita bermain dan berlindung dari cuaca. Setiap hari hanya mencari kardus bekas yang masih layak untuk kami pakai tidur sejenak.


Ayah dan ibu terus-terusan menyalahkan kita berdua, menyalahkan kita..., mengatakan bahwa kita hanya beban yang menyusahkan mereka.


Yang aku ingin sekali ungkapkan adalah..., kalian mengatakan aku dan kakakku hanyalah beban, tetapi pernahkah kalian memberikan kamu hidup yang layak? Makanan yang layak? Pakaian yang layak? Sekali saja..., kalian tidak pernah. Yang egois itu kalian, kenapa kita yang harus disalahkan?


Apakah mereka tidak melihat bagaimana dua orang anak, berumur 12 dan 8 tahun hidup sebatang kara..., melakukan hal apa saja untuk bertahan hidup, tanpa bimbingan kedua orang tua, dan rela untuk tidak memiliki kehidupan layaknya anak-anak lain.


Selain itu, tekanan dari masyarakat yang lebih 'punya' juga..., kenapa kalian para orang kaya, para orang-orang yang tidak perlu merasakan bagaimana kerasnya kehidupan..., kenapa kalian juga selalu merendahkan seseorang seperti aku dan kakakku..., apakah kalian tidak memiliki hati hingga begitu teganya mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakiti hati kami.


Sebab itu kami memilih meninggalkan kota, kakakku tidak mau aku menerima tekanan terlebih lagi. Disinilah aku hidup sekarang, terkadang hatiku rasanya sakit entah kenapa bila melihat ada orang yang kembali pulang kerumahnya, disambut oleh keluarganya.


Tetapi aku masih sangat bersyukur memiliki kakak seperti kakakku, dia begitu hebatnya bisa bertahan dengan semua ini. Aku sangat ingin menjadi seperti sosoknya yang selalu ceria dan tersenyum..., tapi aku tidak bisa.


Rumah..., kakakku adalah rumahku, saudara ku, teman ku. Segalanya..., tetapi yang bisa mengerti diriku sendiri adalah.


Aku.


***

__ADS_1


"Terkadang orang yang terlihat baik-baik saja adalah orang yang sangat pintar menyembunyikan masalahnya." ucap Vallene.


__ADS_2