For a Freedom

For a Freedom
YINNE : FOR FREEDOM (25)


__ADS_3

Sudah dua Minggu kakak tidak kembali, aku terus disini menunggu mu... dari hari ke hari, waktu ke waktu, setiap hari aku selalu menunggu mu untuk menyambut mu dan memeluk mu kembali.


Rasanya sangat sepi dan sunyi, tanpa kehadiran mu. Aku tidak memiliki siapa pun untuk aku berbagi senang dan sedih ku, tidak ada yang bisa mengerti diriku lebih baik selain mu kak.


Mataku rasanya sangat pedih, seperti ingin mengeluarkan air mata yang sangat banyak sampai bisa menenggelamkan diriku sendiri. Lebih baik pergi dengan tenang daripada hidup dengan kesepian, dan tidak ada seorang yang bisa mengerti ku sehingga aku harus menahan semua tekanan ku.


Saat ini, dipikiran ku sendiri... aku melihat mu dari jauh dan aku segera berlari ke arah mu, ingin rasanya aku memeluk mu saat ini juga dan mengatakan apakah semua baik baik saja, tapi... kamu sepertinya berada di tempat yang sangat jauh, rasanya aku harus berlari selamanya agar bisa menyentuh mu.


Aku hanya ingin dimengerti, aku hanya ingin diberikan perhatian... dan kau adalah satu satunya orang yang mengerti ku dan memberikan cinta dan kasih yang aku butuhkan. Sekarang... kau menghilang dihadapan ku seketika, membuat ku panik dan bersedih.


Disaat aku meringkuk, menangis dan putus asa, tiba tiba dari belakang ada seseorang yang memeluk ku. Memeluk ku dengan lembut sama seperti cara dirimu memeluk ku, dan seseorang itu berkata "Jangan khawatir, aku disini." dengan nada suara yang lembut dan hangat, seperti suaramu.


Aku merasa tenang, disitulah aku merasa... damai....


...


"Ah? Sudah pagi?" Vallice terbangun, bangun dari tempat tidur Vallene.


Berapa kali aku melihat matahari terbit, mungkin sekitar 14 hari.


"Kenapa aku merasa yakin, kakak akan kembali hari ini?" Vallice melamun.


"Jika benar, aku akan memeluk mu dan tidak akan membicarakan mu pergi lagi, kak...." ucapnya dengan serak, Vallice meneteskan air mata.


"Ehh?" Vallice mengelap air matanya, ia kemudian turun dan melakukan aktifitas biasa.


...


"Nona, sarapan anda sudah siap." ujar pelayan kepada Vallice yang baru saja turun dari tangga, Vallice tidak menjawab sambutan pelayan seperti biasa. Dia menjadi muram dan wajahnya sangat suram.


Vallice duduk dan kemudian makan, makan dengan tenang dan tanpa berbicara. Setiap hari dia selalu meminta untuk di siapkan dua porsi makanan untuk sarapan dan lain lain.

__ADS_1


Padahal makanan itu tidak dimakan olehnya, hanya diletakkan di kursi kosong yang berhadapan dengan kursinya. Karena, dia selalu melakukan hal itu setiap hari saat Vallene masih bersamanya. Bisa dikatakan, Vallice menyiapkan satu porsi makanan itu untuk Vallene, bahkan saat Vallice tau jika Vallene tidak berada disana.


"Nona, anda telah absen dari sekolah selama dua Minggu... apakah Nona sekarang merasa keadaan anda sudah membaik?" ujar pelayan Nae dengan penuh kekhawatiran.


"Iya, aku masih tidak enak badan. Tolong kirim surat untuk sekolah." jawab Vallice.


"Jika begitu... baiklah Nona, apakah anda perlu periksa ke dokter?" pelayan Nae.


"Tidak perlu bibi, aku hanya butuh istirahat saja." jawab Vallice dengan suara lemas.


Aku tidak mengerti apa yang saat ini Nona alami, dan apa yang membuatnya seperti ini. Tidak ada yang bisa dekat dengan Nona selain Vallene dan Miranda.


"Baik Nona, saya permisi." jawab pelayan Nae.


***


Kenapa... aku harus hidup seperti ini? Rasanya aku dipaksa untuk berlari dan berlari, karena masalah dan trauma yang terus mengejar ku seperti anjing gila.


Hal yang sangat mengerikan itu terus menerus terjadi, sehingga aku takut untuk melangkah. Aku takut jika... aku menghancurkan semuanya... dan aku tidak bisa mundur karena hal itu juga akan menghancurkan ku.


Aku berada di tengah tengah, dimana aku tidak bisa maju dan mundur, aku tidak bisa memilih... aku tidak bisa maju karena itu pasti akan menyeret orang lain dalam masalah ku, dan... aku juga tidak bisa mundur karena diriku sendiri juga akan tenggelam lebih dalam.


Aku akhirnya memutuskan untuk diam, tidak memilih maju ataupun mundur... karena aku tidak diberi kesempatan untuk memilih. Jujur saja, aku sangat menyesali hidup ku ini. Tak ada yang menarik dan spesial disini, aku tidak bisa melakukan hal yang aku suka dan aku tidak bisa menyayangi seseorang.


Tidak semua orang mau menerimaku, dan jika ada... maka seseorang itu akan direbut dariku. Vallice..., Cicaline..., Pak Zient..., aku sangat bersyukur bisa mengenal kalian, maaf apabila Vallene telah..., menyeret kalian dan memaksa kalian menghadapi hal-hal yang menyiksa ini.


Aku..., aku lelah... aku sangat lelah. Mungkin benar yang mereka semua katakan, bahwa semua yang ku lakukan itu sia sia..., aku gagal....


Apakah aku harus menyerah saja...? Aku lelah, aku ingin mengakhiri saja semua ini! Kenapa...? Kenapa aku harus menghadapi ini semua? Kenapa hanya aku yang hidup seperti ini?


Aku iri dengan kehidupan normal mereka, kehidupan seorang anak yang hidupnya menyenangkan dan berwarna. Aku seharusnya juga mendapatkan hal itu kan? Apa aku salah jika aku ingi bahagia? Kenapa hanya hidup ku saja yang seperti ini?

__ADS_1


Kenapa aku di tuntut untuk melakukan hal yang tidak aku suka? Kenapa aku harus di pukul dan di adili untuk hal yang tidak aku lakukan? Kenapa aku tidak bisa mendapatkan kasih sayang seperti mereka? Kenapa aku tidak diberi kesempatan untuk tersenyum bahagia? Kenapa aku tidak mendapatkan semua itu?


Kenapa? Kenapa...? .... Aku..., menyerah.... Selamat tinggal kehidupan ku yang menyedihkan.


Saat aku ingin menutup mata dan tenggelam dalam kabut hitam, ada seseorang yang menahan ku dari belakang. Aku menoleh karena ingin melihat siapa yang masih ingin aku ada dan kembali.


Seseorang itu adalah pria dewasa yang tidak aku kenali, dia adalah pria yang tinggi dan gagah. Sepertinya dia berusia 38-40 tahun dengan pakaian yang rapi dan rambut hitam yang tertata rapi.


Aku terdiam menatap orang itu, aku menyadari pria itu juga memiliki mata merah Ruby yang sama seperti milik ku.


Dan aku bertanya "Siapa...?", tetapi dia tidak menjawab dan hanya diam. Dia menangis dan sepertinya dia sangat menyesal, aku tidak mengerti.


Dia terlihat merasa bersalah dan menangis melihat ku, aku hanya diam melihat hal itu. Aku merasakan hatiku menjadi sakit, tapi kenapa? Aku tiba tiba menjadi sedih dan tidak bisa menahan air mataku yang terus mengalir saat dia mulai memeluk ku.


Dia berkata "Kamu sudah sebesar ini, kamu telah menjadi gadis yang tumbuh dewasa... maaf, aku tidak bisa mendampingi mu di saat kamu membutuhkan ku... disaat kamu butuh pengertian dan kasih sayang.


Maaf...," ucapnya dengan nada yang sangat menyedihkan, aku hanya terdiam dan menangis. Dia kemudian menghapus air mataku dan tersenyum kepada ku. Entah kenapa, aku merasa... nyaman dan damai... bahagia dan hangat, aku bisa merasakan hal hal yang membahagiakan yang tak pernah kurasakan sebelumnya.


Dia menunjuk ke belakang dan aku menoleh kebelakang, disana aku bisa melihat Vallice, Cicaline, dan Pak Zient. Disana aku menatap mereka, aku menjadi teringat dengan janjiku kepada mereka.


Akhirnya aku memutuskan untuk bertahan, menolak energi dari kabut hitam yang terus membisikkan untuk aku masuk ke dalamnya. Aku sepertinya ini berkat pria itu, saat aku menoleh ke arahnya kembali, dia menghilang.


Menghilang begitu saja.


Aku sendirian lagi sekarang, tetapi... siapa sebenarnya orang itu?


"Siapapun dan dimana pun anda, saya sangat berterimakasih."


...


Membuka matanya, dengan berkedip kedip secara pelan. Dia akhirnya tersadar.

__ADS_1


"D-di-dimana ini...?" lirihnya, dengan suara serak dan lemas.


__ADS_2