
Dimana...? Aku saat ini berada di tempat apa?
Melihat sekitar, tempat itu sepertinya sangat asing baginya. Karena dia masih lemah dan belum sadar sepenuhnya, dia hanya bisa membuka matanya saja.
Kemudian, terlihat sosok seorang anak laki laki yang berdiri disampingnya. Anak itu tampak mengucapkan sesuatu tetapi dia tidak bisa mendengarnya, ia kemudian merasa cemas karena pandangannya kabur. Tidak bisa melihat sosok anak laki laki dengan jelas.
Siapa...? Apakah ini di surga? .... Sinar matahari pagi langsung menyinarinya ku, aku juga ditidurkan di kasur yang empuk dan halus.... Apakah aku akhirnya benar-benar, .... Mati?
"Vallene? Apakah kamu merasakan sakit atau pusing...? Aku senang dan bersyukur akhirnya kamu sadar." Vallene mendengar kata-kata itu dari anak laki-laki yang berada di sampingnya.
Dengan suara yang halus dan lembut, Vallene menoleh ke arahnya. Berusaha membuka matanya, agar penglihatannya jelas.
Dia akhirnya bisa melihat dengan jelas, anak laki-laki yang sedang tersenyum dan menantinya. Anak laki-laki yang wajahnya memancarkan kehangatan, dengan mata sayu dan senyum manis.
Menyambut Vallene dari ketidak sadarkan nya. Vallene merasa asing dengan anak itu, ia kemudian cemas dan merasa takut.
"Siapa kamu? Apakah aku masih hidup?" ucapnya dengan suara yang gemetaran, anak laki-laki itu kemudian tersenyum lagi dan membelai kepala Vallene dengan lembut.
"Aku adalah, Kenneth Zient. Ya, kamu masih hidup! Karena hidup mu masih panjang." ujar Kenneth menenangkan Vallene.
Begitu tulus sehingga Vallene menjadi tenang dan percaya kepadanya.
Zient?
"Zient? A-aku tidak asing dengan nama itu sepertinya, apakah kamu...?" Vallene.
"Oh maaf, izinkan aku memperkenalkan diri Nona Vallene... namaku adalah Kenneth Zient, putra tadi Pak Zient. Ya, kamu mungkin kenal dengan ayah ku."
Ucapan Kenneth membuat Vallene terharu dan akhirnya Vallene meneteskan air mata. Kenneth kemudian terkejut dan khawatir.
"Eh...? Maaf jika aku menyakiti perasaanmu sebenarnya, a-ada apa? Kenapa kamu menangis?" ujarnya dengan suara yang bercampur khawatir.
Kemudian Kenneth memegang tangan Vallene, dan dia mengatakan...
"Mungkin kamu asing dengan ku, memang ayahku menyembunyikan tentang dia mempunyai anak. Tetapi aku tau tentang kamu, dan Vallice.
Dan..., maaf jika kamu harus terbangun dengan rasa sakit. Aku sangat berusaha untuk merawat dan menjaga mu Nona, tetapi semua butuh waktu untuk sembuh." ucap Kenneth dengan penuh penyesalan.
Vallene kemudian bergerak dan ingin duduk, tetapi dia belum bisa melakukannya sendiri. Kenneth membantunya untuk duduk.
Vallene akhirnya melihat seluruh tubuhnya, kedua kakinya yang di perban dengan tebal, tangan kirinya juga di perban. Vallene merasa sedih, tiba tiba dia merasakan rasa sakit di perutnya. Dan dia tau, jika seluruh tubuhnya telah di jahit.
Vallene termenung dan melamun, membuat Kenneth sangat khawatir.
"Nona..., maaf... aku, aku belum bisa-" Kenneth.
__ADS_1
"Terimakasih, *menoleh dan tersenyum. Terimakasih." Vallene.
Melihat Vallene dalam keadaan seperti ini, Kenneth tidak kuasa membendung air matanya. Ia menangis.
"Kamu jangan bersedih ya, karena melihat mu seperti ini sangat menyakiti hatiku." ujar Kenneth terisak-isak.
"Bagaimana aku bisa sedih disaat ternyata ada seseorang yang menyelamatkan ku, aku menangis karena menyayangkan hal seperti ini.
Kenapa kamu menyelamatkan kan ku? Apa alasanmu dan Pak Zient? Padahal, hidup kalian akan jauh lebih aman jika aku pergi." Vallene.
Karena, kami berhutang budi kepada mu Nona. Apapun masalahnya, kami akan melindungi mu. Kau tidak punya siapa pun untuk bersandar.
"Karena itu adalah tugas ku, jangan merasa begitu dong...." Kenneth tersenyum.
Vallene juga tersenyum lebar, kemudian terdengar telepon yang berbunyi.
"Ah, sebentar ya! Aku akan menjawab telepon." Kenneth kemudian keluar dari kamar, dan menutup pintu kamar. Menyisakan Vallene disana.
"Jadi, aku sedang berada di rumah Pak Zient? Kenapa Pak Zient tidak pernah menceritakan kehidupannya? Bahkan Pak Zient sudah mempunyai anak laki-laki.
Dan dia sangat baik, terlihat dari wajahnya yang tulus, hangat dan penuh kasih. Saat dia tersenyum, aku bisa merasakan kehangatan. Sangat damai saat melihatnya tersenyum dengan mata sayu nya itu.
...
Vallene memandang keluar jendela dengan tenang, diluar sana dia menyaksikan matahari pagi yang menyinari tumbuhan dan rumput.
Dimana ini? Sepertinya lokasi rumah ini di pinggiran kota.
Tidak lama kemudian Kenneth membuka pintu dengan pelan dan berjalan masuk, membuat Vallene sedikit terkejut karena kehadirannya yang tidak Vallene tau.
"Eh?" Vallene.
"Kamu terlalu fokus, ingin pergi ke luar sana?" ucap Kenneth yang tau bahwa Vallene mengagumi pemandangan diluar.
"Bolehkah....?" Vallene.
Kenneth tersenyum dengan hangat kepada Vallene.
"Tentu saja...." ucap Kenneth menenangkan.
...
Sampailah mereka di halaman samping rumah, tempat dimana yang membuat Vallene terpaku kagum. Kenneth membantu Vallene keluar dengan menaikkan Vallene di kursi roda, mendorong kursi rodanya untuk membawa Vallene ke tempat yang ia suka.
"Kamu suka?" lirih Kenneth.
__ADS_1
"Iya, disini sejuk dan menenangkan. Apakah ini di pinggir kota?" Vallene bertanya.
"Iya benar. Memang suasana disini lebih menenangkan, tidak ada keramaian dan keributan. Lingkungan masih tetap terjaga sehingga terasa masih asri." jawab Kenneth.
Vallene terlihat damai, ia menutup mata dan menghirup udara sejuk dengan bahagia. Kenneth ikut senang karena melihat Vallene tersenyum.
"Emm, ada sesuatu yang aku ingin bilang kepada mu Nona...." Kenneth.
"Bicaralah, tapi jangan memanggil ku Nona ya. Itu membuat ku tidak nyaman, kita adalah teman sekarang! Panggil aku Vallene, Vallene saja." ucap Vallene.
Kenneth awalnya terlihat ragu, tapi saat ia melihat wajah Vallene yang memohon seperti itu ia menghela nafas dan mengatakan.
"Baik...." dengan hangat.
Saat melihat Kenneth tersenyum, Vallene menjadi fokus kepada Kenneth. Vallene merasa, tidak pernah melihat senyuman sehangat dan setulus ini.
Itu sangat menenangkan, rasanya aku ingin melihat senyuman seperti itu disaat aku merasa sedih dan putus asa.
...
"Sebenarnya, Minggu depan aku akan ke kediaman Fred dan menjadi pelayan disana." ucap Kenneth.
Vallene terkejut mendengar itu, ia menjadi cemas dan gemetaran.
"Kamu yakin? Kamu tau siapa dia?" ucap Vallene dengan penuh kecemasan.
"Iya, aku tau siapa dia dan aku tau betapa mengerikannya rumah itu. Tetapi aku harus, tenang saja Vallene aku bisa melindungi diriku sendiri." Kenneth meyakinkan Vallene.
"Eggh, kenapa? Apa alasanmu?" sekali lagi Vallene merasa gelisah.
"Untuk menggantikan ayah ku, ayah ku akan pindah di kerajaan. Aku menggantikan sebagai pelayan di keluarga Fred, dan untuk menjaga mu.
Alasan lain, karena aku bosan sendirian disini. Awalnya aku merawat ibuku yang sakit, hingga akhirnya tahun lalu... beliau meninggal." ujar Kenneth dengan senyum pahit.
"Aku tau bahwa aku akan kembali ke tempat itu, tetapi... kau tidak perlu! Disini saja ya? Disini lebih aman...." Vallene dengan kecemasan yang berlebihan.
"Jika kamu bisa beradaptasi dengan keadaan yang seperti itu sehingga membuat mu tabah dan kuat maka aku iri kepadamu, selama ada Vallene... aku juga merasa aman." ujar Kenneth.
Vallene terdiam mendengarnya, Vallene dengan terpaksa membiarkan Kenneth untuk pergi kesana. Disaat Kenneth tersenyum, disitulah hati Vallene luluh dan berusaha percaya jika semua akan baik baik saja.
"Baiklah... berjanjilah kau tidak akan melakukan hal yang berbahaya." ujar Vallene dengan pasrah.
Kenneth melihat Vallene, terlihat Vallene sepertinya tidak rela mengatakan hal itu.
"Iya, berjanjilah kau terus disisi ku. Agar aku selalu baik-baik saja." gumam Kenneth.
__ADS_1