
"Wah! Lihat Nyonya! Disini banyak sekali tanaman berry dan beberapa buah lain!" Vallene bersemangat.
"Hati-hati, ambil saja sebanyak yang akan Vallene makan. Panggil saja aku Ema, aku ingin kita lebih dekat." ucap Ema.
Vallene menatap Ema karena masih ragu, setelah itu Ema berpikir Vallene tidak suka. Ema menjadi cemberut.
"Baiklah, Ema." ucap Vallene sambil tersenyum.
Ema tertegun, Ema kemudian mencondongkan kepalanya dan tersenyum.
.
..
...
Mereka sudah mengumpulkan buah yang akan mereka ambil, Vallene duduk di pecahan batu besar menunggu Ema menyiapkan keranjang buah untuk buah bisa mereka bawa.
"Apakah Ema hidup sendirian di dalam hutan ini? Berapa lama?" ujar Vallene.
"Iya, sudah cukup lama sampai aku tidak mengingatnya." jawab Ema dengan sambil menaruh buah ke dalam keranjang buah.
"Apakah menyenangkan? Aku tau terkadang akan terasa menenangkan dan sejuk, tetapi terkadang juga merasakan kesepian." ucap Vallene.
"Hmm, iya..., benar." jawab Ema.
...
"Ema, kenapa kamu lebih memilih hidup di dalam hutan sendirian? Igine sudah diterima oleh banyak orang, kamu bisa pindah ke kota." tanya Vallene.
"Itu berbeda, sebelum menjadi taman dari pohon besar seperti saat ini..., percayalah bahwa kita sekarang sedang tinggal di kota yang paling maju dan makmur." jawab Ema yang membuat Vallene bingung.
"Apakah itu alasan kenapa disini banyak reruntuhan bangunan? Ah, seperti yang sedang aku duduki ini. Batu ini sepertinya adalah tembok atau bagian dari sebuah bangunan." ujar Vallene.
"Iya, disinilah rumah ku. Aku tidak akan pindah kemana pun. Lagipula..., Igine diluar sana berbeda seperti kami." ucap Ema.
"Berbeda...?" Vallene yang kebingungannya.
"Kamu terkejut saat melihat ku pertama kali, itu menandakan bahwa wujud seperti ku masih baru kau kenal." ucap Ema.
"Sebenarnya..., aku belum pernah bertemu dengan Igine sebelum kamu. Kamu adalah Igine tercantik." ucap Vallene dengan senyuman tipis.
"Terimakasih..., kami adalah Igine yang sebenarnya, dan yang di luar adalah Igine campuran. Igine tidak pernah meninggalkan hutan ini." ucap Ema.
"Jadi..., disini tidak hanya ada kamu seorang?" tanya Vallene.
"Ya, itulah kenapa hutan ini dilarang dimasuki." ucap Ema.
...
"Tunggu..., apa nama hutan ini...?" tanya Vallene.
"Rosina, kita berada di Rosina." jawab Ema.
Vallene tertegun, entah kenapa dia nampak terkejut.
__ADS_1
***
"Apakah kakak benar-benar di tempat yang aman?" gelisah nya.
"Iya Vallice, sekarang Vallene berada di rumah pengasuh yang sangat ku percaya. Tenang ya, ini juga demi kebaikan dia." Kenneth menenangkan.
Vallene menghela nafas.
"Apa sebenarnya yang diinginkan mama...." gumam Vallice dengan nada putus asa.
Kenneth hanya terdiam dan memberikan Vallice sandaran, wajah Kenneth menjadi serius.
"Kita akan segera tiba, usap air matamu. Nyonya Fred akan murka jika melihat kamu bersedih" ucap Kenneth sambil mengelap air mata Vallice.
Singkat cerita, mereka telah sampai ke Kediaman Fred.
Begitu mereka keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah, disana telah ada Franschine terduduk tegap dan berwajah datar.
"Selamat datang mama." sambut Vallice, tetapi dengan nada yang dingin dan ekspresi tidak peduli. Kenneth yang ada di belakang Vallice menjadi merasa aneh.
Kenapa sikap Vallice seperti itu...?
"Selamat datang putri tercintaku, duduk lah di samping ku agar aku bisa melepas rinduku." ucap Franschine dengan wajah datar dan suara datar, Franschine juga tertuju kepada koran yang ia baca.
Vallice berjalan mendekat dan duduk di samping Franschine, mereka benar-benar berdekatan tetapi tidak ada komunikasi lagi. Franschine fokus dengan korannya dan Vallice nampak malas dan tidak peduli.
Keadaan macam apa ini...?
Kenneth sungguh dibuat bingung dengan hubungan ibu dan anak itu. Saat Kenneth mencoba berfikir keras, Franschine meletakkan korannya dan menatap Kenneth.
"Benar Nyonya...." jawab Kenneth dengan profesional dan sopan.
Franschine tersenyum karena sepertinya tertarik dengan Kenneth. Kenneth menyadarinya, tetapi ia tidak tau apa maksudnya.
"Pak Zeint benar-benar memiliki putra yang manis dan tampan. Jika aku tidak membiarkan mereka bersama, tidak akan tercipta dirimu. Maka..., menurut." ucap Franschine.
Apa-apaan?
"Tentu Nyonya, saya akan selalu menuruti Tuan ku dan melayani dengan baik." jawab Kenneth dengan elegan.
Wajah Franschine melihat respon Kenneth membuatnya tiba-tiba membuat wajahnya kembali datar dengan singkat.
"Sial, aura mu tidak bisa di tebak ya. Aku benci orang yang tidak menuruti, bersyukurlah kamu adalah putra dari Zeint." ucap Franschine dengan sedikit kesal.
Tidak banyak respon yang dikeluarkan Kenneth dan itu membuat Franschine kesal dan pergi dari tempat itu.
...
Huh...,
"Vallice..., aku akan kembali pulang ke ruangan ku, kamu juga beristirahat ya." ujar Kenneth.
Vallice tersenyum dan mengangguk.
***
__ADS_1
"Akhirnya aku menyelesaikan semua tugas ku," ucapan lega Kenneth, Kenneth merasa puas karena akhirnya dia bisa kembali ke rumahnya.
Ia berjalan menuruni tangga depan pintu dan berjalan keluar selangkah demi selangkah dengan keadaan hati yang lega.
...
"Kak Kenneth! Tunggu!"
Ia dihentikan oleh panggilan dari seseorang, itu adalah Vallice dengan pakaian tidurnya dan penampilannya yang berantakan.
"Eh Vallice? Ada apa?" jawab Kenneth.
Nafas Vallice terengah-engah, dia belum bisa mengatakan sesuatu.
Kenneth mendekatinya dan menanyakan hal yang sama sekali lagi.
"Ada apa?" ucap Kenneth yang lembut.
...
"Emm..., itu..." Vallice agak canggung.
"Hmm? Ada apa?" lirih Kenneth.
"Apakah Vallice khawatir dengan keadaan Vallene?"
Kenneth menebak-nebak isi hati Vallice, dan kemudian ia menghela nafas.
"Tenang saja, kondisi Vall-"
...
"SEPERTINYA AKU MENYUKAI KAKAK!" teriak Vallice dengan wajah berharap.
"Vallice..., itu...." Kenneth menjadi salah tingkah dan canggung, nampaknya badannya menjadi sedikit gemetar.
"Bagaimana kamu bisa..., eh...." Kenneth yang tidak tau harus mengatakan apa.
"Karena..., saat pertama kali bertemu dengan kakak.... Itu membuat ku bahagia, dan saat aku berada di dekat kakak..., aku merasa senang...? Bukankah itu perasaan cinta?" ucap Vallice.
Setidaknya buku yang aku baca mengatakan hal seperti itu...
...
Siapa yang mengajari ini? Vallene?
"Tunggu, bukankah jika Vallene berada di samping mu kamu juga akan merasakan hal yang sama? Berarti kamu mencintai ku sama seperti kamu mencintai Vallene." ujar Kenneth sambil menepuk pelan kepala Vallice.
"Tapi kan..., ini berbeda...! Aku mencintai kakak tetapi, tetapi..., itu berbeda...." ucap Vallice dengan suara menciut.
"Hmm? Vallice, aku mencintai mu tetapi kita masih terlalu muda untuk memikirkan cinta. Mari kita bicarakan ini kita dewasa." ucap Kenneth dengan suara yang lembut dan wajah yang menenangkan.
Apakah kak Kenneth mengerti...? Bagaimana cinta aku yang maksudkan?
"Baik, akan Vallice tunggu hari itu tiba. Aku akan selalu menunggu jawabannya." ucap Vallice dengan senyuman lembut, menatap Kenneth dengan tulus seperti rasa bahagianya muncul.
__ADS_1