
"Ah hari sudah semakin siang, bagaimana ya keadaan Derren dan Vallene..., apakah Derren akan baik-baik saja aku tinggal sendirian dengan orang asing...?" gumam Kiel.
Kiel yang merasa lelah memutuskan untuk beristirahat sejenak, terlihat keringatnya bercucuran dan nafasnya yang terengah-engah.
"Kenapa dia tiba-tiba langsung membicarakan tentang kasus itu...? Membuat ku reflek menjauh dan..., apakah aku harus membicarakan ini kepada Nona Vallice, aku harus menemui kembali Nona Vallice...?" gumam Kiel.
Kiel menjadi bingung dan di lema. Kemudian ia memutuskan untuk duduk terdiam di samping kayu bakar yang telah ia kumpulkan.
***
"Apakah kamu merasa lebih baik?" ucapnya dengan sangat pelan dan lembut.
"Iya..., kok bisa ya? Sekarang rasanya jadi lebih ringan..., ya seperti begitulah." gumam Derren.
Vallene tertawa kecil, mengelus kepala Derren yang bersandar nyaman tergeletak di pahanya.
Memang sangat menyenangkan bila ada seseorang yang dapat mengerti masalah dan isi hatimu yang kacau. Bagaimana rasanya dimengerti...? Bisakah aku juga dapat dimengerti?
Vallene melamun sesat, Derren menoleh ke atas dan menyadari Vallene hanya diam saja. Kemudian Derren mengatakan sesuatu.
"Kak Vallene, sebenarnya aku tau apa dan bagaimana kejadian pembunuhan anak kepala desa...." ujar Derren.
Membuat Vallene mengerutkan keningnya dan wajahnya menjadi serius.
"Bagaimana? Siapa?" ucap Vallene yang panik.
"Seperti ini...." gumam Derren, kemudian Derren bangun dari tidurnya dan duduk bersila di depan Vallene.
...
Suatu hari kepala desa melakukan kunjungan ke desa ini, karena pak kepala desa sangat sibuk jadi dia meninggalkan putranya sendirian. Kebetulan sekali disaat kereta kuda kepala desa lewat di jalan dekat kebun, beliau melihat aku dan kakak sedang bermain lempar bola.
__ADS_1
Kereta kuda menepi dan berhenti di dekat kita, keluarlah bapak paruh baya yang itu adalah sang bapak kepala desa dan seseorang anak laki-laki seumuran kakakku.
Bapak kepala desa berbicara kepada kita, ia meminta putranya untuk bergabung bermain bersama kami. Karena kami tidak enak, kakak akhirnya setuju. Kereta kuda kembali berjalan dengan supir kereta kuda dan bapak kepala desa di dalamnya.
Kakakku berusaha untuk berbicara kepadanya, tetapi respon dari anak itu sangat tidak enak. Tatapannya terlihat merendahkan kami dan ucapannya sangat arogan.
Kami hanya diam saja dan menerima omongan yang kurang enak keluar dari mulutnya.
Selanjutnya kami melanjutkan bermain lempar tangkap bola, beberapa lama kemudian sepertinya dia merasa bosan. Meskipun ia terlihat kesal tetapi permainan tetap dilanjutkan.
Aku tidak sengaja terpeleset dan membuat permainan berakhir, ia terlihat sangat kesal. Dia kemudian dengan emosi berjalan ke arah ku dan mendorong ku hingga jatuh ke tanah, aku disana cuma bisa menangis dan kakakku mencoba membantu ku.
Karena aku, kakakku dan dia berdebat. Aku hanya bisa menangis disana, kemudian datanglah seorang anak perempuan dari arah belakang, dia terlihat sangat cantik dan bersih.
Kakakku dan aku kemudian terdiam melihat kedatangan anak perempuan itu, kami kira mereka adalah teman. Yang tidak disangka-sangka ternyata anak perempuan itu membela kita, padahal dia terlihat dari keluarga kaya tetapi kenapa dia membela orang seperti kami?
Anak perempuan itu mencoba melindungi kami, tetapi anak kepala desa tetap saja kasar dan arogan.
Tidak tau kenapa..., darah yang banyak menyembur keluar dari telapak tangannya dan mengenai sebagaian tubuh anak kepala desa.
Yang aneh adalah..., wajah..., dada dan tubuh bagian atasnya tiba-tiba..., meleleh! Dagingnya meleleh!
Teriak dan jeritannya sangat nyaring, aku dan kakakku sangat ketakutan tetapi anak perempuan itu menyuruh kita untuk diam saja dan tetap berada dibelakangnya.
Kami menyaksikan bagaimana kulit dan daging anak kelapa desa meleleh bagaikan mencair, hingga tulangnya terlihat dan daging terdalamnya terlihat juga....
Kejadian mengerikan itu terjadi selama kira-kira sepuluh menit saja, kemudian anak kepala desa berhenti bergerak..., sepertinya dia mati.
Saat itu, anak perempuan itu menoleh kearah kita berdua dan mengatakan semuanya baik-baik saja..., asalkan kita semua....
Diam.
__ADS_1
Aku sudah sangat waspada kepada anak perempuan itu sejak saat itu, tapi saat anak perempuan itu mengajak kami untuk bermain bersamanya kakakku menyetujuinya begitu saja. Apakah dia tidak merasa aneh dan takut...?
Aku hanya mengikuti mereka, dengan tetap aku menjaga jarak dengan anak perempuan itu. Diajaknya kita di pinggir sungai yang sebenarnya tidak jauh dari sini.
Entah kenapa dilihat-lihat kakakku tidak merasa aneh dan akrab begitu saja dengan anak perempuan itu, kakakku dan dia bermain air di sungai tetapi aku lebih memilih diam menunggu mereka di bawah pohon rindang, sambil mengawasinya..., aku takut kakakku kenapa-kenapa.
Hari telah semakin sore, aku menggunakan bahasa isyarat kepad kakakku untuk kita langsung pulang saja, karena aku sangat tidak nyaman.
Tetapi anak perempuan itu memaksa kita untuk pergi kerumahnya sebentar, karena dia sangat memelas... kakakku menerima permintaannya. Kakakku orangnya tidak enakan.
Dan sudahlah, aku mengikuti mereka saja. Aku tidak mengeluarkan kata-kata karena aku tidak suka dengan anak perempuan itu. Dia terlihat cantik dan elegan tetapi..., kenapa dia aneh. Itulah yang membuat ku bertanya-tanya, aku takut jika dia adalah penyihir yang menyamar. Tidak sedikit kasus seperti ini yang menelan banyak korban, korbannya adalah anak-anak.
Kami mengikutinya dan ternyata dia tinggal di rumah yang besar, megah dan mewah. Rumahnya jika dari sini memang tidak jauh tetapi juga tidak dekat, rumahnya memiliki taman pribadi dan patung besar layaknya rumah orang yang sangat berkuasa.
Kamu pun masuk, disambut banyak sekali pelayan. Pelayan memanggil dia dengan sebutan Nona muda. Kami diundang masuk di rumahnya, tentu saja kami mendapat tatapan sinis dan bisikan mengejek dari semua pelayan disana.
Saat kami masuk ke dalam rumah, rumahnya sangat-sangat besar. Dia bilang dia hanya tinggal dengan ibunya tetapi rumahnya saja sebesar itu. Kami di suruh duduk sebentar dan dia pergi ke dalam.
Kakakku sangat terpesona, begitu juga aku sebenarnya. Tetapi aku tetap waspada. Saat aku dan kakakku membicarakan tentang dia dan kejadian yang aneh tadi..., tiba-tiba datanglah dia entah dari mana dan tanpa suara sudah berada di sebelah kami begitu saja.
Kami disuguhkan dengan makanan manis, singkat cerita hari sudah petang dan akhirnya kita pamit untuk pulang. Kita diantarkan sampai di depan dan sudah ada mobil yang siap mengantarkan kami pulang. Kami juga dibawakan tas kertas yang isinya baju-baju yang sangat bagus seperti baju anak orang kaya.
Karena aku sangat tidak betah berada di sekitarnya, aku langsung naik dan kakakku juga mengikuti ku. Kami diantar pulang..., karena kami tidak punya rumah, kakakku minta untuk kita diturunkan di pinggir jalan saja.
Supir juga tidak suka kepada kami kurasa, kita diperlukan cukup buruk olehnya..., kita juga mendapat sedikit hinaan. Tetapi itu tidak masalah bagi aku dan kakakku, walaupun aku sangat merasa kesal.
...
"Anak perempuan..., siapa namanya?" tanya Vallene.
"Sebentar..., namanya adalah...," gumam Derren yang juga sedang berusaha mengingat sesuatu.
__ADS_1
Aku terlalu tidak peduli waktu itu..., aku tidak ingat namanya... karena juga aku tidak ingin mengingat dia lagi.