For a Freedom

For a Freedom
YINNE : FOR FREEDOM (39)


__ADS_3

"Hai kalian, aku telah kembali..., apakah aku terlalu lama?" saat keadaan menjadi serius tiba-tiba dari jauh Kiel berteriak menyapa mereka.


Eh Derren tumben sekali bisa dekat sama orang asing begitu.


Batin Kiel yang juga merasa senang akhirnya adiknya bisa berinteraksi dengan orang lain selain dirinya.


"Kakak!" teriak Derren yang senang melihat kakaknya telah kembali, Derren langsung terbangun dan berlari menuju Kiel.


"Hei haha, ada apa? Kamu berteman dengan Vallene?" seru Kiel.


Derren hanya diam saja, dia dengan malu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya dugaan Kiel benar.


Singkat cerita tibalah waktu dimana Derren tertidur di bawah pohon yang telah dibangun tenda kecil, tersisa Vallene yang duduk dan Kiel yang sedang membereskan kayu bakar untuk di ikat.


...


"Aku tau kalian terlibat dalam kasus ini." ujar Vallene.


Membuat Kiel terkejut dan terdiam di tempat, Kiel terlihat panik dan keringatnya bercucuran. Kemudian Kiel mencoba untuk tenang agar dia terlihat baik-baik saja.


"Apa maksud mu...? B-bahkan aku tidak mengenal korban." ujar Kiel yang gagap.


...


"Siapa nama gadis penyihir itu?" ucap Vallene dengan serius.


"Aagh...." desah Kiel.


***


Vallene berada di depan tangga pintu keluar utama rumah Fred, ia berdiri dengan tegap. Sepertinya Vallene sedang menantikan kepulangan seseorang bersama pelayan Nae.


"Vallene..., kamu duduk saja di dalam. Agar kamu tidak kelelahan...," ujar pelayan Nae kepada Vallene.


"Tidak apa-apa Bi, aku sudah biasa melakukan hal ini..., aku rindu melakukan hal seperti ini lagi." ucap Vallene.


Aku..., aku dikejutkan dengan kehadirannya di malam ulang tahun Nona..., padahal aku melihat sendiri keadaan pada waktu itu..., di dalam mobil..., terduduk dengan mata terpejam dan tidak sadar..., luka yang banyak dan mengeluarkan darah yang deras. Dan juga seperti..., sudah..., tidak bernafas lagi.

__ADS_1


"Kenapa anda menjadi diam gelisah seperti itu Bi Nae?" ucap Vallene.


"Tidak apa-apa, hanya ada sesuatu yang mengganjal di pikiran ku." ujar Nae.


Vallene kemudian tersenyum tipis kepada Nae dan kembali melihat pintu gerbang dengan wajah tersenyum, meskipun terlihat aneh dan sulit dijelaskan.


Apakah dia benar-benar Vallene...? Tidak ada yang berubah dengan dia, tetapi... dihari itu.... Ah sudahlah, aku terlalu banyak berpikir.


Nae mencuri pandangan untuk melirik Vallene, melihat Vallene dari samping yang sepertinya tidak berubah seperti apa yang dia pikirkan. Kemudian Nae memilih untuk menerima kenyataan saja, melupakan hal yang ia pikir tentang Vallene.


Aku menyadarinya, tapi kenapa Bi Nae...? Ada yang salah dengan ku? Hah..., tapi sejak aku kembali ke rumah ini lagi..., aku merasa sungkan dan tidak enak. Konyol sekali.


"Bi Nae, kapan Nyonya Fred akan kembali? Sejak kapan dia pergi?" ujar Vallene.


"Ehh..., ah... maaf aku tidak fokus, Nyonya pergi sejak empat bulan yang lalu. Sepertinya dia akan kembali bulan depan." ucap Nae.


Vallene mendengar itu langsung menelan ludah dan terkejut halus, ia kemudian mencoba tetap tenang dan tersenyum kepada Bi Nae.


"Oh begitu, terima kasih Bi Nae." ujar Vallene dengan senyum manis.


Kali ini berbeda, Nae menyadari kali ini ekspresi Vallene berubah. Vallene hanya menatap dengan tatapan kosong ke arah gerbang utama, dan juga tidak ada senyuman lagi di wajahnya.


Wajar saja..., bukankah yang membuat Vallene seperti itu di waktu itu adalah Nyonya...? Gadis yang malang.


"Vallene, apakah kamu tau legenda tentang sang Yinne?" ujar Nae dengan lembut, berusaha menghibur Vallene.


"Aku belum pernah mendengar hal itu Bi," jawab Vallene, Vallene kemudian menjadi penasaran. Nae menyadari dan tertawa kecil.


"Ada yang mengatakan dunia yang kita tinggali saat ini sangat luas, bahkan lebih luas dibandingkan penggambaran di peta. Di bumi ini bukan hanya tanah benua saja yang ada, tetapi juga tanah surgawi dan tanah-tanah yang lain.


Benar memang energi sihir jahat dan baik sangat kuat sekarang, juga juga hidup berdampingan dengan mahluk-mahluk selain manusia, seperti vampir, roh dengan wujud, iblis, dan lain sebagainya. Maka itulah dunia yang tidak biasa ini harus di pimpin dengan pemimpin yang maha agung dan kuasa.


Dan itulah sang Yinne, penguasa dari segala penguasa. Dikatakan jika sang Yinne adalah sosok yang sempurna dan menawan, tidak ada celah dan cacat pada-Nya. Pemimpin dari segala pemimpin, semua petinggi langit berusaha menjadi yang terbaik dari yang terbaik untuk menjadi sang Yinne." ujar Nae.


"Siapa sekarang yang menjadi sang Yinne? Petinggi langit yang mana? Serephone atau Scarabish?" tanya Vallene yang penasaran.


"Vallene sendiri pengikut siapa?" ujar Nae.

__ADS_1


"Aku..., aku pengikut dari tertinggi Serephone, dimataku dia sangat bijaksana dan tegas, sosok dan perawakannya juga elegan dan sempurna. Dulu, disaat aku mengikuti pemujaan pemimpin langit di kuil Serephone, aku melihat patung-Nya.


Tubuhnya yang tinggi besar, bajunya yang panjang sampai menutupi kaki-Nya, tangannya pertama kiri dan pertama kanan memegang timbangan neraca, tangan kedua kiri memegang pedang besar dan tangan kedua memegang..., seperti bola..., kalau Bi Nae?" tanya Vallene.


"Wahh, aku juga mendengar tentang pemujaan pemimpin langit itu. Sosok dari sang Serephone hadir kan? Membuat di hari itu dunia sangat terang bukan?" ujar Nae yang terkagum.


"Benar!!! Semua orang bilang..., sangking terangnya cahaya, tidak ada yang bisa melihat sang Serephone. Tetapi diwaktu itu aku tidak merasa terlalu silau, aku juga bisa melihat sang Serephone. Walaupun langit menjadi terbelah lebar tetapi yang terlihat hanya bagian tengah dan tangan-tangannya saja. Sangat..., sangat..., indah." ujar Vallene.


"Hah? Kamu serius? Bagaimana bisa manusia biasa seperti kita bisa melihat sang agung haha..., astaga Vallene...," gelak tawanya Nae.


Kenapa Bi Nae tidak percaya? Padahal dia adalah orang yang serius bisa menjadi seperti ini? Apa aku saja yang lawak?


"Memangnya tidak bisa? Ke-kenapa?" ucap Vallene.


"Tentu saja tidak, yang bisa melihat sang tertinggi hanya orang-orang yang sudah melalui lima tingkatan, dari manusia biasa, bangsawan atau setara dengan etik dan moral serta ilmu dari bangsawan, mahluk setengah manusia dan hewan yaitu Igine, selanjutnya tingkat penyihir besar, entah itu manusia atau mahluk selain manusia yang menguasai sihir yang kuat sampai tingkat tertinggi.


Terakhir adalah tingkat iblis atau malaikat, kaki tangan dari sang tertinggi sendiri, sangat jarang bila manusia biasa bisa menjadi malaikat atau iblis yang melayani sang tertinggi." ujar Nae.


"Jadi apakah aku..., iblis?" tanya Vallene yang polos sedang kebingungan.


"Hahah, tentu saja tidak. Kamu dan aku adalah manusia, dan seperti Nona Vallice, dan bangsawan lain yang bijaksana dan adil sudah di tingkatkan kedua, Nyonya Franschine dia sudah mencapai tingkat ketiga, sebagai Igine mulia. Salah satu dari 23 Igine terkuat di seluruh dunia." Nae menjelaskan.


"Jadi..., aku masih di tingkatkan pertama ya..., bisakah orang seperti aku juga..., naik tingkatkan...?" tanya Vallene.


"Tentu saja bisa asalkan kamu berusaha, di dunia ini tidak ada yang mustahil. Jika seorang singa saja bisa makan rumput dan ada seseorang yang bisa teleportasi, kenapa Vallene tidak bisa naik tingkatkan?" jawab Nae.


"Tapi Bi, misalkan Vallene sudah di tingkatkan kedua karena menjadi keturunan bangsawan yang bertanggung jawab memimpin suatu negara..., bila dia juga memiliki sihir yang kuat apakah dia langsung berada di tingkatkan keempat?" tanya Vallene.


"Bisa jadi, semua bangsawan memang diwajibkan untuk mempelajari ilmu sihir. Tetapi bukan sihir yang kuat sekali dan berkategori. Hanya sihir biasa dan semacamnya, lagipula menjadi penyihir besar juga sangat sulit, sangat-sangat sulit.


Di seluruh dunia ini hanya ada 9 penyihir besar saja, dan masing-masing adalah perantara komunikasi antara malaikat dan penyihir besar untuk disampaikan kepada sang tertinggi yang berbeda. Usia dari penyihir besar juga termasuk lama, sekitar 1000 tahun lamanya, penyihir besar saat ini juga sudah semakin menua...," ujar Nae.


"Ah seperti itu, Bibi sendiri pengikut tertinggi mana?" tanya Vallene.


Kemudian Nae tersenyum dan menjawab.


"Aku pengikut sang Shopilliane." ujar Nae dengan suara yang tulus dan lembut.

__ADS_1


__ADS_2