FROM ROOMMATE TO SOULMATE

FROM ROOMMATE TO SOULMATE
Bab 10


__ADS_3

Bab 10


"STOP!!" teriak Rocco karena Sammy dan Lavia masih berdebat dan bahkan akan saling memukul.


Rocco bahkan sampai memelintir tangan Sammy dan tangan satunya lagi merengkuh pinggang Lavia dengan erat agar tak banyak bergerak lagi.


"Kalian benar-benar seperti anak TK," ucap Rocco.


"Jangan mempercayainya, Rocco. Dia pintar bermain sandiwara dan playing victim. Kau mengenalku sudah lama dan kau belum mengenal wanita licik itu," geram Sammy.


"Kalian yang licik. Jika kalian tak licik, kalian tak akan membuat surat salinan wasiat kakek yang asli. Kalian memalsukannya hanya untuk kepentingan kalian sendiri," ucap Lavia.


"Kau bersandiwara seakan kau adalah cucu kakek yang terbaik, Lavia. Kau sama saja seperti ibumu yang licik," sahut Sammy.


"Ibumu yang licik. Kau adalah anak haram, Sammy. Kau lahir ketika ayah sudah menikah dengan ibuku. Kau anak haram," ucap Lavia yang membuat Sammy semakin marah.


"Ibumu yang membuat ibuku tak bisa menikah dengan ayah hanya karena kakek yang menyuruhnya seperti itu. Ya, aku membenci kakek karena dia tak pernah menganggapku ada. Dan aku juga sangat membencimu, Lavia. Seharusnya kau mati saja dengan kakek," sahut Sammy.


Lavia menatap tajam pada Sammy tanpa bicara lagi. Beberapa detik mereka pun diam.


"Bisakah kalian diam?" ucap Rocco dan melepaskan tangan Sammy akhirnya setelah suasana mereda.


Rocco pun melepaskan rengkuhannya di pinggang Lavia.


Baru saja beberapa detik dilepas, Lavia melompat ke arah Sammy dan memukuli wajahnya.


Sammy pun menendangi pinggang Lavia yang naik ke tubuhnya. Sammy tersungkur dan Lavia semakin brutal memukuli hidung Sammy hingga berdarah.


Hal itu terjadi begitu cepat hingga Rocco akhirnya mengangkat tubuh Lavia.


Sammy berdiri dan akan membalas Lavia tapi Rocco meninjunya dan membuatnya kembali tersungkur.

__ADS_1


"STOP!!" marah Rocco pada Sammy.


Rocco mengangkat tubuh Lavia hanya dengan satu tangannya saja dan masuk ke dalam apartemennya.


"Aku akan bicara denganmu nanti, Sammy," ucap Rocco sebelum menutup pintunya.


"JANGAN MEMPERCAYAINYA, ROCCO. KAU AKAN MENYESAL JIKA BERURUSAN DENGANNYA. DIA WANITA LICIK!!" teriak Sammy yang tak terima ketika Rocco justru membiarkan Lavia masuk ke dalam apartemennya.


*


Rocco melepaskan Lavia dan membuat Lavia marah karena pria itu mencegahnya membalas Sammy.


"Kau tak punya hak untuk ikut campur dalam urusanku dengan pria brengsek itu!" marah Lavia.


Rocco tak menjawabnya dan hanya melihat Lavia dengan mata tajamnya.


Lavia kemudian berbalik ke arah pintu lagi dan Rocco kembali mengangkat pinggangnya dan membawanya ke kamar.


Rocco mengangkat tubuh Lavia seperti mengangkat barang dan seakan tak ada beban sama sekali.


Gaun pendek Lavia bahkan sampai sobek karena insiden tadi.


Rocco memasukkan Lavia ke dalam kamar lalu mengunci pintunya.


Lavia menggedor pintu itu dan mengucapkan semua sumpah serapah pada Rocco.


"Aku yang akan menyelesaikannya dengan Sammy. Kau masuk ke dalam area-ku itu artinya aku akan ikut campur," teriak Rocco dari luar pintu.


Lavia kembali mengumpat dan menggedor pintu itu.


"Wanita ini sungguh bar-bar," gumam Rocco.

__ADS_1


Rocco lalu keluar kembali dan menemui Sammy yang masih berada di depan pintu.


"Kita bicara di bawah saja," ucap Rocco.


Sammy yang mulai tampak tenang akhirnya mengangguk. Dia mengenal bagaimana Rocco dan ia harus mengikuti perintahnya saat ini.


Setelah sampai di cafe bawah, mereka duduk di sana dan mulai mendiskusikan masalah ini.


"Ada apa sebenarnya? Sepertinya masalah kalian sangat-sangat kompleks hingga kalian ingin saling membunuh," ucap Rocco.


Sammy menghela nafasnya panjang sebelum bercerita.


"Aku dan Lavia adalah saudara satu ayah. Ibu kami berbeda dan ibu Lavia adalah wanita pilihan kakek yang akhirnya menjadi istri sah ayahku. Sedangkan ibuku hanya menjadi istri kedua. Tapi ayahku tak pernah mencintai ibu Lavia dan hanya mencintai ibuku saja meskipun ibu Lavia sudah menjadi istri sah ayahku. Ibu Lavia tak pernah menerima hal ini dan begitu dendam pada ibuku. Dia selalu berusaha menyakiti ibuku dan juga aku yang ketika itu masih ada di dalam perut ibuku," kata Sammy.


"Hingga akhirnya, ibu Lavia pun diungsikan ke Australia oleh ayahku dan hidup ibuku mulai aman setelah itu. Tapi kakek sama sekali tak mau mengerti hal itu dan tetap membela ibu Lavia. Dia memberikan semua hak warisnya pada Lavia dan mengabaikan aku serta Becca -- adikku," lanjut Sammy.


"Aku sampai merantau kemari karena ingin membuktikan pada kakek bahwa aku bisa berdiri tanpanya. Sedangkan Becca tetap berusaha mengambil hati kakek dengan menjadi sekretarisnya di sana. Hingga suatu saat, Becca menemukan surah wasiat kakek yang berisi bahwa semua harta termasuk rumah ibuku akan dikuasai oleh Lavia dan kakek akan membuat kami seperti gelandangan. Bukankah orang tua itu jahat, Rocco? Dia tak pernah memperhatikan kami sejak kami kecil dan ketika dia mati pun dia akan membuat kami sengsara. Begitu bencinya dia pada ibuku hingga membuat hidup ibu dan kami menderita."


"Becca nekat menyalin dan mengubah surat wasiat itu. Tapi aku mengakui bahwa Becca mengubah terlalu banyak padahal aku hanya meminta hak atas rumah ibuku saja. Becca mengirim surat wasiat asli itu padaku. Mengetahui hal itu, kakek marah dan memukul Becca hingga akhirnya kakek terkena serangan jantung dan kondisinya memburuk," ucap Sammy.


"Hanya karena hal itu, kakek sampai sakit. Harta yang kami minta tak seberapa. Aku hanya ingin ibuku mendapat haknya yang selama ini tak pernah diberikan oleh kakek pada ibuku. Apakah itu salah? Sedangkan Lavia dengan ketidak tahuannya tentang hal ini membuat spekulasi bahwa dialah yang tersakiti selama ini. Padahal kami lah yang menderita selama bertahun-tahun karena kakek tak pernah mengakui kami. Sedangkan Lavia? Kakek selalu memenuhi semua kebutuhannya dan ibunya di Australia. Ketika ibunya meninggal, aku begitu senang karena itu artinya ayahku hanya memiliki satu istri saja akhirnya. Tak masalah jika kau memandangku jahat karena hal ini. Tapi kau tak mengalami apa yang kami alami, Rocco," kata Sammy.


Rocco hanya mendengarkan penjelasan Sammy dengan seksama agar bisa mengetahui pokok inti permasalahan ini.


"Lavia hanya mencari alasan untuk menyerang kami karena kami-lah yang menang mendapatkan ayah kami. Dia memiliki dendam yang sangat dalam pada kami karena dia merasa ayahnya diambil oleh kami. Dia mendapat banyak warisan dari kakek. Apa lagi yang dia inginkan? Tapi dia malah menyerang Becca dan membuatnya hampir kehilangan nyawa jika saja Paman Fred tak menyelamatkannya," ucap Sammy.


"Jangan sampai kau terikat dengan dia, Rocco. Dia seperti ibunya yang gila itu. Ibunya hampir membunuh ibuku dan sekarang dia juga akan membunuh kami. Dia pikir aku takut? Tidak sama sekali," kata Sammy.


Rocco masih diam untuk mencerna perkataan Sammy.


"Aku tak akan pernah berbohong padamu, Rocco. Aku tahu konsekuensi apa yang akan kudapatkan jika aku berbohong padamu," ucap Sammy.

__ADS_1


__ADS_2