FROM ROOMMATE TO SOULMATE

FROM ROOMMATE TO SOULMATE
Bab 22


__ADS_3

Bab 22 LavCo


Rocco mengikuti Lavia dari belakang dan menarik tangannya.


"Jika aku bilang tak boleh maka itu artinya kau tak boleh pergi, mengerti?" ucap Rocco dengan tatapan mata dingin.


Lavia menatap ke arah Rocco yang kini memandangnya tajam.


"Mengapa kau melarangku?" tanya Lavia.


"Statusmu adalah tunanganku sekararng dan kau membawa nama baikku. Kau tahu berapa banyak di luar sana yang ingin aku jatuh? Maka kau adalah sasaran empuk objectnya," jawab Rocco masuk akal.


"Kau pikir aku wanita bodoh yang tak bisa menjaga diri? Kau belum mengenalku, Rocco," ucap Lavia.


"Jika kau ingin menjadi istriku maka kau harus menjadi wanita yang sangat penurut, Lavia," sahut Rocco dan menggandeng tangan Lavia masuk ke dalam ruangan.


"Kupikir kau akan berusaha keras menolakku, ternyata kau masih mau juga mengaturku," ucap Lavia yang kemudian duduk kembali di sofa.


Rocco kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.


Lavia melihat ke arah pria tampan yang akan menjadi suaminya beberapa hari lagi.


Lavia masih berpikir perasaan apa yang kini dirasakannya pada Rocco.


"Mengapa kau sekarang begitu dingin padaku? Di saat pertama kali kita bertemu kau sangat ramah," kata Lavia mengucapkan kata-kata itu lagi.


"Kau membohongiku dan menjebakku ke dalam persoalan rumit ini," jawab Rocco dengan mata yang masih fokus pada pekerjaannya.


"Kita bisa berteman kembali," ucap Lavia.


Rocco tak menjawabnya.


"Ketika kau menciumku, apakah kau merasakan sesuatu?" tanya Lavia lagi.


"Tidak," jawab Rocco jujur.


Lavia lalu diam dan tak bertanya lagi. Dia kembali merebahkan dirinya dan menutup matanya karena memang mengantuk.


Kemudian Rocco melihat ke arah Lavia yang diam di atas sofa.


*


Setengah jam kemudian, Rocco sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia membereskan dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja.


"Mmmm ... Tidak ... Jangan lakukan itu ... Tidak ..." Lavia mengigau lirih dalam tidurnya dan keringat dinginnya mulai keluar.


Rocco yang mendengar hal itu pun menghampiri Lavia.


Pria itu melihat Lavia yang wajahnya tampak takut akan sesuatu dan tubuhnya memundur seperti beberapa waktu lalu ketika Lavia juga dalam kondisi tidur.


Rocco memegang tangannya tanpa membangunkannya dan mengusapnya pelan.


Lavia memegang erat tangan Rocco dan mengangguk-angguk.


Setelah itu dia tak bersuara lagi dan kembali melanjutkan tidurnya.


Rocco kemudian mengusap kening Lavia yang berkeringat dengan tisu menggunakan tangan kirinya.


Rocco melepas tangan Lavia dengan perlahan dan kemudian kembali menuju mejanya.


Sepuluh menit kemudian, Rocco telah selesai membereskan semuanya dan mulai membangunkan Lavia.

__ADS_1


"Bangunlah," bisik Rocco di telinga Lavia agar wanita itu tak kaget.


Lavia belum juga bangun dan Rocco pun akhirnya mengusap-usap pipi merahnya.


Dan hal itu akhirnya membuat Lavia terbangun.


Matanya masih mencerna apa yang ada di depannya dan di mana dia sekarang.


"Di mana aku? Dan jam berapa sekarang?" tanya Lavia dengan suara serak.


"Di kantorku dan ini sudah jam 8 malam," jawab Rocco.


Lavia mengusap wajahnya lalu duduk dan meregangkan ototnya yang kaku.


Kemudian dia terdiam sesaat.


"Apakah tadi aku mengigau?" tanya Lavia.


"Hmm," sahut Rocco dan mengulurkan tangannya pada Lavia.


"Kebiasaan itu sulit sekali hilang. Semoga kau tak terganggu ketika kita sudah menikah nanti," ucap Lavia yang kemudian menyambut uluran tangan Rocco dan beranjak dari sofa.


Lavia merapikan rambutnya dengan menyigarnya menggunakan jari jemari lentiknya.


Lalu mereka pun keluar dari ruangan kantor Rocco.


*


Sepanjang perjalanan Lavia melihat ke arah Rocco dan memandangi wajah tampannya tanpa henti.


"Ada apa? Ada yang ingin kau minta?" tanya Rocco.


"Kau membenciku?" tanya Lavia.


Lalu Lavia hanya diam dan tetap memandangi wajah Rocco.


Rocco pun tak terlalu mempedulikan hal itu.


Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah restoran.


Lavia turun dan menunggu Rocco keluar dari mobilnya.


Setelah itu Lavia menggandeng lengan Rocco terlebih dahulu.


Suasana restoran tampak lumayan ramai dan itu adalah restoran yang sering dikunjungin oleh Rocco.


"ROCCO!!" panggil seseorang dari sudut restoran.


Rocco dan Lavia menoleh ke arah pria itu.


"Dia temanmu?" tanya Lavia.


"Hmm," jawab Rocco dan menghampiri beberapa temannya yang duduk di meja bundar itu.


"Duduklah bergabung dengan kami di sini. Kau pasti Lavia," ucap salah satu teman Rocco.


Lavia tersenyum dan mengangguk.


"Apakah ini acara pria? Tak ada wanita sama sekali di sini," kata Lavia ketika melihat ada sekitar lima pria di sana


"Ya, kami baru saja pulang bekerja dan langsung kemari," jawab salah satu.

__ADS_1


Lalu Lavia dan Rocco duduk di antara lima pria tampan itu.


"Kaliian teman kuliah atau sekolah atau ..." ucap Lavia.


"Kuliah," jawab pria tampan yang ada di sebelah Rocco.


"Perkenalkan diri kalian," ucap Lavia dengan santainya.


"Aku Rudy."


"Aku Vito."


"Aku Nolan."


"Aku Jasper."


"Dan aku Wilner," jawab pria yang terakhir.


"Senang berkenalan dengan kalian," ucap Lavia tersenyum cantik.


Lalu Rocco dan Lavia memesan makan malam mereka sembari mengobrol dengan teman-teman Rocco.


Rocco hanya melihat interaksi Lavia dan para temannya itu yang bisa cepat akrab seakan mereka sudah berteman lama.


"Kau wanita yang menyenangkan, Lavia. Seharusnya aku bertemu denganku dulu sebelum dengan playboy itu," ucap Jasper.


Semua yang di sana tertawa mendengar hal itu.


Lavia melihat ke arah Rocco.


"Kau seorang playboy, Honey?" tanya Lavia.


"Menurutmu?" tanya Rocco.


"Tidak, kau pria yang sangat baik bagiku," ucap Lavia tersenyum dan mengecup bibir Rocco di depan teman-temannya.


Rocco melihat mata Lavia dan menatapnya lekat.


'Permainan apa yang sebenarnya kau mainkan, Lavia? Aku tahu bahwa ini hanya sandiwara semata,' batin Rocco.


Lavia tersenyum dan seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Rocco.


"Ayo kita makan," ucap Lavia dengan mesra mengusap pipi Rocco.


Para pria di depan mereka yang sudah mengenal Rocco melihat Rocco yang tak seperti biasanya.


"Dia sangat tergila-gila padaku," ucap Lavia ketika mereka menjadi pusat perhatian pada teman Rocco.


"Ya, aku tak pernah melihat Rocco se-diam ini sebelumnya. Apakah kau ingin menjaga image-mu di depan calon istrimu, Rocco?" sahut Nolan tertawa pelan.


Rocco tak terlalu menanggapi perkataan Nolan dan memulai makan malamnya.


Setelah satu jam lebih berada di restoran, Rocco dan Lavia akhirnya pulang ke apartemen.


Tak ada obrolan apa pun di dalam mobil karena sepertinya Rocco dan Lavia sama-sama sedang berpikir tentang sesuatu.


Lavia yang biasanya banyak bicara tampak diam saja.


Sesampainya di apartemen, mereka masuk ke dalam lift yang menyambung dengan basement parkir apartemen.


Lavia tampak bersandar di dinding lift yang dingin tanpa melihat ke arah Rocco.

__ADS_1


TING ...


Begitu pintu lift terbuka, Lavia keluar dari lift tanpa menunggu Rocco. Sikapnya kali ini tampak berbeda dengan tadi ketika dia begitu menempel pada Rocco.


__ADS_2