
Bab 28 Rocco Lavia.
Setibanya di apartemen, Rocco dan Lavia masuk bersama.
Lavia langsung menuju kamarnya, sedangkan Rocco mengikuti Lavia di belakangnya.
"Hei, aku baik-baik saja. Jadi tak perlu menungguku," ucap Lavia tersenyum tipis pada Rocco.
"Kau tak baik-baik saja. Itu yang kulihat," jawab Rocco.
"Aku hanya ingin sendiri," sahut Lavia.
"Tak bisakah aku menemanimu?" tanya Rocco.
"Kau kasihan padaku?" tanya Lavia.
"Tidak, aku hanya khawatir padamu," jawab Rocco.
"Aku tak serapuh itu," kata Lavia dan membuka laci meja nakasnya.
Dia mengeluarkan sebungkus rokok yang tak pernah dilihat Rocco.
"Kau merokok?" tanya Rocco.
"Hmm, hanya terkadang saja," jawab Lavia.
Rocco mengambil rokok itu dan menaruhnya di kantong coat-nya.
"Tak perlu ini lagi. Ada aku yang lebih bisa mendengarkanmu dari pada rokok," kata Rocco.
"Mengapa kau jadi semanis ini setelah mengetahui kisah kelamku?" Sahut Lavia.
"Seharusnya dari awal aku memakai cara ini saja untuk memikatmu," lanjug Lavia tersenyum miring.
"Kita mulai dari awal. Lupakan yang lalu dan kita berteman seperti biasa," kata Rocco.
"Berteman? Kau ingin menjadi temanku?" tanya Lavia menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
"Roommate?" Sahut Rocco.
Lavia tertawa pelan mendengar hal itu.
"Roommate? Not bad," sahut Lavia sembari mengedikkan bahunya.
Rocco mengulurkan tangannya pada Lavia.
"Hai, aku Rocco Robert," kata Rocco.
Lavia kembali tertawa kecil.
"Aku Lavinia Xerxes. Panggil aku Lavia," jawab Lavia tersenyum.
Melihat tawa dan senyum Lavia membuat Rocco lega. Setidaknya Lavia sudah tak terlalu larut dalam rasa rapuhnya.
Mereka pun sama-sama tersenyum dan kemudian Lavia memeluk Rocco.
"Thank you," bisik Lavia.
*
*
Seminggu berlalu, Lavia masih tinggal bersama Rocco di apartemen milik Rocco dan juga bekerja di perusahaan milik Rocco.
Lavia ingin mencari apartemen pribadi untuk dirinya sendiri, tapi Rocco dan Velvet tak memperbolehkannya.
Piliham Lavia hanya dua. Tinggal di apartemen Rocco atau mansion keluarga Robert.
Dan akhirnya Lavia pun memilih tinggal di apartemen bersama Rocco.
"Bi, apakah bibi tak melihat bajuku yang berwarna merah?" tanya Lavia pada Rosa ketika wanita paruh baya itu mengelap meja ruang tengah.
"Baju seperti apa?" tanya Rosa.
"Baju sutra tipis yang panjangnya tak sampai satu meter," jawab Lavia.
__ADS_1
"Aku tak melihatnya, Nona," jawab Rosa.
"Baju seperti apa, Lavia? Jika hilang, kau bisa membelinya lagi," sela Rocco yang sedang duduk di sofa.
"Tak akan sempat, acaranya malam ini," jawab Lavia.
"Acara apa?" tanya Rocco.
"Reese akan memgadakan pesta 'bride to be' dan dress code yang digunakan adalah baju tidur seksi," jawab Lavia.
"What?? Pesta apa itu? Pesta yang aneh," kata Rocco.
"Pesta sebelum Reese menikah. Seperti pesta bujang," jawab Lavia.
"Kalian semua memakai baju tidur seksi? Lalu apa manfaatnya?" tanya Rocco tak habis pikir.
Rosa tampak pergi dari ruang tengah itu ketika para majikannya sedang mengobrol.
"Hanya acara pesta seru-seruan saja, Rocco. Ck, kau tak akan mengerti" jawab Lavia.
"Dan kau akan memakai pakaian seksi itu dari apartemen?" tanya Rocco.
"Ya, cukup menutupnya dengan coat panjang. Sudahlah, aku akan mencarinya lagi," jawab Lavia dan berbalik kembali ke kamarnya.
Rocco beranjak dari tempat duduknya dan berjalan di belakang Lavia.
"Kau berangkat bersama siapa?" tanya Rocco.
"Sendirian," jawab Lavia masuk ke kamarnya.
"Aku akan mengantarmu," kata Rocco.
"Tak perlu," sahut Lavia.
"Aku tak akan membiarkanmu berkeliaran memakai baju seksi sendirian," jawab Rocco.
"Oh my, aku menutupnya dengan memakai coat," kata Lavia menengok ke arah Rocco.
__ADS_1