FROM ROOMMATE TO SOULMATE

FROM ROOMMATE TO SOULMATE
Bab 37


__ADS_3

LavCo 37


Setelah makan siang selesai, Velvet langsung kembali ke mansionnya menggunakan mobilnya sendiri.


Sedangkan Lavia dan Rocco kembali ke perusahaan.


Rocco menggandeng tangan Lavia dan mereka masuk bersama ke dalam perusahaan.


Kemudian mereka masuk ke dalam lift bersama.


Rocco menyandarkan tubuhnya di dinding lift dan melihat ke arah Lavia.


Lavia tampak melihat ke arah bawah ke jari manisnya yang tersemat cincin berlian di sana.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Rocco.


Lavia tak menoleh ke arah Rocco dan masih diam saja.


Lalu Rocco menarik tangannya dan membawanya ke hadapannya.


"Ada apa?" tanya Rocco memegang dagu Lavia hingga wanita itu mendongakkan kepalanya ke atas.


"Tadi aunty memberiku sebuah cincin," jawab Lavia.


Rocco mengambil tangan Lavia dan melihat cincin di jari manis tangan kanannya.


"Kau suka?" tanya Rocco.


"Sangat," jawab Lavia tersenyum dan kembali melihat ke arah cincin itu.


"Bahkan ibuku tak pernah memberiku cincin. Tidak, jangankan cincin, dia bahkan tak memberikan air susunya untukku," kata Lavia lirih dengan senyum getirnya.


Rocco memeluk Lavia dan mengusap punggungnya.


Pintu lift terbuka tapi Rocco menutupnya kembali dengan memencet tombol lift yang ada di sampingnya.


Lavia melingkarkan tangannya di pinggang Rocco.

__ADS_1


Tak ada ucapan apa pun dari keduanya dan hanya berpelukan saja.


*


*


Malam menjelang, Rocco dan Lavia menuju ke mansion Velvet.


Mereka akan makan malam di sana sekaligus menginap di sana.


Sesampainya di mansion, Lavia turun dari mobil tapi Rocco menahan tangannya.


Lavia menoleh ke arah Rocco.


"Ada apa?" tanya Lavia.


"Aku tak ikut makan malam di sini karena aku ada janji dengan teman - temanku malam ini. Nanti aku akan kembali lagi ke sini. Katakan itu pada mommy," jawab Rocco.


"Oke. Kau akan ke club?" tanya Lavia.


"Baiklah, bye," sahut Lavia dan keluar dari mobil tapi Rocco menahan tangannya lagi.


"Ada apa lagi?" tanya Lavia.


"Kau tak memberiku sebuah ciuman?" tanya Rocco.


"Apa hubungan kita?" tanya Lavia.


"Sepasang kekasih?" sahut Rocco.


Lavia tertawa pelan.


"Kau belum pernah mengatakannya padaku," jawab Lavia.


"Apakah aku harus mengatakannya?" tanya Rocco.


"Ya, katakan," kata Lavia dan melihat ke arah Rocco.

__ADS_1


"Ayo katakan. Keluarkan kata-kata terindahmu," jawab Rocco.


"When 'HOME' is a person and not a place. That's love. So, I love you," ucap Rocco dengan tatapan matanya yang tajam.


Ucapan Rocco tentu saja membuat Lavia speechless.


Wanita itu terdiam dan mereka masih saling memandang.


"Mengapa kau terdiam?" tanya Rocco mencium punggung tangan Lavia.


"Kau tak percaya dengan apa yang kukatakan?" tanya Rocco.


Lavia mengangguk.


"Aku bukan Paman Fred," ucap Rocco.


Lavia tertawa pelan.


"Aku akan memikirkannya," jawab Lavia dan keluar dari mobil dengan cepat sebelum Rocco menahan tangannya lagi.


"Hei!! Are you kidding me?" kata Rocco.


"Dulu kau begitu menghindariku, jadi sekarang saatnya aku balas dendam, bukan?" sahut Lavia tersenyum.


"Whattt??" sahut Rocco dan turun dari mobilnya.


Lavia berjalan cepat agar Rocco tak bisa menangkapnya karena Rocco sudah terbiasa mengangkat tubuhnya jika Lavia tak menuruti kemauannya.


"Jangan kabur," kata Rocco sembari berlari.


Lavia akhirnya berlari dan segera mencari Velvet.


"AUNTYYY!! HELP MEEE!!" teriak Lavia dan masuk ke dalam mansion.


Lavia langsung menuju ke dapur dan menemukan Velvet di sana.


"Thank God ..." gumam Lavia dan langsung menuju ke Velvet untuk meminta perlindungan dari Rocco.

__ADS_1


__ADS_2