FROM ROOMMATE TO SOULMATE

FROM ROOMMATE TO SOULMATE
Bab 7


__ADS_3

Bab 7


"Kau, Becca dan Sammy adalah korban dari semua masalah orang tua kalian. Biar bagaimana pun mereka adalah saudaramu meskipun ibu kalian berbeda. Tolong hentikan ini, Lavia. Sungguh, tak akan ada yang kau dapat dengan menghabisi Sammy dan Becca. Berpikirlah panjang dan pintar, Lavia. Kau adalah cucu kebanggaan kakek. Jadi lupakan semua dan bahagiakan hidupmu sendiri. Jangan melihat ke belakang dan berjalanlah maju ke depan," ucap Fred.


Lavia menutup sambungan teleponnya secara sepihak. Dia tak ingin mendengarkan kelanjutan dari perkataan sang paman yang menurutnya memang benar adanya.Tapi Lavia masih berusaha menyangkal hal itu.


Lavia duduk di pinggir ranjang dan menatap wajahnya di cermin yang berada persis di depannya.


"Bahagia? Selama bertahun-tahun aku tak pernah bahagia karena kalian lah yang membuatku terbuang. Hanya kakek yang peduli padaku dan sekarang kalian mengambil kakekku juga," gumam Lavia.


Beberapa menit kemudian, Lavia beranjak dan akhirnya keluar dari apartemen.


Supir Rocco sudah menunggunya di depan lobby. Dia pun langsung pergi ke tempat di mana butik yang ditujunya berada.


Di perjalanan, Lavia mencari informasi tentang keluarga Robert sesuai dengan saran Fred.


Lavia cukup terkejut bahwa dirinya tinggal bersama salah satu pewaris dari salah satu keluarga dengan kekayaan yang hampir tak terhitung lagi jumlahnya.


"Haruskah kumanfaatkan dia?" gumam Lavia berbisik agar sang supir tak mendengarnya.


"No no no ... Kurasa tak akan semudah itu memanfaatkan dia. Dia pasti sudah terbiasa dikelilingi wanita-wanita cantik, bukan?" gumam Lavia sekali lagi.


Setelah dua puluh menit perjalanan, Lavia pun tiba di butik.


"Entah apa yang akan kulakukan," gumam Lavia pelan dan masuk ke dalam butik yang menjual barang-barang branded.


Lavia jarang berbelanja karena dia memang tak pernah hidup berfoya-foya meskipun sang kakek selalu mengiriminya banyak uang setiap bulan.


Dia pun baru memakai barang branded ketika kemarin mengunjungi Inggris karena dia ingin memperlihatkan pada keluarga besar ayahnya bahwa dia bukanlah gembel yang terbuang.


Lavia masuk ke butik dan tak ada pegawai butik yang menyambutnya karena dia berpakaian sederhana dan terkesan murah.


Lalu Lavia memilih baju sendiri yang menurutnya cocok untuk di pakai di perusahaan Rocco.


"Ada wanita menyebalkan itu di perusahaannya, bukan? Akan kubuat kau panas hingga otakmu mendidik, Biitchh," gumam lirih Lavia sambil memilih baju ketika memikirkan tentang Maryla.


Lavia sudah mengambil lima baju dan itu membuat tangannya penuh dengan pakaian.


"Kau dibayar untuk bekerja, kan?" ucap Lavia pada pegawai yang ada di butik itu.


Pelayan butik itu memandang datar pada Lavia dan menghampirinya.


"Bawakan ini dan taruh di meja kasir. Aku masih ingin memilih lagi," kata Lavia tegas dan wanita itu pun hanya bisa menurut saja karena posisinya adalah sebagai pramuniaga yang memang harus melayani pelanggan.

__ADS_1


Setelah puas memilih dan mengambil 12 potong pakaian, Lavia pun menuju ke kasir untuk membayar.


"Kau tak mencobanya terlebih dahulu, Nona? Karena baju ini tak bisa ditukar atau dikembalikan lagi setelah dibayar," ucap sang kasir.


"Tidak perlu," jawab Lavia dan mengeluarkan kartu yang diberi oleh Rocco tadi.


Sang manajer butik yang ada di sebelah kasirnya tampak melihat ke kartu berwarna hitam itu.


Lalu wanita itu melihat ke arah komputer yang tertera nama pemilik kartu itu.


"Anda kerabat Tuan Robert?" tanya manajer itu.


"Ya," jawab Lavia singkat karena tak ingin terlalu lama di situ.


Lalu manajer itu tampak menelepon seseorang untuk mengkonfirmasi sesuatu.


Lavia tahu apa yang akan dilakukan oleh manajer itu. Manajer itu pasti tak percaya bahwa Lavia adalah kerabat keluarga Robert.


Lavia merasa kesal karena pembayarannya tak segera dilakukan oleh sang kasir karena menunggu perintah manajer.


"Bisakah secepatnya? Aku tak suka menunggu terlalu lama," ucap Lavia.


"Maaf, Nona. Kami harus menunggu konfirmasi dulu tentang kartu anda," jawab petugas kasir itu.


Suasana hatinya yang buruk menjadi semakin buruk karena hal ini.


Lalu lavia mengeluarkan kartunya yang juga berwarna hitam.


"Mana kartu yang tadi?" tanya Lavia.


Sang kasir yang tampak melongo memberikan kartu milik Rocco kepada Lavia lagi.


"Itu kartu milikku. Apakah kau membutuhkan kartu pengenalku juga?" tanya Lavia ketus karena sang kasir masih melihat kartu itu.


"Ya, kami membutuhkannya," sahut sang manajer yang berjalan ke arah meja kasir kembali setelah melihat Lavia memberikan kartu yang lain.


Lalu Lavia mengeluarkan kartu identitasnya dan sang kasir memeriksanya.


Petugas kasir itu melihat ke arah Lavia dan Lavia tahu apa yang dicari oleh wanita itu.


Lavia membuka kacamatanya dan mengurai rambut indahnya.


"Sudah sama dengan foto di kartu itu, kan?" ucap Lavia tersenyum smirk.

__ADS_1


Pwgawai kasir itu mengangguk dan segera memproses pembayarannya.


Manajer sok cantik itu tampak masih melihat ke arah Lavia.


Setelah membayar belanjaannya, Lavia mengambil belanjaannya.


"Ini pertama kali sekaligus terakhir kalinya aku kemari. Aku bisa saja membeli toko ini dan memecat kalian. Tapi aku masih memiliki rasa kasihan pada kalian yang hanya melihat penampilan seseorang dari luarnya saja. Akan kuingat-ingat toko ini dan kupastikan semua keluarga Robert tak akan pernah kemari," ucap Lavia dengan wajah dinginnya.


Dia mengatakan hal itu karena benar-benar kesal dengan pelayanan butik itu yang menurutnya sangat buruk.


"B-begini, Nona. Kami hanya waspada saja karena sekarang banyak kasus penipuan dan pencurian kartu kredit," sahut manajer itu panik sembari mengejar Lavia.


"Kalian sudah tak menyambutku dengan baik sejak awal aku masuk ke butik ini," jawab Lavia dan segera masuk ke mobil.


Manajer itu masih kekeh memanggil Lavia untuk meminta maaf ketika Lavia sudah duduk di dalam mobil.


"Antar aku ke salon terdekat dari sini, Paman," ucap Lavia pada sang supir.


"Baik, Nona," jawan pria paruh baya itu.


Dan mobil itu pun pergi dari butik. Lavia tersenyum smirk ketika melihat manajer butik itu masih ada di pinggir trotoar.


"Kau coba-coba meremehkanku. Itulah akibatnya," gumam Lavia berbisik.


Hanya sepuluh menit perjalanan, Lavia sampai di salon. Dan dia berharap pelayanan salon ini tak seburuk butik tadi.


Lavia masuk ke dalam salon dan disambut oleh para pagawainya yang tampak ramah.


"Anda ingin perawatan apa, Nona?" tanya manajer salon.


"Semuanya," jawab Lavia singkat.


Hal itu membuat sang manajer tersenyum lebar.


"Aku ingin membayar dulu," ucap Lavia.


"Baiklah, Nona," jawab sang manajer dan menerima kartu yang diberikan oleh Lavia.


Setelah melalukan pembayaran, manajer salon itu langsung mendampingi Lavia sampai ke ruang perawatan yang cukup mewah itu.


"Terima kasih. Pelayanan kalian sangat-sangat bagus. Kurasa aku akan betah berlama-lama perawatan di sini," ucap Lavia tersenyum.


"Terima kasih, Nona. Pelayanan yang baik adalah motto kami yang paling utama. Semoga anda menikmati perawatan di tempat kami," sahut manajer itu yang senyumnya tak pernah hilang sejak Lavia masuk ke tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2