
Bab 14
"Mulai kapan kalian saling mengenal?" tanya salah seorang wartawan.
"Kami tak membahas masalah ini. Dan kami hanya mengkonfirmasi tentang hubungan putra kami dan Lavia. Jadi cukuo di sekian konfirmasinya," kata Damon.
Lalu mereka berempat pun beranjak dari kursinya lalu pergi dari sana.
'Hanya seperti ini?' batin Lavia bingung karena dia tak menyangka konfirmasinya hanya sesingkat ini.
Rocco menggandeng tangan Lavia dan membawanya kembali ke mobil Bugatti Chiron-nya.
Sedangkan Damon dan Velvet masuk ke dalam mobil Lamborghini Veneno milik keluarga Robert.
"Konfirmasinya hanya seperti itu?" tanya Lavia ketika Rocco sudah melajukan mobilnya.
Rocco tak menjawab apa pun dan fokus menyetir dengan kecepatan tinggi.
"Kita akan ke mana?" tanya Lavia.
Rocco masih diam tak menjawab. Lavia melihat kemarahan di wajah tampan Rocco.
Mobil mewah itu tetap melaju kencang dan entah ke mana Rocco akan membawanya.
"Aku tahu kau marah karena hal ini tapi aku belum mau mati. Pelankan mobilmu, ini sudah terlalu kencang," kata Lavia yang merasa kecepatan mobil Rocco sudah melebihi batas.
"ROCCO!!" bentak Lavia.
Rocco masih tak menjawab dan masih diam. Lavia pun diam dengan wajah tegangnya.
Sampai lima belas menit perjalanan, mereka sudah tiba di sebuah daerah perbukitan. Rocco menghentikan mobilnya di sebuah bangunan besar yang nampak seperti kastil.
Rocco mematikan mesin mobilnya dan turun dari mobil. Lalu ia pun membuka pintu mobil di mana Lavia duduk.
Rocco menarik tangan Lavia dan membawanya ke dalam kastil itu dengan paksa.
"Apa yang akan kau lakukan?" teriak Lavia yang berusaha melepaskan tangan Rocco yang mencengkeram pergelangan tangannya.
BRAK !!
Rocco membuka pintu kastil dengan keras dan beberapa pelayan menghampirinya.
"Selamat datang, Tuan. Anda tak memberi kabar akan kemari," kata salah satu pelayan.
"Pergilah, aku sedang ada urusan dengan CALON ISTRIKU," jawab Rocco dan membawa Lavia ke atas lantai dua.
"Rocco, lepaskan aku!! Apa kau mau membunuhku di atas?" marah Lavia.
__ADS_1
Rocco masih tak menjawab, sampai akhirnya Rocco membuka pintu kamar yang ada di dekat tangga.
Lalu Rocco menghempaskan tangan Lavia dengan agak kasar hingga Lavia hampir terjatuh.
Rocco mengunci pintu kamar itu dan mata tajamnya mengarah pada sosok wanita cantik yang ada di depannya.
Rocco melangkah maju dengan perlahan. Lavia memundurkan langkahnya karena dia sedikit takut dengan pandangan mata Rocco yang mengintimidasinya.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Lavia.
"Kau sendiri yang bilang bahwa kau adalah calon istriku. Jadi kau pasti tahu apa yang akan aku lakukan. Dalam minggu dipastikan kita akan menikah karena orang tuaku sudah mengambil keputusan setelah mendengar penjelasan singkatmu tadi," jawab Rocco.
"Jika kau berniat akan memperkkosaku, kau akan menerima akibatnya, Rocco," sahut Lavia.
"Aku tak pernah memperkoosa seorang wanita. Aku yang membuat mereka datang sendiri padaku," jawab Rocco tersenyum smirk menakutkan.
"Kau pikir aku tak bisa melakukan hal ini padamu?" lanjut Rocco yang semakin dekat pada Lavia.
Lavia menangkap tangan Rocco yang akan menangkup pinggangnya dan berusaha membanting tubuh pria itu. Tapi Lavia sedikit kesulitan karena Rocco tampak sudah tahu apa yang akan dilakukan Lavia.
Rocco memutar tangan Lavia hingga akhirnya dia bisa mendekap erat perut Lavia dan membawanya ke atas ranjang.
"Lepaskan aku, Brengssek!!" teriak Lavia dan menggerakkan kakinya berusaha menendang tulang kering Rocco.
Rocco melempar tubuh Lavia ke atas ranjang dan menindih tubuhnya ketika Lavia berusaha bangun kembali.
"Ya, aku memang pria brengseek. Dan pria brengseek ini akan menjadi suamimu sebentar lagi," sahut Rocco dan mencium paksa bibir Lavia.
Lavia menggigit bibir Rocco hingga berdarah. Rocco mengumpat dan menangkup kuat pipi Lavia.
"Kau yang menbuat situasi ini semakin rumit, Lavia. Dan aku tak suka jika kau melanggar apa yang sudah kita sepakati sebelumnya," ucap Rocco geram.
Lavia berhasil membebaskan tangannya dan mencekik leher Rocco. Rocco memegang tangan Lavia dan dengan mudah melepaskannya dari lehernya.
"Dengan sikapmu yang seperti ini, aku yakin bahwa Sammy lah yang benar," kata Rocco yang semakin memancing kemarahan Lavia.
Lavia menggigit kuat tangan Rocco untuk yang kedua kalinya dan berhasil membalik tubuh Rocco yang sejak tadi menindihnya.
Lavia memukul pipi Rocco dan kembali mencekiknya.
Rocco memegang pinggang Lavia dan membantingnya kembali ke samping.
Lavia melawan sekuat tenaga hingga membuat baju bagian atasnya sobek dan terlihat bra nude yang dipakainya.
Rocco bersiul dan kembali menindih tubuh Lavia kemudian menahan tangan Lavia di atas kepalanya.
Kakinya mengunci kaki Lavia yang gaunnya sudah naik sampai ke atas pinggangnya.
__ADS_1
Nafas keduanya sama-sama cepat karena pergulatan sengit yang terjadi di atas ranjang itu.
"Menyerah?" tanya Rocco.
"Aku tetap akan menikah denganmu," ucap Lavia.
"Apa yang kau dapatkan? Kehancuran Sammy dan Becca? Aku akan mencegahmu melakukan hal itu pada mereka," sahut Rocco.
Lavia memandang mata tajam Rocco dan kini mereka saling menatap lekat.
"Lanjutkan apa yang ingin kau lakukan tadi padaku," ucap Lavia yang sudah mulai tenang tapi nada bicaranya cukup menantang.
Rocco melihat netra biru itu dengan tajam dan seakan mencari sesuatu di sana.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Rocco.
"Menikah denganmu," jawab Lavia tersenyum miring.
"Aku tak ingin menikah karena keterpaksaan dan aku akan mencegah hal ini terjadi," kata Rocco.
"Oh ya? Kau pikir orang tuamu akan membatalkan pernikahan ini? Tidak akan mungkin, jika aku tetap bersandiwara dengan cantik," jawab Lavia.
"Kau tak akan bisa lepas dari keluarga Robert jika kau sudah masuk ke dalamnya," sahut Rocco memperingatkan.
"Dengan senang hati aku akan bergabung dengan keluarga Robert untuk selamanya," jawab Lavia tersenyum miring.
Rocco kemudian ikut tersenyum dan ******* bibir seksi yang ada di depannya itu.
Lavia masih mencerna apa yang dilakukan oleh Rocco. Ciuman Rocco yang awalnya cepat dan menggebu akhirnya berubah menjadi lebih pelan dan lembut.
Lavia tak membalas ciuman Rocco dan hanya mencoba menikmatinya saja.
Gaunnya yang sudah tak karuan itu membuat hampir semua tubuhnya terlihat dan bergesekan dengan tubuh Rocco.
Lalu tak lama kemudian, Lavia mulai membalas ciuman Rocco dan menghisap bibir Rocco yang masih terdapat darah di sana akibat gigitan Lavia tadi.
Tubuh Lavia mulai menggeliat di bawah tubuh Rocco dan Rocco menyadari hal itu.
Tangan kanan Rocco merengkuh pinggang Lavia dan tangan kirinya masih memegang kedua tangan Lavia agar tetap tak bergerak.
Kaki Rocco mulai merenggang dan kaki Lavia sedikit terbebas dari himpitan kaki Rocco.
Lavia tak menghentikan ciuman itu tapi justru membuka pahanya dan kakinya melingkar di pinggul Rocco.
TBC ....
Eaaakkk.... apa yang selanjutnya terjadi? Apakah adegan slepetan akan berakhir dengan adegan ehem ehem?..🤣
__ADS_1