
Bab 21 Lav co
Rocco menarik kursi Lavia dan mendekati wajah cantiknya yang tersenyum itu.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dari menikahiku? Hanya karena Sammy?" tanya Rocco.
Mata besar Lavia sama sekali tak berkedip dan menatap lekat netra tajam milik Rocco.
"Keinginanku selalu berubah-ubah dan aku hanya mengikuti alur saja. Asal Sammy tak muncul di depanku, mungkin aku bisa melupakan masalah kami. Tujuanku menikahimu? Karena aku suka ibumu, bukan dirimu," jawab Lavia.
"Jika hanya seperti itu, kau tak perlu menikah denganku. Mommy bisa mengangkatmu sebagai anak," kata Rocco.
"Jika aku menikahimu, banyak yang akan kudapat. Semua yang tak pernah kumiliki akan menjadi milikku," ucap Lavia.
"Aku tak mengerti maksudmu. Kau sudah cukup kaya untuk mencari harta dariku. Apa lagi yang kau cari?" tanya Rocco.
"Sebuah keluarga," jawab Lavia.
Ucapan Lavia itu membuat Rocco terdiam lama dan mereka masih saling memandang.
"Aku iri padamu. Kau memiliki semua yang tak kumiliki dan aku juga ingin memilikinya. Karena kau seorang pria, jadi cukup dengan menikahimu saja, bukan?" lanjut Lavia dan memundurkan kursinya lalu mengerjakan pekerjaannya lagi.
Rocco masih belum tahu bagaimana dia menanggapi hal ini.
TOK TOK TOK ...
Warren masuk dan membawa makanan untuk Rocco.
"ini makan siang anda, Tuan," ucap Warren.
"Hmm, taruh saja di meja," jawab Rocco.
Lavia melihat ke arah Warren yang tampak akan menyajikan makanan itu untuk Rocco.
"Biar aku saja yang menyajikannya, Warren. Keluarlah," ucap Lavia dan berdiri dari tempat duduknya.
"Baik, Nona. Permisi," sahut Warren.
Lavia berjalan menuju meja panjang yang ada di depan sofa.
Dia menyajikan makanan itu dengan rapi agar Rocco lebih mudah memakannya.
Rocco hanya melihat apa yang dilakukan oleh Lavia dan menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Sudah selesai. Makanlah," ucap Lavia tersenyum manis.
Rocco beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kursi sofa.
Lavia masih duduk di sana untuk menemani Rocco makan siang.
"Kau selalu makan siang seperti ini?" tanya Lavia.
__ADS_1
"Hmm," jawab Rocco yang mulai mengambil makanannya.
"Kalau begitu akan kutemani setiap hari. Seharusnya kau bilang padaku tadi," kata Lavia yang masih memandangi Rocco yang sedang menikmati makan siangnya.
"Terserah kau saja," ucap Rocco.
Rocco sebenarnya bukanlah pribadi yang kaku dan dingin. Hanya saja, karena sejak awal curiga pada Lavia, membuatnya sedikit tak nyaman dengan sikap Lavia yang selalu berubah-ubah.
Lavia masih setia menunggu Rocco makan di sebelahnya. Hingga pintu ruangan Rocco terbuka.
CEKLEK ...
Lavia melihat ke arah pintu dan melihat Maryla di sana.
"Ada apa? Ini masih jam makan siang," ucap Lavia yang tak suka dengan kedatangan Maryla.
"Kau juga tak mengetuk pintunya terlebih dulu. Kau hanya pegawai di sini," kata Lavia tajam.
Maryla melihat sinis pada Lavia.
"Ada apa? Aku masih makan siang," ucap Rocco.
"Ada hal yang ingin kubicarakan tentang meeting tadi," jawab Maryla.
"Nanti saja," sahut Rocco.
Maryla tak langsung pergi dan masih berdiri di sana.
Rocco hampir saja tersedak mendengar hal itu.
'Gadis ini benar-benar ...'' batin Rocco.
Maryla kemudian keluar dari ruangan Rocco dengan hati dongkol karena tak bisa mengatakan apa pun pada Lavia di saat ada Rocco di sebelahnya.
"Lanjutkan pekerjaanmu, aku bisa makan sendirian," ucap Rocco.
"Tidak, aku ingin menemanimu sampai selesai. Akan kutunjukkan bahwa aku adalah calon istri yang baik untukmu," jawab Lavia tersenyum.
"Up to you," sahut Rocco dan melanjutkan makan siangnya.
Setelah makan siang Rocco selesai, mereka kembali mengerjakan pekerjaannya masing-masing.
Hingga akhirnya malam menjelang dan Rocco belum selesai mengerjakan tugasnya.
"Apakah masih lama?" tanya Lavia.
"Pulanglah dulu karena kau akan bosan menunggu," jawab Rocco tanpa melihat ke arah Lavia.
Lalu Lavia menuju sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.
"Aku tidur sebentar. Nanti bangunkan saja jika kau sudah selesai," ucap Lavia.
__ADS_1
Rocco melihat ke arah wanita cantik itu yang kini tampak membuka sepatu high heels-nya dan menaikkan kakinya ke atas kursi sofa.
"Aaahhh ... Ini nyaman sekali," ucap Lavia.
"Kau tidak ke club lagi, Honey?" tanya Lavia.
"Tidak," jawab Rocco yang sudah tak mempermasalahkan panggilan "Honey" itu.
"Aku suka ke club dulu ketika masih di Australia. Aku memiliki banyak teman. Bukan teman yang menerimaku apa adanya, karena aku yang membutuhkan mereka. Aku takut sendirian sebenarnya dan tak suka jika dalam suasana sepi," ucap Lavia dalam keheningan ruanagan Rocco itu.
Rocco hanya mendengarkan saja sembari mengerjakan pekerjaannya.
"Aku sangat pintar menjadi siapa pun yang diinginkan oleh orang-orang yang ada disekitarku. Mungkin jika aku ikut audisi pemain film, aku bisa saja terpilih," lanjut Lavia tertawa pelan.
"Jadilah dirimu sendiri," sahut Rocco.
"Tidak, diriku yang sebenarnya sangat lah menakutkan," jawab Lavia.
"Dan aku menunjukkan itu pada Becca. Aku menyekapnya di sebuah gudang kosong yang ada di tengah hutan setelah aku menyiksanya. Kuharap dia mati setelah itu, tapi sayang Paman Fred membebaskannya," ucap Lavia dengan santainya.
Rocco akhirnya melihat ke arah Lavia yang tampak masih berebah di sofa.
"Kau sadar dengan apa yang kau lakukan itu, Lavia?" tanya Rocco.
"Ya, sangat sadar. Aku melakukannya dengan sangat sadar. Dia mengataiku gila seperti ibuku dan itu membuatku kehilangan kendali hingga aku memukuli tubuhnya. Sammy bilang kakinya hampir saja lumpuh. Sayang sekali, seharusnya dia benar-benar kubuat lumpuh saja kemarin," jawab Lavia.
"Aku sudah berusaha menahan emosiku dengan bicara baik-baik padanya. Tapi dia justru mengataiku yang tidak-tidak. Jadi itu bukan salahku. Itu adalah salahnya sendiri," kata Lavia yang kemudian melihat ke arah Rocco.
"Menurutmu aku mengerikan?" tanya Lavia.
"Selama ini kau sudah mencoba ke psikiater?" tanya Rocco.
Wajah Lavia berubah mendengar ucapan Rocco.
"Kau pikir aku gila? Yang kulakukan ini masih dalam batas wajar karena Becca sudah menyakitiku," jawab Lavia yang langsung duduk.
"Tidak, itu tak wajar jika ini hanya karena masalah itu. Ada yang salah denganmu, Lavia," ucap Rocco.
Lavia mengerutkan keningnya dan tertawa pelan.
"Aku tak pernah salah dan aku sudah melakukan yang aku anggap benar meskipun itu harus menyakiti seseorang secara fisik. Karena sakit fisik tak ada apa-apa nya dibanding sakit batin yang pernah kurasakan," jawab Lavia yang kemudian beranjak berdiri.
Lavia mengambil tasnya yang ada di meja lalu menuju pintu.
"Kau mau ke mana?" tanya Rocco.
"Makan malam lalu bersenang-senang di club," sahut Lavia.
"Kau tak boleh ke club," ucap Rocco.
Lavia tak mendengarkan ucapan Rocco dan tetap keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Rocco beranjak berdiri dan menyusul Lavia.