
LAVCO 41
"Aku suka menyiksamu," ucap Lavia tersenyum dan mengecup bibir Rocco.
TING TONG
TING TONG
TING TONG
Bunyi bel apartemen aama sekali tak berhenti hingga membuat Rocco mengumpat kesal.
"Bukalah," kata Lavia.
Lalu Rocco terpaksa beranjak dari tubuh Lavia dan berjalan menuju pintu utama apartemennya.
"Mungkin itu Maryla, Honey!!" teriak Lavia dari dalam kamar.
Rocco membuka pintu apartemennya dan benar ada Maryla di depan pintunya sambil membawa tas karton yang dibuang oleh Lavia tadi.
"Aku ingin mengembalikan ini padamu. Aku sudah menitipkannya pada Lavia tapi dia membuang jas mu di tempat sampah tadi," kata Maryla sebelum Rocco mengatakan sesuatu padanya.
"Terima kasih," jawab Rocco mengambil tas itu dan menutup pintunya tapi Maryla menahannya.
"Kau tak menyuruhku masuk?" tanya Maryla.
"Tidak," jawab Rocco.
"Kau meminta imbalan untuk ini," tanya Rocco.
__ADS_1
"Ya, hanya secangkir kopi saja," jawab Maryla tersenyum.
Lavia muncul dari balik punggung Rocco.
"Kau masih belum bisa menanganinya, Honey. Akan kutunjukkan caranya," kata Lavia yang kemudian mendorong kembali tubuh Maryla hingga tersungkur di depan pintu lalu menutup pintu apartemen itu dengan cepat serta menguncinya.
Lavia berbalik melihat ke arah Rocco.
"Semudah itu, Baby," kata Lavia dengan senyum lebarnya.
Terdengar suara jeritan Maryla dan juga umpatannya dari luar pintu.
"Oke," sahut Rocco yang tak terlalu kaget dengan tindakan Lavia karena hampir semua wanita di keluarga Robert memiliki tingkat bar bar yang lumayan tinggi.
*
*
Setelah makan malam mereka berada di satu selimut yang sama di atas sofa melingkar yang lumayan lebar itu.
Televisi menyala dengan adegan film thriller di dalamnya.
Popcorn caramel yang dibuat oleh Lavia tadi tampak hampir habis dan Rocco memegang mangkok popcorn itu.
Lavia yang matanya mulai berat, akhirnya menutupnya karena sudah tak kuat lagi menahan kantuknya.
Lavia menyandarkan kepalanya di lengan Rocco dan mencari kehangatan di tubuh pria tampan itu dengan memeluknnya.
Rocco menghabiskan popcornnya dan menaruh mangkuk yang telah kosong itu di meja tanpa mengubah posisi tidurnya agar Lavia tak terbangun.
__ADS_1
Rocco masih menonton film itu dan tangannya mengusap lembut kepala Lavia.
Setengah jam kemudian, Lavia kembali mengigau dan hampir kehabisan nafasnya jika Rocco tak membangunkannya.
"Are you okey?" tanya Rocco mencium kening Lavia yang sudah berkeringat.
Lavia beranjak duduk dan mengatur nafasnya yang turun naik akibat mimpinya tadi.
"Aku tak bisa menghilangkan kebiasaanku ini," ucap Lavia lirih sembari memegang kepalanya.
"Apa kau butuh psikolog?" tanya Rocco yang ikut duduk dan menangkup rahang Lavia.
"Tidak, aku masih bisa mengatasinya meskipun itu cukup sulit untuk benar benar kuhilangkan," jawab Lavia.
Rocco memeluk Lavia dan kembali menyandar di bantal sofa.
"Tidurlah kembali. Aku akan memelukmu di sini," ucap Rocco.
"Aku tak akan bisa tidur lagi," sahut Lavia.
"Apa kau ingin mandi air hangat?" tanya Rocco.
"Tidak, lebih nyaman dan hangat dalam pelukanmu saja," jawab Lavia.
Rocco masih memeluk Lavia agar membuat Lavia terasa aman dan nyaman di dalam rengkuhannya.
"Apa perlu kunyanyikan sebuah lagu tidur?" tanya Rocco.
Lavia tertawa pelan dan mendongak melihat wajah Rocco.
__ADS_1
"I love you," ucap Lavia sembari mengecuo dagu berjambang itu.