FROM ROOMMATE TO SOULMATE

FROM ROOMMATE TO SOULMATE
Bab 9


__ADS_3

Bab 9


"Untuk apa kau berbohong padaku? Jika kau ingin bersenang-senang seharusnya kau tinggal bilang padaku saja," kata Rocco dengan tenang.


"Aku hanya tak ingin merepotkanmu karena aku hanya orang asing yang baru kau kenal," jawab Lavia.


Rocco tertawa pelan.


Mereka sebenarnya sama-sama tahu siapa jati diri mereka tapi merek sama-sama tetap bersikap formal dan seakan tak tahu apa pun.


"Aku akan ambil barang belanjaanku dulu di hotel," ucap Lavia.


"Hmm, baiklah," jawab Rocco.


Lalu Lavia menyebutkan di mana hotel itu pada Rocco yang sebenarnya Rocco sudah tahu hal itu.


"Tunggu sebentar," ucap Lavia.


"Aku akan menemanimu," jawab Rocco dan keluar dari mobil.


"Tak perlu, aku bisa mengambil sendir," sahut Lavia.


Rocco tak menjawab dan menggandeng tangan Lavia.


Lavia melihat tangan Rocco yang menggandengnya dan akhirnya ikut melangkah di samping Rocco.


"Kita akan masuk ke dalam kamar hotel, itu akan membuat gosip yang macam-macam tentangmu nanti," ucap Lavia.


"Kita tak melakukan apa pun jadi tak perlu ditanggapi hal-hal negatif seperti itu. Lagi pula aku tak terlalu peduli dengan hal-hal semacam itu. Terserah mereka mau berpikir apa," jawab Rocco santai.


TING


Pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalamnya. Tak ada siapa pun di sana dan hanya ada mereka berdua.


Lavia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rocco.


Karena udara dingin, membuat Lavia melipat kedua tangannya di depan dada.


Rocco membuka coatnya dan memakaikannya pada Lavia.


Lavia mendongak ke arah Rocco.


"Terima kasih," ucap Lavia.


Rocco hanya tersenyum dan kemudian pintu lift terbuka.


Mereka berdua melangkah bersama keluar dari lift dan menuju ke arah kamar Lavia.


"Rocco!!" panggil seorang wanita pada Rocco.


Rocco dan Lavia kompak menoleh ke arah suara yang memanggil Rocco.


Rocco tak menjawab apa pun dan hanya melihat wanita itu saja.


"Ada apa kau kemari?" tanya wanita itu mendekat.

__ADS_1


Wanita cantik dengan riasan yang agak tebal itu mendekati Rocco sembari melihat sinis ke arah Lavia.


"Itu bukan urusanmu, Loren. Permisi," ucap Rocco dan berbalik lalu menggandeng tangan Lavia.


"Kau sekarang memakai pelacur, Rocco?" tanya wanita itu ketus dan seakan merendahkan Lavia.


Rocco berbalik dan tersenyum smirk.


PLAK!!


Rocco yang tadinya ingin mengatakan sesuatu, cukup terkejut ketika Lavia menampar keras pipi Loren.


"Apa yang kau lakukan??!!" teriak Loren kesal dan mengangkat tangannya ingin membalas Lavia tapi Rocco menahan tangan Loren agar tak sampai menyentuh Lavia.


Lalu Lavia menginjak kaki Loren dan membuat wanita itu teriak kembali.


"Ooouucch!!" teriak Loren lagi.


"BIITTCHH!!" umpat Loren dan sekali lagi Lavia menjambak rambut Loren yang terikat model ekor kuda.


Hal itu membuat rambut Loren menjadi acak-acakan dan kembali berteriak.


"Lavia, hentikan," perintah Rocco dan menarik tangan Lavia menuju ke kamar.


"Aaaaahh ... Akan kubalas kau nanti!!" teriak Loren dan Lavia hanya menanggapinya dengan mengacungkan jari tengahnya.


Rocco hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap brutal Lavia itu.


Lavia membuka pintu kamar dan mereka masuk ke dalamnya.


'Kau cukup membingungkan, Lavia,' batin Rocco.


"Hmm, tak masalah. Lagi pula ini bukan salahmu," jawab Rocco.


"Dia mantan pacarmu?" tanya Lavia sembari mengambil jaketnya sendiri dan memakainya.


"Ya," jawab Rocco jujur.


"Kau sering dikelilingi wanita sepertinya. Cukup wajah karena kau tampan dan kaya," ucap Lavia.


Rocco mengambil tas-tas belanjaan Lavia dan membantunya membawa tas itu.


"Tak ada laporan tagihan belanjamu. Kukira kau tak jadi belanja hari ini," kata Rocco.


"Aku menggunakan uang warisan dari ibuku. Uang terakhir yang kupunya. Setidaknya nanti aku akan mendapatkan gantinya setelah aku bekerja di perusahaanmu," jawab Lavia.


'Wait, dia pikir aku sebodoh itu?' batin Rocco.


'Ya, aku tahu kau tak bodoh dan tahu bahwa barang-barang ini sangat mahal, jadi tak mungkin aku membelinya jika aku hanya gadis miskin yang mendapatkan warisan. Aku nyaman dengan hal ini, jadi kita lanjutkan saja permainan ini. Aku pura-pura tak tahu bahwa kau tahu segalanya tentangku, Rocco,' batin Lavia yang seakan tahu isi kepala Rocco.


Lalu mereka keluar dari kamar hotel itu dan Loren ternyata masih ada di sana dan menunggunya.


Lavia menatap tajam ke arah Loren dan siap bertarung jika wanita itu menyerangnya.


Rocco menggandeng tangan Lavia agar tak terjadi perkelahian di antara dua wanita itu.

__ADS_1


"Jangan sekalipun kau berani mencacinya atau pun menyentuhnya. Kau sangat mengenalku, Loren," ancam Rocco ketika melewati Loren.


Loren menggeram marah dan Lavia tampak tersenyum mengejek pada Loren di balik punggung Rocco ketika mereka melewatinya lalu sekali lagi Lavia mengancungkan jari tengahnya meskipun tangannya memegang tas belanjaan.


"Aku tak akan melepaskanmu, Gadis brengsek," bisik Loren.


"I can hear yoouuuu ..." sahut Lavia sembari mengerlingkan matanya.


Rocco melihat ke arah Lavia dan memberi tanda jangan memperpanjang masalah sepele ini.


Lalu mereka berdua masuk ke dalam lift dan Lavia tertawa.


"Wajahnya sangat lucu sekali," gumam Lavia.


"Terkadang aku bingung dengan sifat dan karakter aslimu," ucap Rocco memandang Lavia dengan cermat.


"Tebaklah," sahut Lavia tersenyum.


Lalu Rocco mendekati Lavia dan menatap lekat mata birunya.


Tak ada kata, Rocco hanya melihat mata biru yang tampak bening seperti lautan.


Lavia mengerjapkan mata besarnya itu dan tersenyum.


"Hati-hati. Jika terlalu lama memandang mataku, bisa membuatmu terjatuh ke dalamnya," bisik Lavia.


Rocco tersenyum dan wajahnya semakin dekat dengan wanita cantik itu.


TING ...


Pintu lift terbuka dan Lavia memundurkan langkahnya lalu keluar dari lift itu.


Rocco berjalan di belakangnya dan mereka menuju di mana mobil Rocco diparkir.


Tak ada obrolan lagi di antara mereka sampai mereka tiba di apartemen Rocco.


Ketika sampai di lorong apartemen Rocco, Lavia melihat sosok yang dicarinya selama ini.


Ya, dia melihat Sammy menunggu di depan apartemen Rocco dan Rocco juga melihat hal itu.


Sammy yang melihat kedatangan Lavia langsung menghampirinya dan mencekiknya.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA BECCA??!!" teriak Sammy dan Rocco memegang tangan Sammy yang memegang erat leher Lavia.


"SAMMY, HENTIKAN!!" teriak Rocco.


"Kau marah, Sammy? Aku hampir berhasil membunuhnya tapi ternyata dia selamat," ucap Lavia sengaja memancing emosi Sammy.


Rocco melepaskan tangan Sammy dan Sammy mendekati Lavia lagi untuk memukul wajahnya.


"Dia mau membunuhku, Rocco. Dia dan Becca sudah membunuh kakkekku dan kini ingin membunuhku juga. Kau berteman dengan pria bejat ini?" kata Lavia sengaja menantang Sammy.


Rocco berada di depan Lavia dan mencegah Sammy yang akan melakukan kekerasan pada Lavia.


"Jangan mempercayai kata-katanya, Rocco. Itulah sebabnya dia dibuang dari keluarga kami. Itu karena dia adalah iblis. Dia dan ibunya seperti iblis," sahut Sammy.

__ADS_1


__ADS_2