FROM ROOMMATE TO SOULMATE

FROM ROOMMATE TO SOULMATE
Bab 44


__ADS_3

Lavco 44


"Tidak. Makan malam sudah siap," jawab Lavia.


"Kau yakin tak ingin bergabung?" tanya Rocco.


"Tidak, cepatlah keluar dari sana atau aku akan makan malam sendiri," jawab Lavia.


"Oke," sahut Rocco akhirnya dan pria itu langsung berdiri di depan Lavia.


"Ssshhh ... Kauuu ..." ucap Lavia yang melihat milik Rocco terpampang jelas di depannya.


Rocco tertawa kecil dan Lavia segera pergi dari kamar mandi.


"Cepatlah!!" Teriak Lavia dari luar dan langsung keluar kamar menuju ruang makan.


Lavia menggelengkan kepalanya berulang ulang karena yang dilihatnya tadi benar benar menguasai otaknya kini.


Otaknya serasa penuh dengan pikiran pikiran mesum bersama Rocco akibat hal tadi.


"Dasar menyebalkan," gumam Lavia berbisik dan duduk di kursi.


Sepuluh menit kemudian Rocco keluar dari kamarnya dan duduk di depan Lavia.


"Bibi sudah pulang?" tanya Rocco.


"Ya," jawab Lavia dan mengambil makanannya.


"Kau tak mengambilkan untukku juga?" tanya Rocco.


Lavia melihat ke arah Rocco.

__ADS_1


"Baik, Tuan," jawab Lavia.


Rocco tersenyum dan menunggu makanannya disiapkan oleh Lavia.


Setelah itu, mereka berdua makan malam bersama.


Entah mengapa rambut Rocco yang basah terlihat menggoda karena membuat lehernya sedikit basah juga.


"Ada apa?" tanya Rocco yang melihat Lavia melihat ke arahnya.


"Tidak apa apa. Apakah aku tak boleh melihatmu?" sahut Lavia.


Rocco tersenyum smirk dan membuat wajah tampannya semakin menggoda.


"Kapan kita menikah?" tanya Lavia.


"Minggu depan," jawab Rocco.


Rocco meletakkan pisau dan garpunya lalu melihat ke arah Lavia.


"Tidak. Bahkan setelah ini aku menciummu sepuasanya di atas ranjangku," jawab Rocco.


"Tidak, Rocco. Kita tak boleh melakukan hal itu. Aku ingin malam pertama kita sangat spesial," sahut Lavia.


"Aku tak bisa berpisah darimu," jawab Rocco yang tak setuju dengan usul Lavia itu.


"Kau harus setuju," kata Lavia.


"Tidak," jawab Rocco.


"Harus," kata Lavia lagi.

__ADS_1


"Tidak. Sekali tidak tetap tidak. Kau tak bisa mengancamku apa pun karena aku tak akan berpisah darimu sampai kita menikah. Never ever," jawab Rocco dengan tegas dan jelas.


"Kau keras kepala sekali," sahut Lavia yang kemudian menyelesaikan makan malamnya.


"Ya, aku tak mau terjadi sesuatu padamu ketika kita berpisah," kata Rocco.


"Aku akan tinggal bersama aunty," kata Lavia.


"Tetap tidak," jawab Rocco.


"Ck, dasar pria menyebalkan," kata Lavia sambil mengunyah buah apel yang sudah terpotong potong di atas meja.


Rocco meminum airnya dan kemudian beranjak berdiri dari kursinya.


Pria itu menghampiri Lavia dan mengangkat tubuh rampingnya.


"Kau mau menciumku sepuasnya di ranjang?" tanya Lavia yang membuat Rocco tertawa.


"Tidak, kita duduk di sofa," jawab Rocco sembari mengecup puncak kepala Lavia.


"I love you, Mister," ucap Lavia mengecupi bibir menggoda itu.


"I love you too," jawab Rocco dan mereka pun duduk di sofa.


Lalu Lavia duduk di sebelah Rocco dan memeluk dadanya yang sangat nyaman.


"I love you," ucap Lavia lagi dan dengan gemas menciumi leher Rocco.


"Kau yang memulainya," kata Rocco dan mengangkat Lavia kembali ke atas pahanya lalu mencium bibirnya sembari memeluknya dengan erat.


Lavia tertawa kecil di dalam tautan bibir mereka.

__ADS_1


"Kau benar, aku tak akan bisa berpisah darimu selama seminggu," kata Lavia dan kembali memagut bibir Rocco yang sudah sangat tak sabar menciumnya.


__ADS_2