
Bab 20 Lavco
Lavia berjalan bersama Reese dan memanggil teman-teman Reese yang ada di ruangannya.
"Hai," sapa Lavia ramah pada teman Reese.
"Oh my God ... N-non Lavia? Kau menyapaku?" sahut wanita muda itu.
"Hei, apa ada yang salah jika aku menyapamu?" tanya Lavia.
"T-tidak, aku merasa istimewa karena kau menyapaku terlebih dulu," jawab wanita itu malu-malu.
Lavia tertawa mendengar hal itu.
"Kau lucu sekali. Aku tak semenakutkan itu," sahut Lavia tersenyum.
Sikapnya yang ramah dan supel membuatnya cepat akrab dengan teman-teman Reese serta beberapa pegawai lainnya.
Maryla melihat dari jauh interaksi Lavia dan para pegawai perusahaan. Wajahnya memandang sinis pada Lavia yang kini akan selalu berada di sisi Rocco.
Kabar pernikahan itu sungguh membuat Maryla ingin merencanakan sesuatu yang jahat agar pernikahan itu batal dan tak pernah terjadi.
*
"Pilihlah makanan yang kalian mau karena hari ini acara penyambutanku. Mohon bimbingan kalian para senior," ucap Lavia menunduk hormat pada para pegawai Rocco.
"Ya Tuhan, apa yang nona lakukan? Jangan melakukan hal itu. Kami yang harus menunduk hormat pada anda," ucap salah satu pegawai.
"Aku adalah pegawai baru di perusahaan jadi tentu saja kalian adalah seniorku, bukan?" sahut Lavia yang kemudian mempersilahkan mereka semua memesan makanan.
Di restoran yang tampak penuh itu, beberapa pegawai dari perusahaan lain tampak melihat ke arah Lavia yang merupakan pelanggan bari di restoran itu.
Pakaian dan penampilan yang pastinya berbeda dengan pegawai yang lainnya, membuat Lavia lumayan menjadi pusat perhatian.
"Siapa dia?" ucap seorang pria yang duduk di seberang meja pada teman di sebelahnya.
"Pegawai baru di perusahaan Robert sepertinya," jawab temannya.
"Sepertinya dia berasal dari keluarga kaya. Apakah aku perlu mendekatinya?" tanya pria itu lagi.
Beberapa teman pria itu hanya tertawa pelan mendengar ucapan teman playboynya itu.
*
Lavia menikmati makan siang itu. Dia mendapat teman-teman baru.
Ya, meskipun dia tahu bahwa mungkin mereka memperlakukan Lavia dengan baik karena Lavia adalah calon istri sang bos.
Setelah membayar semua bill-nya, Lavia pun pergi dari restoran itu bersama Reese dan yang lainnya.
"Terima kasih sudah mentraktir kami makan siang, Nona," kata Reese.
"You're welcome," sahut Lavia sambi berjalan menuju jalan raya untuk menyeberang.
__ADS_1
"Hei, Nona," panggil seseorang pada rombongan Lavia.
Lavia tak menoleh karena dia merasa tak mengenal suara itu.
"Hei, Nona yang memakai baju putih," ucap pria itu lagi.
Ucapan pria itu membuat Lavia menoleh dan melihat ke arah pria itu.
Begitu juga dengan Reese dan teman lainnya.
"Ada apa?" tanya Lavia pada pria yang lumayan tampan tapi terlihat sangat playboy.
"Aku bekerja di perusahaan itu," ucap pria itu menunjuk perusahaan yang ada di sebelah restoran tadi.
"Lalu?" tanya Lavia.
"Kau pasti pegawai baru di perusahaan Robert karena aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Boleh aku berkenalan denganmu?" tanya pria itu.
"Tidak, tunanganku pasti tak suka jika aku berkenalan dengan lelaki lain," jawab Lavia datar," jawab Lavia.
"Kita hanya berkenalan dan itu bukan berarti aku menyukaimu. Aku suka berteman dengan banyak orang baru," sahut pria itu dengan sombongnya karena tak mau merasakan malu.
Lavia mengerutkan keningnya dan menoleh pada Reese.
"Kau mengenalnya, Reese?" tanya Lavia
Reese menggeleng.
"See? Temanku bahkan tak mengenalmu. Jika kau suka berteman, seharusnya kau mengenal temanku," ucap Lavia.
"Dia seorang playboy, Nona," bisik teman Reese yang ada di sebelah Lavia.
"Benarkah?" tanya Lavia.
"Ya, dia cukup terkenal di kalangan pegawai wanita karena suka merayu pegawai wanita dari banyak perusahaan. Setelah berhasil mendapatkannya, dia hanya mengambil uangnya saja lalu meninggalkannya," jawabnya dengan masih berbisik.
"Menjijikkan, kurasa dia bukan pria. Hanya seonggok parasit yang suka merugikan orang lain," sahut Lavia dengan suara yang tak dipelankan.
Dan tentu saja hal itu didengar oleh pria itu.
Pria itu tampak kesal melihat penolakan dari Lavia yang menurutnya merendahkan harga dirinya karena selama ini tak ada wanita yang pernah menolaknya.
Pria itu langsung menarik tangan Lavia, tapi Lavia justru membanting pria itu dengan menarik kembali tangannya.
Pria itu terbanting ke atas lantai trotoar yang keras dan merintih kesakitan. Hal itu membuat para pegawai lainnya berteriak ketika melihat insiden itu.
"Berani sekali kau menyentuh tanganku dengan tangan kotormu," ucap Lavia sembari membenarkan pakaiannya.
"Kauuu ...," sahut pria itu.
Tak lama kemudian ada beberapa petugas security dari seberang jalan yang datang ke arah Lavia.
"Ada apa, Nona?" tanya petugas itu yang tahu siapa Lavia.
__ADS_1
"Amankan dia dan bawa ke kantor polisi. Dia melakukan pelecehan padaku," jawab Lavia.
"Kau tak apa-apa, Nona?" tanya Reese memegang tangan Lavia.
"Tenanglah, aku tak apa-apa. Kupastikan tangannya patah karena berani memegang tanganku," sahut Lavia.
Semua pegawai tampak speechless melihat apa yang dilakukan oleh Lavia.
"Jika seperti ini kupastikan Maryla tak akan berani lagi mendekati Tuan Rocco," celetuk salah satu pegawai yang bernama Vero.
Lavia melihat ke arah Vero dan seketika Vero menutup mulutnya.
"Aku tahu tentan wanita itu. Santai saja," sahut Lavia tersenyum.
"Ayo kita kembali, nanti bos kalian akan mengomel jika kita terlalu lama di sini," lanjut Lavia.
Lalu Lavia dan para pegawai itu menuju ke arah perusahaan Robert.
Lavia mengucapkan terima kasih pada pegawai yang ikut mengajaknya makan siang tadi dan dia pun kembali ke ruangan Rocco.
CEKLEK ...
Lavia melihat mata Rocco sudah memandang tajam ke arah Lavia.
"Baru sehari bekerja kau sudah membuat heboh perusahaan ini, Lavia," ucap Rocco sedikit dingin.
"Ah, pertunjukan tadi? Dia yang memulainya. Jangan salahkan wajah cantikku ini," jawab Lavia cuek.
"Cepat sekali gosip menyebar di perusahaan ini. Dan aku mendengar banyak gosip tentangmu dan Maryla juga," kata Lavia menuju ke arah tempat duduknya dan kembali mengerjakan tugasnya yang belum selesai.
"Di mana Reese?" tanya Rocco.
"Aku sudah mengerti pekerjaan ini, jadi aku menyuruhnya kembali mengerjakan pekerjaannya sendiri," jawab Lavia dan langsung mengerjakan pekerjaannya tanpa melihat ke arah Rocco.
Rocco masih melihat ke arah Lavia.
"Kau sudah makan siang, Honey?" tanya Lavia.
"Belum," jawab Rocco.
Lavia melihat ke arah Rocco.
"Mau kuambilkan?" tanya Lavia.
"Tidak, aku sudah memesan makanan pada asistenku," jawab Rocco.
"Seharusnya kau ikut denganku tadi," jawab Lavia tersenyum.
Kepribadian Lavia yang berubah-ubah kadang membingungkan Rocco.
"Yang mana sebenarnya sifat aslimu, Lavia? Sampai sekarang aku tak mengerti dirimu," ucap Rocco.
Lavia melihat Rocco dengan pandangan yang cukup intens.
__ADS_1
"Tergantung keadaaan dan tergantung kau menginginkan aku yang seperti apa. Aku bisa menjadi seperti yang kau mau," jawab Lavia tersenyum kembali.