FROM ROOMMATE TO SOULMATE

FROM ROOMMATE TO SOULMATE
Bab 17


__ADS_3

Bab 17


Rocco memandang tajam ke arah Lavia yang masih santai mengunyah makanannya.


"Ini bukan permainan, Lavia. Pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa kau anggap mainan semata," ucap Rocco serius.


"Aku menikah denganmu dengan serius dan tak main main. Begini, kau adalah pria mapan, tampan dan tanpa cela kurasa. Siapa yang tak mau menikah denganmu? Munafik jika aku sampai menolakmu. Kesempatan ini tak akan datang dua kali. Sampai sekarang aku masih heran mengapa ibumu begitu ingin kita menikah. Tanyakan itu pada ibumu. Mungkin di matanya aku memiliki nilai lebih yang cocok denganmu," ucap Lavia tersenyum manis.


"Kau menganggapku seperti barang mainan, Lavia," ucap Rocco.


Lavia menyelesaikan makannya dan meminum segelas air sampai habis.


"No, aku tak menganggap kau mainan," jawab Lavia dan tangannya mengambil buah jeruk yang sudah dikupasnya tadi.


Lavia mengunyah buah jeruk itu sampai habis dan mereka masih saling memandang dalam diam.


Wajah Lavia tersenyum miring berbanding terbalik dengan wajah Rocco yang sangat dingin.


TING TONG ...


Nuansa hening itu buyar ketika ada bunyi bel di pintu apartemen.


"Bukalah, aku akan membereskan piring ini, Baby," ucap Lavia dengan senyum manisnya.


Rocco beranjak dari kursinya dan menuju ke arah pintu.


CEKLEK ...


Velvet terlihat berdiri di depan pintu apartemen.


"Kau mengganti nomer pin pintumu, Rocco?" ucap Velvet yang kemudian masuk ke dalam apartemen sang putra.


"Di mana calon menantuku?" tanya Velvet.


"I'm in here, Aunty!" teriak Lavia dari arah dapur.


Velvet tersenyum dan menuju ke arah dapur.


"Kalian baru makan malam?" tanya Velvet.


"Ya. Aunty sudah makan malam?" tanya Lavia.


"Sudah. Rocco, bantu Lavia," ucap Velvet.


Rocco yang akan masuk ke dalam kamarnya akhirnya mengurungkan hal itu.


Rocco berjalan ke arah dapur dan membantu Lavia membersihkan bekas makan malam mereka.


Velvet membuat minuman sendiri dan duduk di area meja makan.


"Kalian sangat serasi," ucap Velvet ketika melihat Lavia dan Rocco berada di depan wastafel dapur sembari memasukkan peralatan makan yang kotor ke dalam mesin cuci piring.


"Terima kasih, Aunty," jawab Lavia yang kemudian menoleh ke arah Velvet dan tersenyum pada calon mertuanya.


Sedangkan Rocco tak mengatakan apa pun dan segera menyelesaikan tugasnya. Kemudian pria itu berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Velvet melihat sikap Rocco yang terlihat masih kesal padanya. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum melihat hal itu.


"Dia masih marah," kata Velvet.


"Ya," jawab Lavia tertawa pelan.


"Kemarilah," ucap Velvet.


Lavia kemudian duduk di depan Velvet. Velvet memegang tangannya dan mengusap punggung tangannya.


"Apakah kau yakin dengan pernikahan ini, Lavia? Aunty hanya bertanya padamu tentang hal ini karena perasaanmu lah yang paling utama," kata Velvet.


Lavia mengangguk dan tersenyum.


"Kau tak akan bisa bermain-main dalam pernikahan ini. Bisakah kau nanti mencintai putraku dengan tulus?" tanya Velvet.


Lavia terdiam sebentar hingga akhirnya mengangguk.


"Cintai dia sepenuh hati. Dia putra kesayanganku yang tak akan kuserahkan pada wanita sembarangan. Itu lah mengapa aku memilihmu," kata Velvet.


Ucapan Velvet membuat Lavia diam. Dia tak tahu apa yang sebenarnya melatar belakangi Velvet seperti menjebak Rocco dalam pernikahan ini.


"Aku akan mengatakannya padamu setelah pernikahan nanti apa yang ada di pikiranmu sekarang," kata Velvet seakan tahu isi kepala Lavia.


"Apakah memang ada alasan tertentu?" tanya Lavia.


Velvet mengangguk dan tersenyum.


"Bisakah mengatakannya sekarang?" tanya Lavia.


Lavia memandang serius pada Velvet.


"Aunty mengenal ibuku?" tanya Lavia.


"Ya, tapi aku akan menceritakan masa lalu kami bersama padamu nanti," jawab Velvet.


"Apakah kalian berteman?" tanya Lavia.


"Pada awalnya kami bermusuhan dan bahkan saling berkelahi," jawab Velvet mengingat masa lalunya dulu.


Lavia tak berkomentar.


"Tak perlu berpikiran macam-macam tentang ibumu. Dia gadis yang cukup baik meskipun sedikit brutal," kata Velvet.


Lavia tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah, aku pulang dulu. Pernikahan kalian akan diadaka besok lusa. Bersiaplah. Beson kita akan pergi ke butik untuk membeli gaun pernikahanmu," kafa Velvet.


"Baiklah, Aunty," jawab Lavia.


Velvet kemudian beranjak berdiri dan Lavia ikut berdiri juga.


Mereka berjalan ke arah pintu. Setelah Velvet berpamitan dan pergi, Lavia langsung menuju ke kamarnya.


Dia mengambil ponselnya dan menelepon Fred.

__ADS_1


"Halo, Paman," ucap Lavia.


"Ada apa, Lavia?" tanya Fred.


"Besok lusa aku akan menikah," jawab Lavia.


"Lalu apa masalahnya? Kau seharusnya senang, bukan?" kata Fred.


"Aunty Velvet -- ibu dari Rocco -- mengenal mommy," ucap Lavia.


"Mungkin saja, karena Alesa berasal dari Amerika," jawab Fred.


"Itu lah salah satu alasan Aunty Velvet menikahkan aku dan Rocco. Karena dia mengenal mommy," sahut Lavia.


"Kau mau aku mengecek latar belakang hubungan mereka?" tanya Fred.


"Hmm," jawab Lavia.


"Dipastikan tak bisa. Data keluarga Robert sangat ditutup rapat, jadi aku tak bisa membantu untuk masalah ini," jawab Fred.


Lavia terdiam.


"Baiklah. Bagaimana Becca?" tanya Lavia.


"Dia membaik," jawab Fred.


"Katakan padanya bahwa bersiaplah untuk menjadi miskin," kata Lavia.


"Jadi ini belum selesai?" tanya Fred.


"Never ever," jawab Lavia.


"Kau melakukan sesuatu yang sia-sia," kata Fred.


"Terserah paman. Aku tak peduli sama sekali," jawab Lavia.


Fred masih diam dan tak menanggapi apa pun. Dia hanya berharap Lavia menyudahi hal ini karena pada dasarnya Becca dan Sammy juga sebagai korban keegoisan orang tua mereka.


Lavia dendam pada orang tuanya dan melampiaskannya pada saudaranya sendiri.


"Mereka sepertimu, Lavia. Kalian sama. Bukan hanya kau yang merasakan sakit hati. Kau mendapatkan kakek sedangkan mereka mendapatkan ayahmu. Paman tak bilang itu adalah hal yang impas. Bahkan kau yang mendapatkan semuanya pada akhirnya. Dan mereka? Mereka sama sekali tak mendapatkan apa pun dibanding dirimu," jawab Fred yang masih ingin semua ini berakhir damai.


"Mengapa paman begitu membela mereka?" tanya Lavia.


"Susan adalah wanita yang baik dan paman sangat mengenalnya. Ini semua berawal dari keegoisan kakek yang menginginkan semuanya berjalan sesuai keinginannya," jawab


Lavia sangat tak suka jika Fred sudah membahas tentang istri kedua ayahnya itu. Lavia langsung menutup sambungan teleponnya dan melemparnya ke atas ranjang.


Lalu wanita mengambil sesuatu dari kopernya. Dia mengeluarkan sebungkus rokok yang sama sekali tak disentuhnya sejak datang ke apartemen ini.


Lavia membuka sedikit jendela balkon dan duduk di atas lantai.


Lalu ia menyalakan rokoknya dan menghisapnya perlahan.


Pikirannya melanglang buana ke masa lalu di mana dirinya begitu takut setiap ibunya mulai menggila dan membanting semua barang yang ada di rumahnya setiap kali sang ayah pergi meninggalkan mereka lagi untuk kembali ke Inggris.

__ADS_1


__ADS_2