FROM ROOMMATE TO SOULMATE

FROM ROOMMATE TO SOULMATE
Bab 40


__ADS_3

Lavco 40


Lavia melingkarkan tangannya di leher Rocco dan memagut bibir Rocco hingga pria itu melepaskan apelnya di meja.


Rocco menarik bokong Lavia sampai akhirnya mendekat ke arah tubuhnya.


Tangan Lavia mengusap punggung Rocco yang terbuka dan kini menyusuri dada bidang itu serta menyentuh pinggangnya.


Rocco yang terpancing, akhirnya memasukkan tangannya ke balik baju Lavia dan menekan punggung Lavia sampai tubuh mereka semakin menempel.


Ciuman itu semakin panas ketika Dress pendek Lavia sudah terbuka setengah hingga pinggangnya.


Lavia melepaskan ciumannnya dan memandang mata pria tampan itu.


"Semalam kau bersama siapa?" tanya Lavia.


"Bersama teman temanku," jawab Rocco yang bibirnya masih berada di depan bibir Lavia.


"Termasuk Maryla? Jika iya, jangan menciumku selama seminggu," kata Lavia mendorong dada Rocco di saat pria itu menginginkan ciuman itu lagi.


Lavia turun dari meja dan berjalan menjauh dari Rocco tapi Rocco menarik tangannya.


"Hei, kau mempermainkanku?" ucap Rocco dengan kerutan di keningnya.

__ADS_1


Lavia diam dan tak menjawab lalu melepaskan tangan Rocco tapi pria itu tetap tak melepaskannya.


"Baiklah, dia ada di club juga semalam tapi kami bersama dengan teman kami yang lainnya dan bukan hanya berdua," kata Rocco menjelaskan.


"Bagaimana jika situasinya begin, aku ke club malam bersama Reese dan teman kami lainnya. Dan di dalam pesta itu ada pria yang amat sangat menyukaiku hingga benar benar ingin bercinta denganku. Apa yang kau lakukan?" tanya Lavia.


"What?? Ini tak seperti itu. Kau tahu bagaimana sikapku pada Maryla, bukan?" sahut Rocco.


"Kau tahu bagaimana cara kakek menjebak ayahku agar meniduri ibuku? Dengan menggunakan obat perangsaang. Ayahku sangat membenci ibuku tapi bagaimana bisa ada aku? Itu karena jebakan dari kakek. Dan kau bisa saja seperti itu bersama Maryla. Jangan meremehkan kelicikannya," jawab Lavia.


"Aku tak akan semudah itu dijebak," kata Rocco.


"Bullshiitt!!" Sahut Lavia lalu Lavia melepaskan tangan Rocco dan berjalan ke kamarnya.


"Kau pikir aku akan bisa tahan tak menciummu?" ucap Rocco dan merebahkan tubuh Lavia di atas ranjang.


Rocco mengangkat tangan Lavia ke atas hingga bisa leluasa mencium bibir merah itu.


"Aku janji tak akan melakukannya lagi. Jika ada Maryla aku akan langsung pergi dari tempat itu kecuali di perusahaan," kata Rocco.


"Bisakah kau memecatnya? Atau pindah dia ke divisi lain yang tak berhubungan denganmu," kata Lavia.


Rocco kembali memandang mata biru itu dan mengusap bibir penuh itu dengan bibirnya.

__ADS_1


"Oke," jawab Rocco akhirnya.


Senyum tipis itu terbit di ujung bibir Lavia.


"Thank you," sahut Lavia dan kembali mencium bibir Rocco.


Rocco tersenyum dan memeluk tubuh Lavia. Mereka menikmati ciuman itu hingga alarm di kepala Lavia berbunyi.


"Stop ... Kau tak boleh melakukannya lebih dari ini," ucap Lavia.


"Aku pria dewasa dan membutuhkan hal ini," sahut Rocco menciumi leher Lavia.


"Kau harus menikahiku dulu," jawab Lavia.


"Kita bisa melakukannya lebih awal karena aku pasti akan menikahimu," sahut Rocco.


"Aunty yang menyuruhku agar menghindari hal seperti ini sebelum menikah jadi aku harus nenurut padanya," jawab Lavia menahan kepala Rocco agar berhenti menyesap leher nya.


"I can't ... Please, lakukan sekarang karena kau sudah memancingku tadi," kata Rocco memohon dengan manja.


"Apa kau begitu tersiksa?" tanya Lavia tertawa pelan.


"Sangat," jawab Rocco jujur.

__ADS_1


__ADS_2