FROM ROOMMATE TO SOULMATE

FROM ROOMMATE TO SOULMATE
Bab 42


__ADS_3

LavCo 42


Siang itu, Rocco cukup sibuk di perusahaan. Tapi dia menyempatkan dirinya untuk menelepon sang mommy karena ingin mengatakan sesuatu yang penting.


"Aku akan menikahinya," ucap Rocco.


"Kau serius?" tanya Velvet.


"Ya, kami saling mencintai," jawab Rocco serius.


"Baiklah, kau ingin menikah kapan? Mommy akan menyiapkannya," ucap Velvet.


"Secepatnya, Mom," sahut Rocco.


"Kalian sudah bercinta?" tanya Velvet dengan curiga.


"Belum dan itu membuatku pusing setiap malam ketika melihatnya," sahut Rocco jujur,


"Ck, kau sama saja dengan daddy," jawab Velvet.


"Apakah aku bisa melakukannya sebelum menikah, Mom? Karena Lavia tak melakukan hal itu karena mommy yang memerintahkannya," kata Rocco.


"Stop, Rocco!! Lakukan itu ketika kalian sudah menikah, oke? Dalam minggu ini kalian akan menikah. Daddy akan mengurus semuanya," jawab Velvet dan menutup sambungan teleponnya.


Lalu Rocco menaruh ponselnya di atas mejanya. Rocco merogoh kantong jas nya dan membuka kotak kecil berwarna pink itu.


Rocco melihat cincin berlian yang sudah dipesannya kemarin dari seorang teman yang memiliki toko perhiasan ternama.


Kemudian Rocco memasukkan kotak itu lagi ke kantong jas nya dan kembali mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


*


*


Maryla menggeretakkan giginya ketika kepala HRD memberitahunya bahwa dia akan dipindahkan ke divisi lain. Dan itu artinya dia akan jarang bertemu dengan Rocco lagi.


Hal itu membuatnya sangat kesal pada Lavia yang pasti sengaja melakukan hal itu.


"Aku tak akan melepaskanmu, Lavia," geramnya.


Dan kebetulan sekali Lavia berpapasan dengan Maryla ketika dirinya akan pergi makan siang di cafetaria perusahaan.


Maryla melihat Lavia dengan tajam dan Lavia pun membalasnya dengan senyuman smirk-nya.


Lalu Lavia berhenti di samping Maryla.


Maryla ingin sekali memukul Lavia tapi dia sadar bahwa dirinya masih ada di dalam perusahaan.


Maryla akan mencari cara untuk bisa kembali ke posisiya semula dan membalas perbuatan Lavia padany.


"Sepertinya dia memikirkan sesuatu yang jahat, Lavia," bisik Reese pada Lavia.


"Aku tak takut sama sekali karena ketika dia menembakkan satu peluru padaku maka aku akan membalasnya dengan menembakkan tiga peluru padanya," jawab Lavia tersenyum.


"Kau tetap harus hati hati, Lavia," sahut Reese.


"Ya, aku selalu waspada pada orang orang yang akan menyerangku," ucap Lavia.


*

__ADS_1


*


Sore hari menjelang malam, Rocco sudah duduk di lobby menunggu Lavia turun dari ruangannya.


Sementara menunggu, Rocco hanya melihat ponselnya saja sembari menunggu Lavia.


TING ...


Terdengar pintu lift terbuka dan Rocco kembali melihat ke arah lift.


Dan kali ini ada Lavia yang keluar dari lift itu dan berjalan bersama dengan teman kerjanya yang lain.


Rocco berdiri ketika Lavia keluar dari lift. Lavia melihat Rocco dan tersenyum pada pria tampan itu.


"Kau sudah menungguku sejak tadi?" tanya Lavia.


Rocco mengangguk dan kemudian menggandeng tangan Lavia hingga Lavia duduk di sofa yang yang ada di lobby itu.


"KIta akan menunggu siapa lagi?" tanya Lavia ketika Rocco menyuruhnya untuk duduk.


"Tak menunggu siapa pun," jawab Rocco yang kemudian duduk berlutut di depan Lavia.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Lavia ketika masih banyak pegawai yang berlalu lalang di lobby itu.


Rocco kemudian mengeluarkan cincin itu dari kantong jas nya.


"Will you marry me, Honey?" ucap Rocco yang membuat Lavia terkejut dengan lamaran yang mendadak ini.


Begitu juga dengan para pegawai yang otomatis menghentikan langkahnya untuk melihat kejadian langka itu.

__ADS_1


__ADS_2