FROM ROOMMATE TO SOULMATE

FROM ROOMMATE TO SOULMATE
Bab 48


__ADS_3

Lavco 48


"Good morning," bisik Rocco ketika melihat sang istri membuka matanya setelah semalaman membuatnya panik.


Lavia tersenyum tipis dan mencerna apa yang terjadi semalam.


"Siapa yang melakukannya? Apakah Sammy dan Becca?" tanya Lavia.


"Bukan mereka, tapi Maryla yang melakukannya," sahut Rocco.


"Lalu? Apa yang terjadi padanya sekarang?" tanya Lavia.


"Dia sudah dipenjara dan kupastikan tak akan keluar dengan mudah karena dakwaannya adalah percobaan pembunuhan berencana," sahut Rocco.


"Seharusnya aku menyiksanya dulu sebelum dia tidur nyenyak di penjara," ucap Lavia lirih.


"Istirahatlah," ucap Rocco yang kemudian mengecup bibir Lavia.


"Lukanya tak begitu dalam sepertinya," ucap Lavia.


"Ya, tapi kau tetap harus istirahat," sahut Rocco dan mengusap kepala Lavia yang tidurnya miring karena luka itu ada di bahu belakang.


"Aku ingin cepat pulang," ucap Lavia.


"Dokter belum mengizinkannya," sahut Rocco.


"Aku akan bosan di sini," kesal Lavia.

__ADS_1


"Aku dan Mommy akan menemanimu di sini," jawab Rocco dan menciumi punggung tangan Lavia.


"Di mana Mommy?" tanya Lavia.


"Baru saja pulang setelah semalaman menemaniku di sini. Nanti sore akan kemari lagi," jawab Rocco sembari mengusap lembut pipi Lavia.


Lavia melihat wajah sendu Rocco yang pastinya semalam sangat mengkhawatirkan keadaannya.


"I love you," ucap Lavia memegang pipi Rocco.


"I love you so much. A hundred hearts would be too few to carry all my love for you," sahut Rocco dengan lirih dan membuat Lavia tersenyum tipis sembari mengusap lembut pipi sang suami.


(100 hati pun masih terlalu sedikit untuk membawa semua cintaku padamu)


*


*


Dan Lavia tampaknya sangat betah tinggal di Bern di mana mansion besar keluarga Robert ada di sana.


Bagaimana kabar Maryla? Wanita itu mendapatkan hukuman 15 tahun penjara dan bahkan Rocco masih berusaha membuatnya menjadi dua puluh tahun karena ia ingin wanita itu tak keluar dari penjara.


Rocco sudah mengantisipasi jika pun Maryla bebas nanti, ia akan mengasingkan wanita itu kesebuah pulau terpencil agar tak mengganggunya lagi. Rocco hanya mencegah kemungkinan terburuk karena takut Lavia dan mungkin calon anak-anaknya nanti berada dalam bahaya.


Kini Lavia sedang hamil dan usia kandungannya sekitar delapan minggu. Itu artinya, ketika dirinya tertembak, benih Rocco sudah mulai bekerja di dalam kandungan Lavia. Dan Rocco bersyukur itu tak berpengaruh pada kandungan Lavia karena kondisi Lavia yang cukup kuat dan sehat.


*

__ADS_1


*


"Apakah aku harus membuat tato di bahuku untuk menutupi bekas luka tembakan itu?" tanya Lavia ketika ia dan Rocco sedang mandi bersama di dalam bathtub.


Rocco mengecup bekas luka di bahu Lavia itu dan tertawa kecil.


"Boleh saja. Bagaimana jika kupu-kupu atau bunga mawar?" sahut Rocco.


"Itu terlalu biasa. Bagaimana jika gambar pistol? Itu akan sangat keren," ucap Lavia.


Rocco tertawa kembali dan membalik tubuh Lavia hingga berhadapan dengannya.


"Kau masih hamil dan lakukan itu setelah melahirkan saja," sahut Rocco lalu mengecup bibir Lavia yang basah.


Lavia mengangguk dan memagut bibir Rocco dengan mesra.


"Oh ya, apakah Sammy dan Becca jadi menikah?" tanya Lavia.


"Ya, mereka sudah menyesali perbuatan mereka dan kini mereka tinggal di sebuah kota kecil di Inggris. Kau masih tak ingin menemui Paman?" tanya Rocco.


"Tidak, lebih baik kami tak pernah bertemu. Aku sudah memaafkan mereka dan kau benar, aku lebih tenang jika tak memikirkan mereka lagi," jawab Lavia tersenyum dan kembali memagut bibir Rocco.


Lalu seperti biasa, mereka pun melanjutkannya dengan adegan panas di siang yang cukup dingin di Bern yang kini suhu di luar mencapai minus 1 derajat.


"I love you," ucap Lavia tersenyum cantik.


"Seeing your smile is happiness for me. Meanwhile, having you is the most beautiful gift in my life," sahut Rocco.

__ADS_1


(Melihat senyummu adalah kebahagiaan bagiku. Sementara, memilikimu adalah hadiah yang paling indah dalam hidupku)


TAMAT


__ADS_2