
Bab 19 LavCo
Rocco membawa Lavia masuk ke dalam ruangannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rocco.
"Ada apa? Aku tak melakukan apa-apa. Apa karena kecupan itu?" sahut Lavia yang kemudian duduk santai di sofa.
"Kau membuat semuanya menjadi rumit dengan sikapmu itu, Lavia," ucap Rocco.
"Rumit? Aku bersikap selayaknya tunanganmu, Honey," sahut Lavia.
"Stop, Lavia!! Hentikan sandiwara ini, please," kata Rocco membentak Lavia.
Lavia kemudian beranjak berdiri dan pergi berjalan menuju pintu tapi Rocco menahan tangan Lavia.
"Aku akan ke ruang HRD untuk meminta pekerjaanku," ucap Lavia.
"Pulanglah," ucap Rocco yang sudah tak bisa menghadapi sikap Lavia yang semakin lama semakin seenaknya sendiri karena hak istimewa yang diberikan Velvet pada Lavia.
"Tidak," ucap Lavia.
"Lavia, bisakah kau tak keras kepala? Kita hanya dua orang asing yang dipersatukan karena jebakan gila ibuku dan juga karena Sammy. Hentikan ini dan kita bisa berteman tanpa ada motif apa pun lagi dalam pertemanan kita," jawab Rocco.
"Kau bukan temanku," jawab Lavia melepaskan tangannya dari genggaman Rocco.
Rocco tetap tak melepaskan tangan Lavia dan menataonya tajam.
"Let me go," ucap Lavia.
"Tak perlu keluar dan bantu aku di sini saja," jawab Rocco yang akhirnya mengalah pada wanita keras kepala ini.
Lavia masih diam hingga akhirnya Rocco melepaskan tangannya.
"Duduklah di sana," ucap Rocco menunjuk ke arah kursi yang ada di sebelah meja kebesarannya.
Lavia kemudian berjalan menuju ke arah meja yang ditunjukkan oleh Rocco.
Kemudian Lavia langsung duduk di sana dan memutar kursinya.
"Di sini cukup nyaman. Terima kasih," kata Lavia dan melihat ke arah jendela raksasa di ruangan itu.
Rocco pun berjalan ke arah mejanya dan menelepon seseorang.
"Bawakan semua dokumen yang belu dikerjakan," ucap Rocco pada Warren.
"Baik, Tuan," jawab Warren melalui sambungan telepon.
Tak lama kemudian Warren dan salah satu staf membawa 2 tumpuk dokumen setinggi setengah meter.
"Taruh di mejanya," ucap Rocco menunjuk ke arah meja Lavia.
Lavia menoleh ke arah mejanya dan keningnya berkerut melihat segunung dokumen itu.
"Kau sengaja melakukan hal ini padaku?" tanya Lavia.
__ADS_1
"Kau yang memintanya. Kau ingin harimu penuh dengan kegiatan, bukan? Aku mengabulkan permintaanmu," jawab Rocco dan mulai duduk mengerjakan pekerjaanya sendiri.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Lavia.
"Reese akan mendampingimu dan memberi tahu apa saja yang harus kau lakukan dengan dokumen itu," jawab Rocco tanpa melihat ke arah Lavia.
Warren keluar dari ruangan Rocco dan Reese tampak memberi tahu apa saja yang harus dikerjakan oleh Lavia.
Lavia berusaha fokus bekerja meskipun sebenarnya pekerjaan ini tak asing baginya.
Se-fokus-fokusnya Lavia, tapi dia tetap akan jenuh ketika melihat dokumen sebanyak itu di depannya.
"Kau sengaja membuatku tak ingin bekerja di sini lagi, kan?" ucap Lavia.
"Hmm," jawab Rocco apa adanya.
"Kau tak akan bisa melemparku keluar karena aku akan selalu menempel padamu," jawab Lavia.
Rocco tak menjawab apa pun dan Lavia pun melanjutkan pekerjaan barunya itu.
Lavia cukup cepat belajar dan Reese masih menemaninya di sana. Lavia pun mengerjakan pekerjaannya sambil mengobrol ringan dengan wanita iti.
"Berapa usiamu, Reese?" tanya Lavia.
"27 tahun," jawab Reese ramah karena wanita yang dihadapinya adalah calon nyonya besar baru di dalam keluarga Robert.
"Kukira kau masih 20 tahun. Wajahmu sangat imut," kata Lavia yang membuat pipi Reese bersemu merah.
"Anda membuatku malu, Nona," jawab Reese.
"Ya, kami akan menikah dua bulan lagi," jawab Reese.
"Woow, aku ikut bahagia untukmu. Apakah itu cincinnya?" tanya Lavia sembari memegang jari manis Reese yang tersemat cincin emas di sana.
Reese mengangguk dan tersenyum.
"Kau pasti bahagia," ucap Lavia melihat ke arah wajah Reese yang sumringah.
"Ya, aku sangat bahagia. Kami saling mencintai," jawab Reese.
"Dia bekerja di mana?" tanya Lavia yang memabg sangat suka bersosialisasi dengan banyak orang.
"Di perusahaan seberang. Kami bertemu ketika makan siang di restoran seberang. Di sana banyak berkumpul para pegawai dari beberapa perusahaan di daerah sekitar sini," jawab Reese panjang lebar yang sudah merasa nyaman.
"Pasti sangat menyenangkan makan di sana karena akan banyak teman baru yang bisa kita temui. Nanti aku ikut kau makan siang bersama di sana, oke?" ucap Lavia antusias.
"Cepat kerjakan pekerjaan kalian," ucap Rocco yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan normal para wanita.
Lavia tak melihat ke arah Rocco dan mengabaikan pria itu.
"Oh ya, Reese. Apakah kau memiliki sekelompok teman di sini?" tanya Lavia.
Reese mengangguk dan tersenyum sumringah karena merasa mendapat teman baru yang sifatnya tak jauh berbeda darinya.
Dan teman barunya memiliki nilai plus yaitu calom istri sang bos.
__ADS_1
"Kalian pergi bersama setiap makan siang?" tanya Lavia lagi.
"Ya, kami berenam dan ada 2 pria juga dalam kelompok kami," jawab Reese.
"Waaah itu menyenangkan. Pasti kalian sangat seru karena bicara denganmu saja sudah membuatnya senang, apalagi jika bersama teman-temanmu yang lain," kata Lavia.
"Kau kemari untuk bekerja atau bercerita, Lavia?" tanya Rocco dengan wajah seriusnya.
Lavia berdecak dan melihat wajah Rocco.
"Semakin lama wajahmu semakin menakutkan. Padahal kemarin kau ramah padaku," sahut Lavia.
Reese merasa tak enak dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Selesaikan tugasmu," sahut Rocco.
"Tidak. Terserah aku mau menyelesaikan atau tidak," jawab Lavia mencebik.
Lalu Lavia mengarahkan bibirnya ke telinga Reese.
"Abaikan pria menyebalkan itu," bisik Lavia.
Reese hanya mengangguk saja tanpa berani melihat ke arah Rocco -- big boss-nya.
Lalu mereka berdua kembali mengerjakan tugasnya yamg bejibun itu hingga akhirnya jam makan siang tiba.
"Ayo cepat. Nanti teman-temanmu meninggalkan kita," kata Lavia mengambil tasnya dengan gerakan terburu-buru.
"Siapa bilang kau boleh keluar?" ucap Rocco.
Lavia melihat ke arah Rocco.
"Kau pikir aku akan menurutimu, Honey? Never ever," sahut Lavia dan menarik tangan Reese menuju ke arah pintu.
"Jika kau keluar dari pintu itu maka jangan kembali kemari," ucap Rocco memperingatkan.
Lavia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rocco.
"Who cares?" sahut Lavia tak peduli.
Lavia seakan mendapat hiburan baru dengan bertemu Reese. Sesaat dia lupa permasalahannya dengan Rocco dan Sammy.
Lavia dan Reese keluar dari ruangan Rocco.
"Anda yakin Tuan Rocco tak akan marah padaku?" tanya Reese.
Lavia merangkul bahu Reese yang tinggi badannya lebih pendek dari Lavia.
"Jangan bicara formal padaku. Biasa saja, oke? Dia tak akan marah dan ia pria penurut. Aku hanya perlu memberinga ciuman saja agar ia tak marah," jawab Lavia.
Reese tertawa mendengar ucapan Lavia.
"Semua pria sama saja ternyata," kata Reese.
Lalu mereka berjalan menuju ruangan teman-teman Reese untuk mengajak mereka makan siang bersama Lavia.
__ADS_1