FROM ROOMMATE TO SOULMATE

FROM ROOMMATE TO SOULMATE
Bab 27


__ADS_3

Bab 27 (LavCo)


Lalu Rocco menggendong Lavia meskipun sang mommy melarangnya karena Velvet masih ingin berbicara secara mendalam dengan Lavia.


Lavia seakan tampak bersembunyi di dalam pelukan Rocco dan Rocco membawanya keluar dari mansion orang tuanya.


Rocco menggelengkan kepalanya pada Velvet seolah mengatakan bahwa dirinya lah yang akan bicara pada Lavia nanti.


Damon menahan tubuh Velvet yang ingin mengejar Rocco.


"Biarlah Rocco yang menanganinya. Bukankah kau ingin melihat mereka bersama? Mungkin ini saatnya," ucap Damon mengecup kepala Velvet.


"Tapi aku masih khawatir dengan kondisi mentalnya. Dia terlalu lama sendiri," sahut Velvet.


"Rocco sudah mengerti situasinya jadi dia cukup bisa bagaimana cara mengatasinya dan Rocco tak akan membiarkan Lavia pergi dalam keadaan seperti itu," ucap Damon.


Velvet mengangguk dan Damon memeluknya.


"Terima kasih," ucap Velvet.


"Aku ingin melakukan seperti apa yang dulu daddy dan mommy lakukan untuk membantuku," lanjut Velvet.


"Dan kau merasa seperti Dejavu setelah melihat Lavia?" tanya Damon.


"Ya, jaga dia, Honey. Jangan lepaskan pengawasanmu dari Lavia dan Rocco. Jangan sampai Lavia pergi dari kita," ucap Velvet.


"Rocco bisa melakukan itu sendiri. Percayalah padanya. Kita sangat mengenal putra kita, Baby," ucap Damon.


"Hmm," sahut Velvet sembari mengangguk.

__ADS_1


*


*


Rocco membawa Lavia ke dalam mobilnya dan membawa Lavia pergi dari sana.


Lavia masih menutup wajahnya.


Lima belas menit perjalanan, Lavia masih tak bicara apa pun dan masih diam.


Rocco menghentikan mobilnya di pinggir danau. Pria itu membuka atap mobilnya hingga akhirnya terbuka sempurna.


Lalu pria itu memegang tangan Lavia dan membuka tangan yang menutupi wajah cantiknya itu.


"Jangan, jangan melihatku," ucap Lavia pelan dan menghindari tatapan dengan Rocco.


Lavia menggeleng dan tak mau melihat ke arah Rocco.


"Dengarkan kata mommy. Kau harus tinggal bersamaku karena aku tak akan membiarkanmu pergi," ucap Rocco.


"Itu karena kau mengasihaniku, Rocco. Aku tak suka dikasihani. Itu adalah kelemahanku. Aku tak suka dikasihani karena membuatku merasa sangat rendah," sahut Lavia.


Lalu Rocco menarik sedikit keras tangan Lavia hingga akhirnya wajah Lavia terbuka dan Rocco langsung menangkup pipinya.


Matanya merah dan penuh air mata.


"Jangan melihatku. Aku tak suka se-menyedihkan ini," ucap Lavia lirih.


"Aku sudah melihatnya. Aku hanya ingin tahu sisi rapuh-mu dan tak pernah menganggapmu rendah," kata Rocco.

__ADS_1


"Don't cry because it's over. Tapi aku akan menemanimu jika kau ingin menangis," ucap Rocco dan membuat Lavia agar melihat ke arah matanya.


Mata Lavia menyipit dan air matanya kembali keluar.


Dia tak bisa menahan tangisnya lagi dan kini sisi rapuhnya benar-benar rapuh.


Lavia bahkan sampai sesenggukan ketika mengeluarkan tangisan yang tadi di tahannya.


Bahunya bergetar dan tak bisa bicara apa pun lagi.


Rocco memeluknya erat dan tangisan Lavia semakin keras seakan dia menuangkan semua emosinya di bahu Rocco.


Rocco pun hanya memeluknya tanpa mengatakan apa pun lagi.


Dia hanya menunggu Lavia lebih tenang dan setidaknya Lavia bisa cukup lega karena telah meluapkan emosi yang membuncah di dalam hatinya selama ini.


Setelah Lavia tenang, Lavia melepaskan pelukan Rocco dan Rocco mengambil tisu lalu membersihkan wajah Lavia yang penuh air mata.


Lavia mengambil tisu itu lalu mengusapnya sendiri ke wajahnya yang sudah membengkak dan sembab.


Lavia masih diam tak mengatakan apa pun.


Rocco menyalakan mesin mobilnya dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Lavia melihat ke arah luar mobil dan rambut panjangnya tertiup angin.


Rocco memencet tombol penutup atap mobil tapi Lavia menahan tangannya.


"Jangan menutupnya. Berjalanlah perlahan," ucap Lavia.

__ADS_1


__ADS_2